Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Terluka


__ADS_3

"kalian tau ngga si, pak Egan diam-diam galak banget, aku kan di suruh edit beberapa konsep jaringan, nah aku nya ngga bisa. Dia nya marah katanya aku itu anaknya susah trus aku di kasih hukuman suruh memahami cara pengeditan selama seminggu mana kerjaannya sehari bisa 3 jam menghadap komputer. Jengkel banget tau ngga." Rani mengaduk makanan di hadapannya dengan raut wajah kesal.


"makanya belajar, saingan lo itu banyak, termasuk gw sama Juna juga, lo si di ajarin ngga paham-paham kan jadinya kita capek ngejelasinnya." Franco menyahut, Rani menekuk wajahnya, gadis itu semakin murung mendengar ucapan Franco.


"kan aku memang lemah di bidang itu" jawab Rani kesal, dia mengebrak meja karena jengkel, mengingat ucapan pak Egan yang menohok hati nya membuat kekesalan nya naik.


"biasa aja ngga usah ngegas" ucap Franco dengan nada tinggi. Suasana kantin jadi berisik dengan ocehan kedua teman Juna. Juna sendiri tidak memperdulikan ocehan kedua temannya, dia tampak menyesap minuman yang dia pesan sambil sesekali menatap ke depan.


jantung Juna berdetak kencang ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata gadis di depannya, gadis itu terlihat menatap nya sambil mengernyitkan dahi. Namun sedetik kemudian gadis itu membuang muka dan kembali menatap laki-laki tampan di samping nya.


Juna menahan hati nya agar tidak kembali terluka, walau dia merasakan sakit setiap melihat tatapan gadis di depannya, tatapan penuh kebingungan dan sedikit tatapan yang Juna artikan seperti kebencian.


"Jehan, kamu ada acara nanti malam ?" tanya laki-laki di samping Jehan.


"ngga, kenapa memang, mau ajak aku jalan ya" Jehan terkekeh, dia menatap Fauza dengan senyum tipis, sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Fauza tersenyum, walaupun banyak gadis yang selama ini nekat mendekati dan berusaha mendapat tanggapan dari nya namun Jehan adalah gadis yang berbeda, terlihat anggun dan tenang.

__ADS_1


"GR banget si hem" Fauza menarik hidung Jehan dengan gemas, mereka berdua kembali tertawa, sedangkan Arjuna laki-laki itu menunduk menyembunyikan mata nya yang terasa panas karena air mata yang coba dia tahan. Sungguh melihat seseorang yang kita cintai dekat dengan laki-laki lain itu teramat sangat menyiksa. Apalagi dalam keadaan Jehan yang tak lagi mengenalnya itu membuat hati Juna terasa di tusuk oleh pisau tak kasat mata.


"ya ngga papa lah, lain kali ajak aku jalan. Gimana si, lagian tadi kamu tanya aku sibuk ngga ya aku pikir kamu mau ajak aku jalan." ucap Jehan, dia nampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menatap Fauza.


"cie yang pengen banget aku ajak jalan" Fauza tertawa, Jehan cemberut, karena kesal melihat Fauza yang terus tertawa Jehan pun menarik tangan Fauza dengan kuat sehingga laki-laki itu menabrak tubuhnya, Jehan mematung saat Fauza mencium pipi nya.


"Jehan, suka sama aku boleh tapi ngga gitu caranya" ucap Fauza dia menjitak dahi Jehan membuat gadis itu mengaduh, Juna mengebrak meja karena kesal, laki-laki itu berdiri dengan wajah datar, lalu melangkah ke arah Jehan menarik tangan gadis itu dan mengendong nya dengan cepat.


"eh" Jehan mengalungkan tangan nya di leher Juna, gadis itu berontak namun Juna menepuk paha nya membuat nya terdiam.


"Za tolong aku, ada laki-laki gila ini" Fauza ingin berlari mengejar Jehan namun Franco menahan lengan nya dan mengunci lengan Fauza agar tidak dapat mengejar Juna, sedangkan Rani yang melihat aksi kedua temannya itu tampak melongo, gadis itu menggaruk kepala nya karena bingung.


