
Pagi harinya Jehan sudah rapi dengan pakaian sekolahnya di lapisi oleh Hoodie hitam miliknya, gadis itu memakai tas punggung miliknya, wajah gadis itu tampak murung.
Hari ini dia punya beban tanggungan untuk menemani Juna. Tapi mengingat ini adalah hari terakhir Juna sekolah, Jehan kembali menerbitkan senyum.
Gadis itu turun dari tangga sambil mendengarkan musik melalui handset, di lihatnya keluarga nya sudah lengkap di meja makan, Jehan adalah orang terakhir yang datang di meja itu.
Gadis itu menarik kursi untuk nya, lalu ikut makan setelah mematikan musik di handphone nya. Setelah menghabiskan makanannya, Jehan segera berdiri dan berpamitan untuk pergi sekolah, orang tua nya hanya mengangguk.
Tidak ada obrolan pagi ini, hanya ucapan singkat dari orang tua dan kakak nya, papa dan kakak nya juga nampak terburu-buru untuk ke kantor karena pagi ini ada meeting.
Waktu tempuh ke sekolah hanya 30 menit, terdengar suara seseorang di dalam mic di panggung perpisahan kelas 12, tampak beberapa anggota OSIS berlalu lalang menyiapkan kursi, ada juga beberapa murid kelas 10 yang berada di lantai bawah menyaksikan kesibukan beberapa orang yang nampak sibuk membuat acara itu menjadi sempurna.
Sudah dapat di pastikan, jika hari ini tidak ada kegiatan belajar, semua mata pelajaran pasti akan di kosongkan.
"Tau gini ngapain gw bawa tas" Jehan berdecak, gadis itu merasa sia-sia sudah membawa tas yang berisi beberapa buku tebal.
"woy" gadis itu menoleh dengan malas, netra nya menangkap keberadaan Gibran yang saat ini telah berdiri di hadapannya, tak hanya laki-laki itu namun ada juga Johan dan 2 orang lainnya, teman Gibran.
"Je perasaan beberapa hari ini gw ngga pernah ketemu sama lo, lo di mana aja" tanya Gibran sambil memperhatikan Jehan dari atas sampai bawah, Jehan saat ini masih menggunakan Hoodie miliknya dan gadis itu memakai sepatu berwarna putih.
"Maksud lo ?" tanya Jehan singkat
__ADS_1
"Ya akhir-akhir ini gw ngerasa kaya susah aja ngobrol sama Lo, Lo juga habis istirahat hilang entah kemana" lanjut Gibran, Jehan tak menghiraukan ucapan laki-laki itu, Jehan nampak melihat ke sekeliling memperhatikan beberapa kakak kelasnya yang mulai datang ke acara itu.
Saat sedang melihat-lihat tanpa sengaja tatapan Jehan terpaku pada seseorang, seseorang itu sedang berbincang dengan beberapa teman nya, entah sedang membahas apa, tak lama kemudian seseorang itu menoleh dan tatapan mata mereka bertemu, Jehan terdiam, entah kenapa tiba-tiba jantung nya berdebar hanya karena tatapan itu. Tatapan itu seperti membiusnya membuatnya terdiam tanpa mampu menolehkan wajah.
Juna tersenyum melihat Jehan yang berdiri tak jauh darinya, bersama beberapa temannya yang dulu, gadis itu tampak terus melihatnya, Juna berdehem dan kembali menatap teman-temannya.
"Aku pergi ke sana sebentar ya" ucap Juna yang di angguk i beberapa temannya. Meskipun banyak yang tidak suka kepada Juna, tetapi Juna tetap bersyukur karena masih ada beberapa anak yang mau berteman dengannya walaupun mereka berbeda jurusan, namun Juna tak pernah mempermasalahkannya. Karena memang dia tidak pernah pilih-pilih soal pertemanan.
Juna berjalan menghampiri Jehan, teman-teman Jehan telah pergi entah kemana, Juna sudah tiba di hadapan Jehan. Laki-laki itu kembali tersenyum.
