
5 tahun berlalu tanpa terasa, waktu seolah berputar dengan cepat, tampak seorang gadis yang saat ini sedang berada di sebuah ruangan besar nampak duduk manis sambil tangannya dengan lincah mengetik di layar monitor di komputer di depannya.
Gadis itu nampak fokus dengan pekerjaan nya tanpa membiarkan ada satu orang pun yang mengganggu, bahkan gadis itu tidak sadar ketika beberapa telfon masuk ke dalam handphone nya.
tok tok tok
Pintu yang di ketuk membuat gadis itu sejenak menghentikan pekerjaannya, memberi instruksi kepada orang di luar untuk masuk.
"Jehan, Lo lagi sibuk" ya gadis itu adalah Jehan, sedangkan seseorang yang baru saja masuk adalah Hanna.
Kisah cerita mereka memang begitu rumit, namun pada akhirnya mereka kembali bersatu dalam ikatan pertemanan.
Pada saat itu kakak nya membawa Hanna pulang ke rumah mereka, mengatakan jika Hanna baru saja terluka akibat kecelakaan ringan, semenjak saat itu Hanna sering sekali datang ke rumah untuk sekedar mengobrol bersama nya.
Mereka tidak langsung dekat, mengingat Jehan yang tak mengingat Hanna dan Hanna yang mempunyai rasa bersalah yang besar kepada Jehan.
Namun setelah beberapa waktu berlalu, mereka kembali dekat seperti dulu. Bisa akur dan kembali akrab seperti sebelum Jehan mengalami kecelakaan.
Bukan hanya dengan Hanna, Jehan juga mulai kembali dekat dengan Arga dan Johan, kecuali dengan Juna gadis itu sudah tak lagi bertemu dengan Juna semenjak laki-laki itu lulus, laki-laki itu tidak pernah terlihat lagi entah berada di mana.
Dan saat ini Jehan sedang bekerja di sebuah perusahaan IT yang cukup besar, gadis itu memang lebih memilih untuk bekerja di tempat lain, daripada di tempatnya sendiri.
Dia ingin mengasah kemampuannya di bidang IT, ingin sukses dengan cara nya sendiri.
Bukannya tak ingin bekerja di perusahaan keluarga, namun Jehan merasa akan lebih afdol jika dia mendapat pengalaman pekerjaan di perusahaan orang lain.
Toh pada faktanya ada kakak nya yang selalu siap sedia untuk perusahaan milik keluarga Dawson. Bahkan sampai saat ini laki-laki itu masih melajang dengan alasan ingin meningkatkan kemajuan perusahaan.
__ADS_1
"Jehan kok bengong si" Hanna melambaikan tangannya saat melihat gadis di depannya hanya diam tanpa menjawab ucapan nya.
"Eh, gw ngga sibuk, kenapa emang" Jehan menatap Hanna yang berdiri di hadapannya.
"Ngga si, cuma mau ngajak keluar aja. Udah lama ngga keluar bareng, minimal makan berdua lah" Hanna berkeliling di ruangan Jehan, sambil sesekali matanya melirik barang-barang yang tersusun rapi di ruangan Jehan.
Jehan memang bekerja sebagai system' manager perusahaan, sedangkan posisi Hanna tak jauh penting dari itu. Tak jarang mereka harus merelakan waktu tidur mereka karena pekerjaan yang padat.
"Gimana bisa ngga ?" Hanna kembali melempar pertanyaan, gadis itu menjadi kesal karena Jehan terus saja melamun sulit di ajak berbicara.
"Bisa, yaudah Lo keluar, gw mau menyelesaikan pekerjaan dulu, biar bisa pulang lebih awal" Hanna berdecak, namun gadis itu menurut dan memilih pergi. Karena pekerjaan nya sendiri pun belum selesai.
Jehan kembali fokus kepada pekerjaannya saat melihat pintu kembali tertutup, gadis itu bertekad untuk bisa menjadi teladan di perusahaan itu, karena Jehan sendiri punya keinginan untuk mendirikan perusaan IT sebesar ini, bahkan kalau bisa lebih besar dari ini.
***
Jehan berjalan dengan cepat keluar dari lift, gadis itu berjalan kearah lobi menghampiri Hanna yang nampak duduk manis di kursi sambil fokus dengan handphone nya.
"It's oke, yaudah kita langsung cari makan aja yuk, udah gw bela-belain ngga makan siang tadi biar bisa makan bareng Lo." ucap Hanna, Jehan merasa bersalah mendengar itu.
"Kenapa coba ngga makan duluan, kan aku jadi ngerasa bersalah" Hanna tersenyum mendengar ucapan temannya itu, gadis itu menepuk bahu Jehan pelan.
"Santai aja, udah ayo kita pergi"
Mereka berdua pergi ke restoran terdekat, memesan makanan serta minuman berdua.
"Je Lo pernah denger ngga si, kalau ternyata bos kita itu orang nya ganteng banget trus katanya tinggi gitu orangnya masih muda lagi." tiba-tiba Hanna berbicara tentang bos mereka, Jehan hanya diam seolah tak tertarik dengan perbincangan itu.
__ADS_1
"Jehan kok diam aja si" Hanna memasang ekspresi kesal karena temannya itu seolah tak peduli dengan ucapannya.
"Ya trus gw harus ngomong apa Na, mau gimanapun bos kita itu ngga ada urusannya sama kita."
"Ya tapi se hendaknya Lo jawab ucapan gw, emang lo ngga tertarik sama rupa bos kita" ucap Hanna.
"Ngga, sama sekali" jawab Jehan dengan jujur, Hanna kembali kesal, temannya itu sedari dulu tak pernah berubah selalu saja tak tertarik jika membahas seorang laki-laki.
"Besok hari libur kan, gimana kalau Lo nginep di rumah gw" Jehan berbicara sambil meminum minuman pesanannya.
"Ngga ah, gw mau di rumah aja" jawab Hanna
"Ngapain, toh di rumah lo juga ngga ada siapa-siapa kecuali pembantu" Jehan kembali berbicara, ucapannya terlihat seperti membujuk, namun memang pada faktanya Hanna sendirian di rumahnya, orang tua gadis itu sering berpergian di luar negeri bahkan sering menetap di sana dan hanya sesekali kembali ke Indonesia.
"Ngga enak lah Je, masak nginep mulu"
"Kenapa, ngga ada yang ngelarang juga. Papa sama Mama bahkan udah anggap kamu kaya anak mereka sendiri." Hanna memang sudah seperti seorang kakak untuk Jehan, Hanna lebih tua 3 bulan dari Jehan. Namun mereka terlihat seperti kembar karena sikap mereka yang seperti adik kakak.
"Aduh ngga enak banget aku tu"
"Punya rasa ngga enak juga Lo" Jehan menarik sudut bibirnya.
"Ih Lo mah"
"Udah ngga papa, udah biasa juga"
"Terserah deh" akhirnya Hanna memilih pasrah, mereka melanjutkan makan malam mereka yang seharusnya menjadi makan siang untuk mereka.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mereka memilih pulang ke rumah Dawson, karena Hanna akan kembali menginap di rumah Jehan hari ini.
Seolah menjadi sebuah rutinitas gadis itu selalu menginap di rumah Jehan setiap malam Minggu di mana besoknya kantor akan di liburkan.