"lepas" Jehan terus berteriak, gadis itu memukuli tubuh Juna karena kesal. Juna menurunkan tubuhnya ketika sampai di depan lab, Jehan bersiap untuk menampar laki-laki itu, namun tanpa Jehan sangka kini laki-laki itu malah mendorong nya sehingga tubuh Jehan membentur tembok, lalu mencium bibirnya dengan rakus, Jehan memberontak namun Juna mengunci tangan nya.


laki-laki itu menyusuri bibir nya menggunakan lidah, Jehan semakin benci dengan laki-laki di depannya. Jehan mendorong kuat laki-laki di depannya lalu menampar laki-laki itu, mata Jehan berkaca-kaca. Juna terluka melihat tatapan Jehan yang sendu tapi dia lebih terluka ketika melihat Jehan yang tak mengenalnya, dia tidak bisa. Sekuat apapun dia menahan diri, tetap seorang Jehan berkontribusi besar atas hidupnya.

__ADS_1


"MAU KAMU APA SI HAH" Jehan berteriak histeris, gadis itu mengusap kasar bibirnya, merasa jijik dengan laki-laki di depannya yang terlihat berambisi kepadanya.


"jangan pernah dekat dengan laki-laki manapun" ucap Juna dingin.


"kamu siapa, aku tanya, kamu bukan siapa-siapa. Punya hak apa menyuruh ku seperti itu. Bahkan kamu berani mencium ku. Kamu sehat hah bahkan aku tak mengenal mu sama sekali" ucap Jehan dengan nada tinggi.


"berhenti mengatakan bahwa kamu tidak mengenalku, hati aku sakit Je, aku terluka please" Juna mendekat ke arah Jehan, dia mendekap gadis itu dengan perasaan sakit.


Jehan mencoba melepaskan pelukan laki-laki di depannya namun tak terlepas karena pelukan Juna yang begitu erat.


"aku yang paling terluka, karena bertemu laki-laki seperti kamu. Jangan merasa bahwa kamu paling menderita karena aku juga menderita di sini" tangis Jehan pecah, Juna mengusap punggung Jehan lembut.


"jika memang kita pernah dekat dulu, aku minta maaf mungkin kedekatan kita hanya sebuah kesalahan. Tapi sekarang Jehan yang sekarang bukan Jehan yang dulu. Aku tidak mengenalmu, tidak nyaman berada di dekatmu. Tolong lupakan aku, pergi dan jauhi aku, aku tak lagi menginginkanmu" Juna mengeratkan pelukan, mengabaikan kata-kata Jehan yang mengoyak hati nya. pelukan gadis ini yang dia butuhkan, gadis dalam dekapannya ini yang dia inginkan. Seberat apapun masalah yang dia alami gadis ini mampu menjadi obat untuk semua rasa sakit yang dia pendam. Dia selalu ikhlas akan ketentuan Tuhan, pun jika Tuhan merenggut semua yang dia punya, namun tidak dengan Jehan, Juna tidak mampu kehilangan Jehan, tidak mampu sama sekali untuk itu.


"kedekatan kita membuat ku tersiksa, aku selalu merasa tidak nyaman di sekolah ini, begitu takut bertemu dengan mu dan mengalami hal seperti saat ini. Tolong jangan buat aku semakin takut dengan ambisi mu kumohon." Juna terisak, tubuhnya bergetar, tidak cukup kah penderitaan nya selama ini, tidak bisakah dia merasakan bahagia untuk kali ini. Kenapa seolah dunia tak membiarkan nya bahagia walau hanya sedikit saja.

__ADS_1


"berada di dekatmu adalah luka, namun jauh dari mu juga luka. Setidaknya biarkan aku memilih untuk selalu berada di dekatmu meski itu juga luka. Aku akan menyelami rasa sakit itu sendirian. Aku mohon Je kasih aku kesempatan. Jangan pergi aku mohon" Juna semakin mengeratkan pelukannya, laki-laki itu sudah tidak perduli jika di anggap cengeng, biarkan saja orang mengatakan apa, mereka tidak pernah merasakan apa yang dia rasakan. Tidak, Juna tidak akan peduli dengan orang yang tak pernah merasakan apa yang dia rasakan.


__ADS_2