"Waktu mu hari ini milik Ku Jehan, tidak lebih tepatnya kamu hari ini milikku" ucap Juna tersenyum manis, Jehan yang dari tadi diam karena terpaku pada Juna langsung membuang muka saat mendengar ucapan aneh Juna.
"Kata siapa, kamu boleh duduk di dalam aula, ayo ikut aku" Juna menarik telapak tangan Jehan, membuat Jehan ikut berjalan mengikuti Juna.
"Tapi yang lain aja di luar, masa aku di dalam, mereka akan iri" ucap Jehan kesal, dia pikir Juna akan membebaskan nya dari tugas tidak jelas ini, namun ternyata dugaannya salah.
"Tidak akan" mereka duduk di deretan kursi nomor 3, Jehan mendengus kesal, gadis itu memperhatikan sekeliling, bagaimana tanggapan kakak senior nya jika ada anak kelas 11 di aula. Padahal ini acara kelas 12.
"Tidak usah banyak berfikir, kamu tidak akan di usir. Meskipun anak kelas 12 tau kamu duduk di sini" Juna berbicara seolah-olah laki-laki itu tau apa yang di fikirkan oleh Jehan.
Beberapa saat kemudian, beberapa anak kelas 12 mulai berdatangan, dan duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh anggota OSIS.
__ADS_1
Di panggung juga sudah terisi beberapa orang yang akan melakukan pentas. Ada juga beberapa guru yang sudah duduk di kursi paling depan khusus guru.
Acara itu di mulai dengan suara MC yang memberi kan sambutan untuk pembukaan acara ini.
"Assalamualaikum Wr. Wb.
Bismillahirrohmannirrohim
Alhamdulilah hirobil alamin wahbihi nastaim waalaumuritdun ya waddin waala alihi wah soh bihi ajmain ama ba’du.
Dewan guru, bapak-bapak, ibu-ibu para undangan, serta teman-teman sekalian yang saya sayangi....." Jehan nampak menghela nafas lelah, acara seperti ini baginya sangat membosankan, gadis itu menyandarkan punggungnya, melirik Juna yang fokus menatap di depan sana.
Laki-laki itu apa tak melihat jika dia tersiksa berada di kursi sempit seperti ini apalagi harus berbagi udara dengan murid sebanyak ini. Hanya duduk-duduk saja, tentu itu akan sangat melelahkan untuk Jehan.
Acara itu di awali dengan beberapa kata sambutan dari dewan guru dan juga kepala sekolah, di lanjutkan dengan memberi penghargaan untuk siswa berprestasi di setiap jurusan, jujur Jehan sedikit kaget saat mendengar nama Juna menjadi juara satu murid dengan nilai tertinggi di jurusan IT.
Bahkan beberapa siswa nampak memberikan tepuk tangan nya saat laki-laki itu berjalan ke arah panggung untuk menerima piagam penghargaan dari kepala sekolah.
"Ngga heran si, Juna emang cerdas dari dulu. Aku merasa dia hebat, karena bisa mempertahankan prestasi nya meski sempat jatuh cinta pada adik kelas yang namanya selalu di sebut di kalangan para siswa terpopuler." Jehan terdiam, saat mendengar murid di belakangnya berbicara, mereka mungkin tidak sadar jika orang yang sedang mereka bicarakan berada di depan mereka. Apalagi Jehan menggunakan masker, sehingga tidak banyak yang bisa mengenali nya.
"Oh itu iya aku ingat, kalau ngga salah namanya Jehan ya, aduh kalau aku pikir gadis itu ngga cantik-cantik amat. Coba aja kalau dia itu anak orang miskin dia pasti tidak akan menjadi gadis terpopuler. Suka heran deh kenapa si gadis kaya gitu aja selalu jadi incaran para cowok. Padahal banyak gadis cantik di angkatan kita." ucap siswi satunya, Jehan memutar bola mata nya. Dasar perempuan julid sukanya hanya membicarakan orang lain. Tanpa menyadari kekurangan nya sendiri.
__ADS_1