
"Bi tolong putar airnya ya" Jehan berteriak pada bibi yang sedang menyapu halaman, di tangan gadis itu terdapat selang air, Jehan berniat untuk menghabiskan waktu nya di rumah pagi ini, merawat tanaman miliknya dan membersihkan rumah.
"Iya non" Sahut bi Sumi sambil ikut berteriak, Jehan menyiram setiap pot bunga yang berada di hadapannya.
"Kamu ngga sekolah nak" Jehan menggeleng, mama nya sekarang berdiri tak jauh darinya dengan penampilan rapi.
"Kenapa, bukannya ini bukan hari libur ?"
"Acara kelas 12 ma, kan kelas 12 sebentar lagi lulus, ini para guru lagi bahas acara perpisahan, daripada kelas ngga ada yang ngajar mending di liburkan kan. Para guru juga kaya yang antusias banget buat ngadain acara besar-besaran" Jehan menyiram bunga sampai bunga yang berada di ujung. Gadis itu memang mengoleksi banyak bunga di halaman depan.
"Hari ini kamu ada acara buat pergi ?" tanya mama Jehan
"Ngga ma, capek mau istirahat di rumah aja, kelas 11 ini banyak banget aktivitas mana Jehan ikut organisasi yang aktif banget kumpulan." Jehan mengeluh kepada mama nya, karena memang selama ini dia hanya bisa mengeluh masalah sekolah kepada orang terdekatnya.
"Untung bentar lagi naik kelas, jadi tinggal fokus sama ujian aja" lanjut Jehan
"Mama mau pergi ?" tanya Jehan
"Iya, ngga lama kok paling siang juga udah pulang" mama Jehan menjawab sambil berlalu ke arah mobil.
"Hati-hati ma" teriak Jehan
"Iya, kamu mau di bawain sesuatu ?" tanya mama Jehan
"Buah aja" jawab Jehan
"Oke" Jehan kembali melanjutkan kegiatannya
"Gila, berapa tahun ngga gw rawat ini bunga jadi jelek semua gini" Jehan melihat bunga nya yang terlihat sangat jelek, karena daun nya rontok. Gadis itu memang melarang para pembantu rumahnya untuk memasuki area taman nya, tidak menyangka ternyata bunga koleksinya jadi terbengkalai seperti ini.
__ADS_1
"Tau gini gw suruh rawat bibi, pasti bisa lebih cantik dan subur" Jehan menggerutu sendirian di taman itu, karena jarak nya dari bi Sumi memang lumayan jauh.
"Jehan" gadis itu menoleh dengan posisi jongkok, karena sedang membersihkan daun di pot yang bertebaran, sedetik kemudian dia tersentak saat melihat dua laki-laki tak asing di hadapannya.
"Ngapain kalian kesini" tanya Jehan dengan ekspresi terkejut. Dua laki-laki di depannya itu tampak diam selama beberapa detik, menatap nya intens, Jehan melihat dirinya sendiri dan tersenyum canggung saat menyadari dirinya memakai celana jeans di atas lutut, dan juga kaos tanpa lengan.
"Maaf Lo kaget ya, gw cuma mau main sih hehe" ucap Fauza sambil terkekeh, Jehan mendengus, namun tak menjawab dan kembali berjongkok melanjutkan kegiatannya.
"Ngga ada niatan buat keluar Je ?" Fauza kembali bertanya, tak enak sebenarnya kepada gadis itu, seharusnya tadi sebelum dia datang dia meminta izin terlebih dahulu kepada Jehan, namun dia sudah terlanjur datang mau bagaimana.
"Males" jawab Jehan singkat
"Tau rumah gw dari mana ?"
"Bukannya gw pernah ngater lo pulang sekolah ya ? waktu itu lagi hujan, pas lo kayak nangis itu loh" Jelas Fauza.
