
Pagi kembali menyapa, Jehan merenggangkan tubuhnya yang terasa sakit. Tentu saja, bagaimana tidak Sakit jika tubuhnya di jadikan guling hidup oleh Kenzie dengan keadaan mereka yang tidur di kursi sofa yang sempit.
Sebenarnya tadi malam, Kenzie sudah menawarkan nya untuk tidur di ranjang, namun Jehan menolak, bukannya sungkan atau apa, dia hanya takut karena bagaimana pun juga Kenzie laki-laki normal. Sehingga dia tidak ingin bersikap berlebihan di depan laki-laki itu.
Gadis itu berusaha untuk melepaskan tangan Kenzie yang membelit pinggangnya. Dan ya berhasil, Jehan segera beranjak dengan pelan dari tempat itu. Gadis itu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan dirinya Jehan segera berjalan ke arah dapur.
Dia ingin memasak sarapan untuk Kenzie, agar laki-laki itu tak perlu beli makanan nanti.
Jehan mulai membuka kulkas, lalu menyiapkan bahan untuk membuat nasi goreng sederhana. Meracik semua bumbu yang di perlukan.
Setelah beberapa menit bereksperimen dengan alat dapur, kini makanan pun jadi, Jehan segera menyiapkan makanan itu dan membawa nya ke meja makan.
Gadis itu tersentak saat melihat Kenzie sudah duduk di kursi sambil menatap nya, tak lupa senyum laki-laki itu yang memang manis menghiasi bibir nya.
"Kamu udah bangun ?" tanya Jehan dengan wajah terkejut. Dia berfikir Kenzie masih terlelap di sofa. Apalagi melihat penampilan Kenzie yang sudah rapi membuat nya heran.
"HM, waktu tadi kamu bangun aku juga ikut ke bangun. Trus aku milih buat mandi dulu. Ternyata kamu lagi masak" ucap Kenzie, kedua tangannya melingkar di pinggang Jehan yang saat ini berdiri di sampingnya.
"Oh ya udah makan dulu yuk, kamu pasti udah lapar" Jehan melepas tangan Kenzie namun alangkah terkejut nya gadis itu saat Kenzie menggendongnya lalu mendudukkan tubuhnya di pangkuan laki-laki itu.
"Makan gini aja ngga papa kan ?" tanya Kenzie dengan senyum manis nya.
"Please kak jangan melebihi batas" perintah Jehan dengan wajah merenggut.
"Bentar aja sayang"
"huh, trus makannya gimana kalau posisi nya kaya gini ?" tanya Jehan sambil mengangkat kedua alisnya.
"Ya kamu suapi kakak" jawab nya dengan enteng.
"Emang ngga bisa makan sendiri"
__ADS_1
"Kan lagi pengen di manja sama kamu" laki-laki itu mengecup pipi Jehan, membuat gadis itu melotot dengan kesal, Kenzie hanya terkekeh geli. Bak perangko semakin di larang dia akan semakin menempel.
"Ya udah jangan gini terus, katanya pengen di suapi" tanya Jehan kesal saat melihat Kenzie terus saja memeluknya.
"Biar ngga jatuh, makanya kakak peluk"
"Emang anak kecil apa, jatuh" tanya Jehan kesal.
"Bisa aja, mau coba ?"
"Ngga ah" Jehan memilih untuk mengakhiri perdebatan mereka, gadis itu mulai mengambil nasi lalu menyuapkan nasi itu ke mulut Kenzie.
"Masakan kamu enak emm" ucap laki-laki itu, Jehan hanya tersenyum tipis melihat sikap Kenzie yang terlihat seperti anak kecil.
"Kamu sering masak di rumah sayang ?" tanya Kenzie sambil mengambil alih sendok, sekarang ganti laki-laki itu yang menyuapi Jehan. Sesekali tangannya mengusap bibir Jehan yang tertempel nasi.
"Em jarang sih aku masak, soalnya aku juga jarang di rumah. Jadi sekali ada waktu di rumah ya aku manfaatkan untuk tidur" jawab Jehan.
Mereka makan bersama dengan saling menyuapi satu sama lain, hingga makanan mereka di piring tandas tak tersisa.
