Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Ada Yang Salah ?


__ADS_3

Jehan bangun dari tidurnya pukul 3 dini, memang cukup pagi, semua itu terjadi karena Hanna. Gadis itu membangunkannya dengan paksa, dan bahkan tanpa merasa bersalah gadis itu meminta Jehan untuk mengantarkannya pulang, Jehan sudah mencoba untuk bertanya namun Hanna tak menjelaskan apa-apa. Gadis itu hanya minta di antaranya untuk pulang.


"Kenapa si lu minta pulang pagi-pagi buta, toh pada faktanya Lo tidur juga kan" Jehan berucap ketus, gadis itu membaringkan tubuhnya di sofa panjang di kamar Hanna sambil melihat temannya yang sedang berbaring di ranjang itu.


"ngga papa, lagi pengen pulang aja" ucap gadis itu tanpa memikirkan ekspresi Jehan yang sudah tak enak di lihat.


"What ? Lo bahkan belum pamit sama orang tua gw" menurut Jehan tingkah temannya itu sangat aneh, sangat jarang Hanna pergi begitu saja tanpa pamit ke orang tuanya ketika sedang menginap.


"Lo aja nanti sampaikan salam gw buat mereka" ucap Hanna tanpa berfikir panjang, bukannya orang tua Jehan baik, pasti tak akan mempermasalahkan hal tersebut.


"Aneh banget Lo sumpah" Jehan berjalan ke ranjang Hanna dan ikut merebahkan tubuhnya di sana, tidur di sofa ternyata sangat tidak enak, meskipun sofa itu terbuat dari bahan yang lembut.


"Udah lah Je, capek gw mau tidur aja" gadis itu memejamkan matanya, mengabaikan ucapan Jehan yang seperti mengintrogasi nya.


"Lo mau pulang sekarang ?" Hanna duduk di meja makan sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, kedua gadis itu saat ini sedang makan di meja makan bersama. Jam menunjukkan pukul 7 pagi, hari ini adalah hari libur sehingga mereka tidak bekerja.


"maybe"


"ngapain juga Lo di rumah, paling juga cuma rebahan" ucap Hanna, yang memang benar seperti itulah faktanya. Ketika hari libur kerja Jehan memang akan tidur seharian di rumah.


"Biarin aja sih, lagian kita itu cuma punya waktu 1 hati untuk istirahat selama seminggu, besoknya aja pekerjaan kita udah padat banget" ucap Jehan, gadis itu menghabiskan makanannya dengan cepat, lalu membawa piring ke wastafel untuk di cuci.


"hati-hati" Jehan hanya mengangguk, gadis itu pergi dari rumah Hanna, melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Tidak butuh waktu lama, mobilnya mulai memasuki pekarangan rumah nya.


Turun dari mobil, Jehan segera masuk ke dalam rumah, gadis itu berpapasan dengan kakak nya di ruang tamu, laki-laki itu sudah rapi dengan Jaz kerja. Mungkinkah laki-laki itu bekerja di hari libur ?


"Dari mana ?"


"Habis nganterin Hanna pulang"


"Jam berapa keluar ?" Jehan mengernyitkan dahi, kenapa kakak nya jadi kepo begini. Namun karena tak tahan terus berdiri, Jehan pun menjawabnya dengan cepat.


"3 pagi"


"Sepagi itu ?"

__ADS_1


"Aku ngga tau, Hanna minta di antarin jam segitu" Jehan langsung berlalu begitu saja, gadis itu ingin cepat-cepat mandi dan mencuci mukanya.


Selesai membersihkan diri, Jehan kembali duduk di atas ranjangnya, gadis itu membuka


macbook canggih nya, gadis itu membuka video drama yang sangat dia sukai.


Mungkin menghabiskan waktu seharian dengan menonton drama bukan ide yang buruk.


Drttt, handphone berdering menandakan ada panggilan masuk, gadis itu mengambil handphone nya dengan malas, nama Hanna tertera di depan layar, gadis itu berdecak. Tingkah temannya itu memang sangat menyebalkan.


