
Setelah mereka sampai di salah satu konter hp yang menjual berbagai hp dengan berbagai jenis merk. Kini mereka pun mendapat hp yang bagus dengan harga yang setara dengan uang Juna. Tidak terlalu mahal namun tidak juga terlalu murah. Itu pun atas rekomendasi dari Jehan.
"pinjam handphone kamu" ucap Juna sambil menengadahkan tangannya
"buat apa ?" tanya Jehan heran
"mau kakak isi nomer kakak, biar gampang kakak mengubungi nya" Jehan menyerahkan hp nya untuk Juna buka. Laki-laki itu mulai mengetikkan nomernya di layar ketik Jehan dan menyimpan nomornya di sana. Lalu memulai panggilan ke nomernya. Tidak lama hp baru Juna berdering, laki-laki itu menyimpan nomor Jehan.
"udah ini" Jehan melihat kontak Juna yang terdaftar dengan nama "milik Jehan" Jehan melirik Juna sinis. Dia ingin menganti nama itu namun Juna merebut hp nya.
"jangan diganti lah, lihat ni nama kamu" Jehan melihat nomernya tersimpan dengan nama yang sama "milik Juna" oke sepertinya ini terlalu jauh, tidak bisa Jehan bayangkan sesakit apa laki-laki itu ketika dia pergi nanti.
"cuma empat bulan, kakak ingat itu" Jehan melirik Juna yang terlihat murung, tidak seantusias tadi. Jehan hanya tidak ingin jika harapan laki-laki itu melukai dirinya sendiri.
"kakak ingat dek, ngga perlu kamu ingatkan juga" Juna memasukkan hp nya ke saku celana lalu menggenggam tangan Jehan erat menuju motor Jehan.
"Jehann" langkah mereka terhenti, Jehan menoleh kepada seseorang yang berlari ke arahnya. Itu adalah Hanna dan di sampingnya...
astaga itu Arga yang datang, Hanna menghampiri mereka, Jehan mencoba menarik tangannya namun Juna tetap menggenggamnya erat. Bahkan kini Juna semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Jehan. Sehingga tubuh mereka tidak terhalang oleh jarak. Juna tersenyum tipis ke arah dua orang yang datang menghampiri mereka.
Jehan menutup matanya frustasi, gadis itu menghela nafas lelah, membiarkan Arjuna menempel padanya.
__ADS_1
"Hanna kamu kok ada di sini, bisa bareng lagi sama Arga" Jehan melirik ke arah Arga yang terus menatap tangan Jehan yang di genggam Juna. Jehan jadi salah tingkah, ingin melepas namun genggaman Juna terlalu kuat.
"ngga nyangka, kamu bakal berakhir berhubungan dengan laki-laki seperti dia" Arga menatap Juna sambil tersenyum sinis, dia menarik tangan Jehan dengan kasar. Sehingga genggaman tangan mereka berdua terlepas.
"Arga ih, jangan kasar sama Jehan" Hana mengeplak bahu Arga, gadis itu tidak suka jika temannya di perlakukan kasar seperti itu.
"Arga" Jehan menatap Juna yang terlihat marah, namun Jehan paham, Arga memang tidak pernah suka dengan sembarang orang. Sebelum laki-laki itu mengenal orang itu dengan jelas.
"kamu, kamu tu ngga sadar ya, di lihat dari segi manapun kamu ngga pantas buat Jehan. Masih mending kalau kamu setara dengan laki-laki yang deketin Jehan ini kamu rendah banget. Mana naik sepeda ke sekolah. SADAR DIRI itu penting". Arga tidak mengalihkan tatapan nya dari Juna, bahkan dia menekan kata "sadar diri" karena rasa tidak sukanya kepada laki-laki yang mencoba mendekati salah satu teman perempuannya.
