
Pulang sekolah Jehan keluar dari kelasnya, gadis itu berjalan ke arah lab karena ada janji dengan Juna untuk pergi bersama.
"Jehan" Jehan menoleh, Johan datang menghampirinya dengan satu buku di tangan nya. Yang jadi pertanyaan nya tumben sekali laki-laki itu memanggilnya.
"loh Han kamu belum pulang ?" tanya Jehan, biasanya saat bel pulang di bunyikan, anggota Arga Cs akan langsung pulang jika memang tidak ada pelajaran tambahan.
"belum, sibuk ngga Je, pulang bareng bisa ?" Jehan mengernyit, pulang bareng ? apa maksudnya laki-laki itu mengajak nya pulang bersama.
"kamu ngga bawa motor ?" tanya Jehan yang di jawab gelengan oleh Johan. Oh lord apakah mereka harus pulang bersama dengan cara berboncengan, sebenarnya sih tidak masalah untuk Jehan sendiri, toh mereka juga sahabat kan.
"kamu ke parkiran aja dulu gimana, parkiran aku ada di tempat biasa. Aku mau ketemu seseorang dulu" ucap Jehan, dia tidak bisa langsung pulang gitu aja, kasian kan Juna yang menunggu nya di lab.
"oke" jawab Johan singkat, Jehan berjalan dengan terburu-buru ke arah lab desain. Gadis itu membuka nya setelah melepas dengan asal sepatunya, kosong tidak ada siapapun di dalam, kemana Juna ? bukannya tadi pagi itu berjanjian untuk menunggu nya di sini.
Handphone Jehan berdering, Johan memberikan pesan untuk segera kembali, Jehan berjalan ke luar lab dengan wajah lesu. Memakai sepatu nya asal lalu kembali ke arah Johan.
"udah selesai ?" tanya Johan, Jehan hanya mengangguk lesu
"ya udah ayo pulang" Jehan kembali berjalan, beberapa langkah kemudian dia merasa ingin jatuh dia terhuyung ke depan, beberapa saat kemudian dia merasa tubuhnya bersentuhan dengan tubuh orang lain. Saat Jehan membuka mata, ternyata sekarang dirinya berada di gendongan Johan. Johan menatap dalam matanya.
Jehan sulit mengartikan tatapan itu, terlalu rumit. Namun tatapan itu jelas berbeda dari tatapan seseorang kepada sahabatnya. Entah itu nyata atau hanya perasaan Jehan semata.
__ADS_1
Johan mendekatkan wajah nya, membuat jantung Jehan berdetak tak karuan, laki-laki itu menatap dalam mata nya, tapi Jehan sendiri tidak bisa untuk menegur Johan, jarak mereka terlalu dekat.
"lain kali hati-hati, tali sepatu kamu berantakan itu di benerin dulu" Johan menurunkan tubuhnya, Jehan melihat tali sepatu miliknya yang memang sudah tidak rapi, mungkin tali itu tadi ke injak sehingga Jehan akan jatuh tadi.
"iya" Jehan merapikan tali sepatu nya, setelah selesai mereka pun menuruni tangga di sekolah itu bersama menuju parkiran.
Setelah sampai di motor, Jehan memberikan kunci motornya ke Johan, mereka menaiki motor dan keluar dari sekolah.
Mengendarai motor dengan kecepatan sedang membuat angin menabrak wajah Jehan, terasa segar karena udara yang menyejukkan. Jalanan tidak terlalu padat memudahkan mereka untuk naik motor dengan santai.
"udah makan Je" Johan menoleh ke samping, menunggu jawaban dari temannya
"Belum, nanti aja di rumah"
"Iya cari aja yang kamu suka" Jehan masih melihat Johan, laki-laki itu mengulum senyum, Jehan mengerjapkan mata nya. Benarkah laki-laki itu tersenyum tadi, sangat jarang seorang Johan tersenyum, karena memang teman Jehan yang satu itu yang paling dingin, bahkan sikap nya begitu dingin kepada Jehan. Jehan saja sampai bingung menanggapi sikap anak itu yang terkadang cuek ke dia, terkadang pula baik dan ramah. Sebenarnya dia merasa jika Johan itu sedikit aneh.