"Apa ?" tanya Jehan tanpa basa-basi.


"Nanti malam keluar ya" ucap gadis itu di seberang sana


"Kemana ?"


"ketemu sama Arga dll nanti pake mobil gw aja, gw jemput"


"Jam berapa ?"


***


Saat ini Jehan sedang berada di meja makan bersama seluruh keluarga nya, gadis itu baru saja menyelesaikan makan malamnya, dia meminta izin kepada orang tuanya untuk keluar, tanpa menunggu anggota keluarga yang lain selesai makan.


"Pa nanti Je mau keluar sama Hanna" ucap Jehan sambil menyuapkan buah jeruk ke dalam mulutnya.


"Mau kemana ?" tanya papa Jehan


"Mau kumpul aja sama teman-teman"


"Laki-laki ?" bukan papa Jehan yang bertanya, melain kakak Jehan yang saat ini sedang menyelesaikan makanannya.


"Ada juga yang laki-laki" jawab Jehan


"Yaudah yang penting hati-hati, jangan pulang terlalu malam" Jehan mengangguk.

__ADS_1


Bibi datang mengatakan jika Hanna telah datang, gadis itu menunggunya di ruang tamu, Jehan segera beranjak ke kamar nya untuk bersiap.


Mama dan papa Jehan berjalan ke ruang tamu untuk menemani Hanna, tinggallah Alarick sendiri di ruangan itu, laki-laki itu mengambil handphone nya, memeriksa nya sebentar, lalu laki-laki itu berdiri sambil matanya tak lepas dari handphone nya.


"Memang orang tuamu belum pulang nak ?"


"Belum tante mereka hanya sibuk dengan pekerjaan mereka, mana ingat jika putrinya sudah sebesar ini"


Alarick menghentikan langkahnya, laki-laki itu melirik seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu, bertepatan dengan Hanna yang melihat ke arahnya.


Laki-laki itu menatap penampilan Hanna dengan tajam, gadis itu mengenakan atasan crop dengan celana panjang. Pakaian itu membuat perut Hanna terlihat meski sedikit. Tampaknya gadis itu ingin memamerkan tubuhnya, apalagi kata Jehan mereka akan bertemu dengan teman laki-laki.


Ntah kenapa melihat itu Al merasa tidak suka, laki-laki itu pergi meninggalkan Hanna yang bahkan tak melepaskan tatapannya dari laki-laki itu yang mulai naik ke lantai atas.


Jehan turun dari tangga, gadis itu berpapasan dengan Alarick yang ingin naik, Jehan menggunakan sweater rajut berwarna putih dengan celana kain berwarna biru.


"Kalau mau keluar itu pakai baju yang bener, jangan kaya orang ngga pakai baju" Jehan mengangkat alisnya mendengar itu, maksudnya apa ?


Bukankah baju yang dia kenakan memang berbahan rajut, tentu saja tubuh atas nya tercetak meski tidak terlalu ketat, gadis itu semakin tak mengerti ketika kakak nya itu masuk ke kamarnya sambil menutup pintu cukup keras. Jehan memilih tak peduli, gadis itu turun menghampiri temannya.


"Kakak kamu kenapa Je ?" tanya mama Jehan


"Maksudnya ?"


"Tadi dia teriak gitu" rupanya suara kakak nya itu terdengar sampai bawah, Jehan hanya menggeleng tak mengerti.


"Ngga tau ma, lagi pms kali"


"Kamu itu"


"Udah Je pergi dulu ma pa" Jehan bersalaman ke kedua orang tuanya diikuti oleh Hanna, dua gadis itu berjalan ke arah mobil Hanna yang sudah terparkir di halaman rumah Jehan.


Mereka masuk ke dalam mobil, suasana hening kembali melanda, nampaknya Hanna terganggu dengan ucapan kakak temannya itu, gadis itu terdiam sambil memperhatikan penampilannya yang memang tidak biasa.


Biasannya gadis itu memakai Hoodie tebal atau jaket, tapi karena suasana nya sedang gerah gadis itu memilih pakaian pendek.

__ADS_1


__ADS_2