
"mau bicara apa ?" Juna bertanya kepada Gibran, laki-laki itu menatap kosong ke arah langit. Kini mereka ada pada lantai atas gedung sekolah.
"gw cuma mau minta maaf, bagaimana pun sifat Jehan sekarang. Itu sedikit banyaknya karena kesalahan gw" ucap Gibran, laki-laki itu juga ikut menatap langit. Juna terdiam.
"maksudnya ?" tanya Juna singkat
"Jehan ngga ingat sama lo" ucap Gibran, Juna kembali terdiam, dia sedang mencerna ucapan laki-laki itu.
"Jehan amnesia, makanya dia ngga ingat lo sama sekali" aku Gibran dengan suara lirih.
"apa ?" Juna menatap Gibran dengan raut wajah kaget, jantung Juna berdecak kencang, dia mengepalkan tangannya mengetahui kenyataan menyakitkan itu. Benarkah Jehan sudah tidak mengenalnya lagi. Pantas saja gadis itu selalu acuh kepadanya akhir-akhir ini.
"bagaimana bisa Jehan lupa ingatan, gimana ceritanya" tanya Juna setelah kembali bisa menguasai diri dari keterkejutannya.
"jadi gini ceritanya..."
flashback on
Sepulang sekolah Jehan duduk di depan kelas, gadis itu membuka buku tentang jaringan dengan fokus, ternyata tidak sulit jika dia mempunyai niat untuk belajar.
"Jehan" gadis itu mendongak, menoleh ke arah laki-laki yang baru saja memanggilnya. Arga ya laki-laki itu saat ini berdiri di hadapannya dengan tangan yang di simpan di saku celana.
"ada apa" sahut Jehan pelan, dia kembali membaca buku yang berada di pangkuannya.
__ADS_1
"ayo ke basecamp" Jehan menatap kembali lawan bicaranya
"anak-anak ada ?" Arga mengangguk, Jehan pun berdiri mengembalikan buku ke dalam tas nya. Mereka berdua berjalan ke arah parkiran bersama.
Mereka berdua turun dari motor, sudah ada beberapa anak yang menyambut mereka, mereka masuk ke dalam gedung yang cukup besar dan luas, banyak pemuda yang mengangguk dan tersenyum ke arah mereka. Jehan hanya diam tanpa berekspresi apapun.
Gibran melambaikan tangan ke arah mereka yang saat ini berjalan mendekat. Jehan duduk di samping Hanna yang terlihat sedang meminum alkohol. Gadis itu menuang alkohol di gelas nya dan memberikan ke Jehan, Jehan hanya diam dan mengambil minuman itu, menyesapnya perlahan.
"hah minuman ini memang nikmat, pikiran aku menjadi lebih ringan karena meminumnya" Hanna menuang kembali minuman ke gelas nya dan kembali menyesap minuman itu.
"Kamu perempuan, jangan terlalu banyak minum" Gibran menggelengkan kepala melihat Hanna yang begitu menikmati minuman yang berada di tangan nya. Gadis itu minum dalam jumlah sedikit namun begitu memuji bahwa minuman nya nikmat.
mereka memang sudah terbiasa minum minuman yang mengandung kadar alkohol, Arga yang biasanya paling banyak minum, bahkan laki-laki itu bisa menghabiskan 1 botol besar alkohol dengan mudah.
Jehan kembali menyesap minuman di tangannya, tidak ada salahnya sesekali menikmati minuman seperti itu, walau keluarga nya menentang keras dia untuk menyentuh minuman beralkohol namun Jehan tidak menggubris dia juga hanya minum sesekali.
"iya seru si kalau kita ikutan, udah lama ngga ada balapan kaya gini, siapa tau salah satu dari kita ada yang menang kan enak" Gibran menyahut, laki-laki itu tersenyum senang, berfikir jika menang dan mendapatkan hadiah sungguh dia menantikan hal itu.
"terakhir kita ikut balapan kan Lo sama Johan menang. Kenapa ngga ikut lagi siapa tau menang lagi kan haha" Gibran terkekeh, dia menatap kedua temannya Jehan dan Johan tetap diam dengan tanpa ekspresi.