"Gw ngga nangis ya" tandas Jehan memberitahu
"Trus sekarang kamu ngapain kesini" Jehan berjalan meninggalkan kedua orang itu untuk mematikan air.
"Mau main sama kamu" Jawab Fauza, sedangkan Dion laki-laki itu hanya diam mendengar interaksi Jehan dan Fauza.
"Eh tapi tunggu deh, bukannya temen Lo itu kelas 12 ya, kok dia bisa ngga masuk sekolah" tanya Jehan bingung, gadis itu menatap Dion yang memperhatikan mereka dari jauh.
"Bolos dia mah" jawab Fauza, Jehan mengernyitkan dahi, Fauza yang mengerti jika Jehan bingung pun mulai menjelaskan lebih detail.
"Dia emang anaknya rada nakal, suka berkelahi, ribut sana-sini. Dan paling suka bolos dia mah, untung aja dia bisa lulus sekolah" ucap Fauza.
"Tapi keliatannya, dia pendiam" Jehan menjawab sekaligus membantah, karena memang sedikit tidak percaya.
__ADS_1
"Iya kalau ketemu Lo, tadi sebelum kesini aja dia ngomong terus ngga berhenti. Maybe dia suka sama Lo" Jehan semakin mengernyit tak percaya dengan ucapan itu.
"becanda aja sih Lo, mana mungkin dia suka sama gw" jawab Jehan tak percaya.
"Mungkin, bisa aja kan. Siapa si yang ngga suka sama Lo, Lo itu cantik Je, pintar lagi. Andai gw playboy mungkin juga gw suka sama Lo. Tapi ya gw lebih suka kalau jadi temen Lo hehe" ucap Fauza cengengesan, Jehan masih diam, tidak ingin memikirkan hal yang baginya sangat mustahil itu.
"terserah deh mau ngomong apa, gw mau ke dalam dulu, Lo mau di buatin minum apa ?" tanya Jehan dengan ekspresi datar.
"Apa aja asal tidak mengandung racun"
"Ngapain gw ngeracunin Lo ngga ada gunanya banget" ucap Jehan ketus, gadis itu memilih berjalan ke arah rumahnya dan masuk ke dalam kamar untuk menganti baju.
Setelah selesai, Jehan melihat tampilan dirinya di cermin, saat ini gadis itu memakai celana kain yang panjang, dan juga baju longgar yang lengannya di atas siku.
Gadis itu melihat Fauza dan Dion sudah duduk di sofa dengan dua gelas minuman di meja. Jehan turun menghampiri dua teman barunya.
"Gw boleh pinjam kamar mandi ngga Je, sumpah ngga nahan" tanya Fauza sambil berdiri. Jehan menunjukkan kamar mandi kepada Fauza di lantai bawah, setelah Fauza pergi Jehan duduk di hadapan Dion yang menatapnya intens.
Tidak ada suara apapun dari Jehan maupun Dion, mereka nampak terdiam dalam keheningan, sebelum Dion yang memilih bersuara terlebih dahulu.
"Boleh kita berteman ?" tanya Dion, Jehan mengernyit bukannya saat ini mereka sudah berteman ?
"Bukannya kita udah temenan ?" tanya Jehan karena tak mengerti.
"Beda, maksud gw. gw ingin kita lebih dekat lagi" ucap Dion pelan, Jehan masih berusaha mencerna arti dari ucapan itu.
"Ngga ngerti ya ?" Jehan menggeleng karena memang dia tak paham akan arti ucapan itu.
"Kalau semisal gw ngajak lo main berdua tanpa Fauza Lo mau kan ?" tanya laki-laki itu, Jehan menghela nafas, baiklah dia mengerti apa maksud laki-laki di hadapannya ini.
__ADS_1
"Boleh, asal gw ngga sibuk aja sih" jawab Jehan seadanya karena melihat Fauza yang terlihat berjalan ke arah mereka, Dion pun kembali diam, tak lagi berbicara kepada Jehan.