"Arga" Jehan menatap Arga marah
"kenapa ? toh ini hidup aku, kamu ngga punya hak buat ngatur hidup aku. Lagian aku tau mana yang baik dan ngga buat aku, kamu ngga perlu repot-repot cari cowok yang baik buat aku. Baik menurut kamu bukan berarti baik buat aku" Jehan menghempas tangan Arga, dia tidak suka dengan sikap Arga yang sangat arogan, laki-laki itu selalu saja menilai orang sebelah mata.
"dan ingat Ga, aku paling ngga suka di atur, kalau kamu masih mau aku anggap teman jangan pernah mengaturku, kamu hanya teman tidak punya hak lebih atas diri aku." Arga tetap diam, dia menatap datar ke arah Jehan.
"udah yuk kak kita balik aja" Jehan menarik tangan Juna, membawa laki-laki itu pergi dari tempat itu.
"Arga kamu berlebihan banget tau ngga" Hanna mengomel ketika Jehan dan Juna pergi, gadis itu ikut emosi melihat sikap Arga yang seenaknya.
"ngga ada yang berlebihan Hanna, ini pertama kali Jehan dekat sama cowok, wajar kalau aku bersikap waspada kepada laki-laki yang mendekatinya"
__ADS_1
"tapi tidak dengan cara merendahkan harga dirinya Ga"
"aku cuma ngetes dia" Arga berjalan meninggalkan Hanna, sedangkan hanna berdecak kesal, lalu mengikuti Arga yang sudah berjalan duluan.
🌿🌿🌿
Jehan menatap laki-laki di samping nya yang terus saja diam sejak tadi, dia tau mungkin laki-laki itu merasa tersentil dengan ucapan Arga yang sudah melewati batas itu.
"jangan di pikiran ya omongan Arga, aku nyaman sama kakak, aku bangga kok sama kakak" Jehan menggenggam telapak tangan Juna yang terasa dingin, laki-laki itu tidak menatapnya dan terus saja melamun.
"kak" Jehan jadi serba salah, dia paling sulit jika harus berbicara dengan orang yang pendiam. Apalagi Juna sejak tadi terus menutup mulutnya.
"ngga papa, kakak pantas mendapatkan hinaan itu, lagi pula teman mu tidak salah, kakak memang rendah" Juna berbicara tanpa menatap Jehan, dia takut jika tidak dapat menahan perasaannya ketika bertatapan dengan gadis itu.
"aku tidak pernah peduli kak, kakak ngga boleh ngomong gitu. Harusnya kakak buktiin ke semua orang bahwa kakak pantas buat aku, bukannya mendukung opini mereka" Jehan melupakan fakta bahwa hubungan mereka hanya bertahan selama empat bulan, gadis itu merasa tidak rela jika Juna terus merendahkan harga dirinya.
"kenapa ? toh itu semua memang fakta. Kakak lebih rendah dari para laki-laki yang pernah mendekatimu, mungkin kakak yang paling rendah. Tidak punya apa-apa tapi dengan berani bersanding denganmu" Jehan menutup mata, dia memeluk laki-laki di sampingnya yang sok kuat itu, dia menikmati perpacuan jantung Juna yang berdetak di dalam tubuh laki-laki itu.
"kerendahan seseorang itu tidak dapat di ukur hanya dari harta dan kedudukan kak, kakak tidak boleh mengatakan kakak rendah, ingat Tuhan yang maha segalanya, kita itu bukan apa-apa. Kedudukan kita sama di hadapannya. Kakak tidak boleh mengatakan sesuatu yang menyentil perasaanku seperti itu." Juna membalas pelukan Jehan, dia bimbang merasa rendah dan tidak pantas, dia merasa harus sukses agar pantas bersanding dengan gadis nya itu.
"kakak cinta kamu Jehan, tapi entah kenapa ada saja yang menghadang hubungan kita. Kakak merasa kakak tidak pantas untukmu" Juna mengelus surai hitam gadisnya, sambil menatap ke arah langit, berdoa kepada sang pencipta untuk semua yang ada pada isi hatinya saat ini.
__ADS_1