"Lo diam aja Je, ngga tertarik emang. Yang ini gede Lo hadiah nya" Hanna menatap temannya yang sedari tadi diam.
"emang hadiah nya apa" Jehan menyandarkan tubuhnya, menatap teman-temannya yang juga menatap kearahnya.
__ADS_1
"motor sih yang ini" jawab Hanna, Jehan mengangguk sudah hal biasa balapan berhadiah motor pikirnya.
"oke jam berapa besok ?" teman-temannya terlihat antusias dengan jawaban Jehan.
"Jam 9 malam, Lo kesini aja, ntar kita berangkat bareng" Jehan mengangguk dan kembali menyesap minuman yang berada di tangannya.
keesokkan nya Jehan telah berada di sirkuit balap bersama keempat temannya, banyak geng mereka menyoraki nama Jehan dan juga keempat temannya, Jehan hanya diam, gadis itu memakai helm bersiap untuk mengikuti balap Kali ini.
semua peserta beradu saling mengeraskan bunyi motornya, seketika suasana sirkuit menjadi gaduh, Jehan juga memanasi motor nya sebelum motor itu melaju. Jehan menatap perempuan di depannya yang sedang memberi aba-aba. Saat hitungan selesai semua peserta berlomba membalap satu sama lain, Jehan hanya tenang sama sekali tidak ada pemikiran untuk menang. Dia merasa tidak antusias meskipun hadiah kali ini cukup besar.
Pada putaran pertama Johan berada di depan, Lalu pada putaran kedua Gibran menyalip sehingga Gibran yang berada di posisi pertama. Jehan kembali menaik kan kecepatan sehingga dapat membalap semua peserta, semua yang melihat pasti merasa ngeri dengan cara Jehan membawa motor tapi gadis itu sudah tidak peduli, di depan sana terdapat beberapa belokan, Jehan mengerem motornya, namun seperti nya terdapat kesalahan disini.
motor itu tidak bisa berhenti, karena kecepatan yang begitu tinggi Jehan akhirnya menabrak pembatas jalan, gadis itu terjatuh dari motor ya. Berguling dengan masih memakai helm, di depan sana ada mobil dengan kecepatan yang tinggi. Menabrak tubuh Jehan dengan keras sehingga Jehan memantul dengan keras ke bawah dengan tubuh penuh darah.
"JEHAANN" Gibran menghentikan motor dia berteriak kencang saat melihat Jehan terbaring dengan tubuh penuh darah. Laki-laki itu membuang helm nya dan menghampiri tubuh Jehan sambil terisak.
"Je bangun JEHANN"
Flashback Of
"jujur saat itu gw ngerasa terpukul banget, gw ambil handphone dengan tangan bergetar. Menghubungi ambulan. Sampai rumah sakit, Jehan langsung masuk ruang UGD. Jehan sempat kritis beberapa Minggu. Ada cidera berat pada tubuh dan kepala nya." Gibran menghela nafas setelahnya, Juna hanya diam menunggu laki-laki itu melanjutkan ucapannya. Ada rasa sakit yang dalam saat mendengar cerita itu.
"sehingga saat dia sadar, gadis itu memberikan hukuman buat kita semua teman-temannya. Jehan ngga mengenal kita sama sekali. Ditambah pernyataan dokter yang mengatakan Jehan mengalami amnesia, dimana penderita amnesia tidak akan mengingat siapapun dan kejadian apapun. Jujur itu membuat kita semua merasa sedih. Aku juga merasa amat bersalah. Bagaimana pun Jehan seperti itu karena aku yang membujuk nya balapan." Gibran menunduk, ada bening-bening kristal pada matanya.
__ADS_1
"ternyata, waktu Jehan mau balapan dia sedang sakit, Jehan ngga kasih tau kita. Waktu itu dia juga diam aja."
"walaupun dia tidak memberitahu kalian, kalian seharusnya tau dong. Kalian kan teman-teman dekatnya. Masa gitu aja kalian ngga sadar" ucap Juna dengan dingin. Jika seperti ini siapa yang bisa di salahkan, semua sudah terjadi. Dia harus terima jika harus kembali berjauhan dengan gadisnya.