"Ayo turun" Johan pergi ke tempat makan terdekat, Jehan masuk bersama Johan, mengambil duduk paling ujung agar privasi mereka terjaga. Jehan duduk, dia tidak ingin makan hanya ingin menemani Johan saja.
"mau pesan apa Je ?" Jehan mengerjapkan mata nya, lalu menggeleng pertanda tidak ingin memesan apapun. Dia merasa belum lapar.
"kalau minum mau apa" tanya Johan lagi
__ADS_1
"Jus blueberry aja" jawab Jehan, dia melihat handphone nya ada pesan dari Juna 20 menit yang lalu
"tadi kakak panggil kok ngga berhenti si dek, kakak kejar ternyata lagi pelukan sama cowok lain. Tadi janjinya mau kemana, kok malah pergi ngga pamit lagi sama kakak, sekarang ada di mana, kakak lihat tadi kamu boncengan sama laki-laki itu" mampus, Jehan menepuk jidat, dia berfikir keras tentang jawaban yang harus dia berikan kepada Juna.
"maaf tadi ngga denger, tadi itu aku hampir jatuh dia hanya refleks peluk aku, lagian dia juga masih teman dekat. tadi aku pikir kakak pulang, soalnya di lab ngga ada, mana tau kalau kakak panggil" jawab Jehan yang langsung di baca oleh Juna.
"Sekarang dimana" tanya Juna, Jehan semakin bingung harus menjawab apa, apakah dia harus jujur jika sedang makan bersama Johan, tapi inikan hanya makan biasa mereka juga akan segera pulang, Jehan kembali mengetik jawaban di handphone nya.
"udah pulang kok, tadi Johan minta bareng karena ngga bawa motor" lama, tidak ada balasan lagi padahal pesan itu terbaca. Jehan mematikan handphone nya dia mengambil minuman miliknya, Johan terlihat memesan nasi ayam bakar, dengan segelas minuman yang mengandung sedikit alkohol.
"mau" Jehan menggeleng saat Johan ingin menyuapkan sendok yang berisi makanan ke mulut nya, tidak dia tidak mau ntah tidak mau saja.
"Johan" mereka berdua menoleh ke sumber suara, terlihat gadis yang begitu cantik memakai hijab dengan sedikit lipstik merah di bibirnya. Jehan menatap Johan yang menghentikan makannya dan menatap gadis itu.
"Kamu udah dapet cewe lagi, cewe ini yang bikin kamu mutusin aku tanpa sebab. Penampilan yang serba terbuka gini yang kamu suka" Jehan mengernyitkan dahi nya, terbuka ? dia memakai jaket kulit yang menutupi tubuhnya, walau dia memakai rok pendek tapi masih menutupi lutut nya. Kan memang sekolah nya seperti itu, apa salah jika dia memakai pakaian seperti itu. Gadis itu saja walau memakai kerudung tapi baju nya menerawang memperlihatkan sesuatu, setidaknya Jehan masih tertutup walau memakai pakaian terbuka.
"Johan"
"apa si, kalau iya kenapa. Ngga ada urusan nya juga sama kamu kan" Jehan dapat melihat rasa jengah pada ucapan Johan. Ya dia juga risih sih, apalagi gadis itu mengatakan dia terbuka.
"Johan, kamu yakin ninggalin aku buat dia. Kamu kok tega banget si" mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Jehan menghela nafas dia berdiri setelah meninggalkan uang di meja.
__ADS_1
"aku bukan pacar nya ngga usah berlebihan" ucap Jehan memperjelas, Jehan melihat Johan berdiri dan menarik tangan nya, lalu tanpa di duga laki-laki itu mengecup pipi nya. Jehan kaget dia menatap Johan dengan pandangan yang ah entah lah. Ini suasana apa sebenarnya, kepala Jehan terasa pusing, sangat.
"sayang jangan marah ya, mau pulang ayo" Jehan semakin kaget dengan panggilan Johan, sial apa-apaan ini sebenarnya. Johan menarik tangan Jehan setelah memanggil pelayan dan memberikan uang. Jehan masih kaget jelas, tidak ada dalam benak Jehan seorang Johan mengecup pipi nya. Tidak itu terlalu mengerikan.