
Pagi itu Jehan berangkat sedikit telat ke kantor, gadis itu cukup di sibukkan dengan pekerjaan nya sehingga membuat waktunya terpotong. Hanna yang dia telfon sedari tadi tak juga mengangkat panggilan darinya, mungkin gadis itu sedang berkendara, namun kenapa sampai saat ini telfon nya tak di angkat juga.
Jehan tiba di kantor pukul 8 pagi, telat sedikit memang tapi bagaimanapun sikapnya itu mempengaruhi kinerjanya juga, sehingga hal itu membuat Jehan sedikit kesal pada dirinya sendiri.
Saat memasuki kantor, Jehan melihat temannya itu sedang duduk di tempat nya dengan wajah yang begitu murung entah karena apa. Namun karena sedang buru-buru Jehan lewat saja tanpa menyapa, kelihatannya pun Hanna tak menyadari kedatangannya.
Jehan cukup senang karena gadis itu bisa pulang lebih awal, dengan wajah riang gadis itu memasuki ruangan Hanna, namun gadis itu masih asik dengan komputer di depannya.
"Na, pulang yuk, bukannya pekerjaan hari ini ngga padat-padat amat ya ?" tanya Jehan sambil duduk di kursi samping temannya itu.
Gadis itu hanya diam, seolah tak mendengar ucapannya, hal itu membuat Jehan kesal, dia menepuk lengan Hanna yang masih saja fokus dengan komputernya.
"Apa sih Je, males ah" ucap gadis itu kesal, Jehan mengernyitkan dahinya. Apakah temannya itu sedang ada masalah, kenapa wajah nya terlihat murung sekali.
"Kamu kenapa, wajahmu begitu kusut hari ini" tanya Jehan penasaran.
"Ngga papa, udah ah ayo kita pulang" Jehan semakin tak mengerti, tadi temannya itu seolah malas di ajak keluar, tapi sekarang mengajak pulang.
"Mau keluar dulu ?" tanya Jehan, tapi Hanna hanya menggeleng sambil masuk ke dalam mobilnya, mungkin saja gadis itu sedang dalam mood buruk, sehingga sulit untuk di ajak bicara.
Jehan menghela nafas, namun akhirnya gadis itu juga memilih untuk pulang, dalam perjalanan handphone gadis itu berdering, ternyata dari sang mama.
"Jehan bisa jemput mama" ucap mama Jehan, Jehan mengernyitkan dahi nya.
"Di mana ? memangnya mama tidak memakai sopir ?" tanya Jehan, mama nya itu setiap pergi selalu minta antar sopir kalau tidak mungkin naik mobil sendiri, namun saat ini mama nya itu meminta jemput.
"Tidak, tadi mama minta antar papa. Sekarang papa ke kantor, mama share lokasinya ke kamu sekarang" saat pesan dari mama nya masuk ke dalam handphone, Jehan segera melaju ke tempat itu.
Ternyata mama nya itu sedang berada di sebuah tempat pembelanjaan, saat memasuki tempat itu, Jehan melihat mama nya sedang bercengkrama dan tertawa bersama seorang wanita yang terlihat seumuran dengan mama nya itu.
"Ma" Jehan berjalan menghampiri mama nya sambil mencium punggung tangan Mama nya itu.
"Oh ini ya putri mu jeng" mama Jehan mengangguk sambil tersenyum, sedangkan Jehan hanya mengernyit tak mengerti.
"Cantik banget ya, harus ketemu sih ini sama putra aku" ucap wanita asing itu sambil menatap lembut ke arah Jehan.
"Iya deh nanti aja, sekarang saya pulang dulu ya"
__ADS_1
"Iya jangan lupa nanti kita cari waktu yang bagus buat ketemu ya" mama nya itu terlihat mengangguk, lalu mama nya mengajak Jehan untuk pergi, sebelumnya pamit terlebih dahulu kepada wanita asing itu.
"Kamu balik lagi ke kantor kan nanti ?" tanya mama Jehan
"Ngga ma, hari ini emang lagi pulang cepat"
"Tumben, biasanya aja sampai larut malam"
"Iya sih" mobil memasuki rumah, ibu dan anak itu turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
"Tadi itu siapa ma ?"