Terdengar bel pintu berbunyi menandakan ada tamu, Kenzie yang malas beranjak itu hanya diam sambil terus memeluk tubuh Jehan, seolah tak mau tau siapa yang datang pagi-pagi ke apartemen nya.
"Itu ada tamu, buka gih" ucap Jehan gemas, pasalnya kekasihnya itu bukannya beranjak membukakan pintu namun malah diam saja seolah tak mendengar bel yang terus saja berbunyi.
"Aku malas untuk membuka pintu"
"Jangan gitu, siapa tau itu penting" Kenzie menghela nafas, dengan malas laki-laki itu berdiri dan membuka pintu, di balik pintu terlihat seorang lelaki yang berdiri sambil tersenyum ke arahnya, Kenzie menghela nafas lalu masuk begitu saja tanpa menyapa lelaki itu.
"Hey, kamu tidak boleh seperti itu pada adikmu" ucap laki-laki itu sambil mengikuti langkah Kenzie.
"Lebih baik kamu pulang"
__ADS_1
"Padahal aku kesini karena membawa sarapan untukmu" ucap laki-laki itu sambil mengangkat makanan yang ada di tangan kanannya.
"Aku sudah makan" ucap Kenzie singkat.
"Tidak bisa begitu aku... eh kok ada Jehan" Gibran mematung di tempatnya, saat melihat Jehan yang tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya.
"Jangan salah paham ya Bran, gw ngga ada apa-apa kok sama Kenzie" ucap gadis itu pada temannya yang masih terdiam sambil terus menatapnya dengan lekat. Dia tidak ingin Gibran salah paham karena melihatnya ada di apartemen Kenzie sepagi ini. Dia tidak ingin temannya itu berfikir yang macam-macam.
"Ada apa-apa juga ngga papa orang sama calon suami sendiri" ucap Kenzie tanpa beban, Jehan hanya mendengus kesal.
"Oh jadi kalian sudah semakin dekat, baguslah kalau gitu" ucap Gibran sambil duduk di kursi yang sama. Ucapan yang laki-laki itu lontarkan membuat Jehan merasa bingung.
"Ya bagus, tapi gara-gara kamu datang semuanya berantakan huh" ucap Kenzie kesal, adiknya itu memang sering kali datang hanya untuk mengantar sarapan untuknya.
***
Jehan pulang dengan mengendarai mobilnya, gadis itu mampir sejenak di pos gerbang rumah.
"Eh non Jehan" pak satpam mengangguk sambil tersenyum saat melihatnya.
"Iya pak, saya mau tanya kak Al udah pulang pak" tanya Jehan.
"Den Al tadi malam ngga pulang non" ucap pak satpam, Jehan hanya mengangguk lalu permisi untuk pergi dari tempat itu.
Kakak nya tidak pulang, dan dia tadi malam pun keluar tanpa pamit, meski dia telah memberikan pesan untuk mama nya bahwa dia ada urusan di luar rumah, tapi Jehan tau orang tua nya pasti akan memberikan serentetan pertanyaan untuknya karena keluar malam tanpa alasan yang jelas.
Sementara itu di tempat lain, saat ini Kenzie dan Gibran terlihat berjalan bersama ke arah lift, mereka berdua baru saja tiba di kantor.
"Carilah pasangan Bran, kasihan mama ingin cepat-cepat punya cucu" nasihat Kenzie kepada adiknya itu, karena selama ini dia tak pernah melihat Gibran membawa atau dekat dengan seorang wanita. Sejak laki-laki itu lulus dari sekolah tak ada satu wanita pun yang dekat dengan Gibran, hal itu membuat Kenzie sedikit takut dengan adik tirinya itu.
"Kamu saja, kan udah ada calonnya jadi cepat-cepat nikah lalu punya anak yang lucu" sahut Gibran dengan malas, jika yang di bahas soal wanita dia memang tidak merasa antusias sama sekali.
__ADS_1
"Ck tapi kamu masih normal kan Bran"
"Tentu saja, aku akan menikah suatu saat nanti. Kriteria ku tinggi sehingga belum ada satupun wanita yang aku kenalkan pada orang tua kita, jika aku sudah menemukannya aku pasti akan membawa nya pulang." ucap laki-laki itu sambil tersenyum tipis.