"Teman mama waktu sekolah dulu"
"Oh" Jehan segera berjalan ke arah kamarnya.
Malam harinya Jehan memutuskan untuk pergi ke supermarket, gadis itu sedang ingin membeli camilan, makanan pedas sepertinya bukan ide yang buruk.
Dengan menggunakan celana jeans panjang dan Hoodie tebal gadis itu keluar dari rumahnya berjalan ke arah garansi. Terdiam sebentar saat melihat motor di ujung garansi, namun naik motor masih membuatnya takut.
Gadis itu hampir berteriak saat merasa bahu nya di tepuk seseorang, saat menolehkan kepala ternyata itu adalah Kenzie, laki-laki menyebalkan yang selalu saja seenaknya dengannya.
"Aku datang" ucap laki-laki itu sambil menggenggam kedua telapak tangan Jehan.
"Lagi ?"
"Hem, aku akan selalu datang, kamu tau aku menunggu mu sedari tadi. Kamu tak juga keluar-keluar" ucap laki-laki itu dengan wajah kesal.
"Sekarang aku malah menyesal karena sudah keluar dari rumah."
"Apa karena ku ?"
"Tentu saja, kamu adalah penyebab utama mood ku buruk"
"Kamu selalu saja begitu, sekarang ikut aku" laki-laki itu menyeret telapak tangan Jehan yang masih berada di genggamannya.
"Kemana ?"
__ADS_1
"Sudah ikut saja" gadis itu menarik tangannya cukup kencang sehingga terlepas dari genggaman tangan Kenzie, gadis itu berlari ke arah rumah, namun Kenzie tiba-tiba menangkapnya dan menggendongnya dengan cepat.
"Lepas woi, ini pemaksaan namanya"
"Kamu yang tidak bisa di ajak baik-baik"
Ternyata Kenzie membawa nya ke sebuah tempat makan, gadis itu menatap Kenzie datar.
"Aku lapar temani aku makan" ucap Kenzie dengan raut wajah memelas.
"Ck tau gitu di rumah aku aja, aku bisa masakin kamu"
"Emang kamu mau masak makanan buat aku"
"Ngga" ucap Jehan ketus, wajah Kenzie kembali murung, laki-laki itu turun dari mobil dan membuka pintu di samping Jehan, bermaksud agar gadis itu segera turun.
"Apasih makan sendiri sana, aku mau pulang"
"Sayang, please" Jehan mematung, kenapa Kenzie selalu seperti ini, kenapa laki-laki itu selalu membuat jantung nya berdetak melebihi batas normal.
Karena tak tega melihat wajah Kenzie yang memelas, akhirnya Jehan menyetujui keinginan laki-laki itu, mereka berdua berjalan bersama dengan Kenzie yang terus menggenggam telapak tangannya layaknya seorang kekasih.
"Kamu mau makan apa ?"
"Aku tak lapar"
"Minum ?"
"Aku tak haus" nyatanya itu hanyalah ucapan yang tak nyata, perut gadis itu berbunyi menandakan bahwa dia lapar, rasanya pun sedikit sakit karena belum terisi makanan apapun.
"Baiklah sweetie meski kamu tak lapar, aku akan tetap memesan kan mu makanan, aku adalah kekasih yang pengertian, mana mungkin membiarkan perut mu tersiksa" Jehan mendengus, sepertinya laki-laki itu sedang menyindirnya.
"Mau aku suapi ?" tawar Kenzie, Jehan menggeleng dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Kenzie tersenyum, laki-laki itu ikut menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, tatapannya tak lepas dari wajah cantik Jehan yang selalu meneduhkan.
Tak butuh waktu lama makanan mereka pun tandas, Kenzie menggenggam telapak tangan Jehan membuat Jehan mengernyit bingung, laki-laki itu tau jika Jehan risih dengan perhatiannya yang tiba-tiba. Namun Kenzie sendiri sudah lelah jika harus terus bersabar.
__ADS_1
"Jehan" gadis itu menoleh, saat ini kakak nya sudah berdiri di hadapannya, telapak tangan laki-laki itu menggenggam tangan wanita cantik di samping nya yang terlihat modis dengan penampilannya.
"Siapa kak" ucapan yang pertama kali Jehan lontarkan adalah tentang siapa perempuan yang sedang bersama kakak nya itu.