Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Hati yang sulit untuk di mengerti


__ADS_3

Juna kembali duduk di tempat nya, laki-laki itu menoleh ke arah Jehan yang diam tanpa menampilkan ekspresi apapun.


Untuk saat ini Juna memang begitu sulit mengetahui suasana hati Jehan, karena gadis itu jarang mengutarakan isi hatinya, dan mood gadis itu susah untuk di tebak.


"Kamu kenapa ?" Juna menyentuh telapak tangan Jehan ketika gadis itu seperti tidak bersemangat, Juna tau sebenarnya Jehan bosan mengikuti acara ini, tapi tadi raut wajah gadis itu masih biasa-biasa saja tidak sedatar sekarang.


"Bete aja duduk mulu kaya gini, aku mau keluar" ucap Jehan, tanpa sadar gadis itu menyandarkan kepala nya di bahu Juna. Gadis itu merasa tubuhnya lemas tak bertenaga, seperti baru saja di serap habis.


Juna tersenyum, laki-laki itu memperhatikan sekeliling. Jujur dia sangat bahagia melihat Jehan yang mulai bersikap manis seperti ini, namun saat ini mereka berada di sekolah, semua pasti akan salah paham jika mereka terlalu dekat.


"Mau keluar ?" Juna berbisik di dekat wajah Jehan, Jehan mengangguk, tangan nya bersatu dengan tangan Juna, anggap saja gadis itu gila, sebentar sebentar membenci Juna setelah itu menempel pada Juna. Tapi jika boleh jujur bersandar seperti ini memang sangat nyaman.


"Ya udah ayo keluar" mereka berdua pergi meninggalkan aula, sepanjang jalan Juna terus menggenggam telapak tangan Jehan, Jehan tak menolak, gadis itu tidak mengerti akan hatinya sendiri, seolah dia memang ingin sekali tangan laki-laki di sampingnya itu menggenggam tangan nya selalu.


Semua murid nampak heran melihat pemandangan itu, pasalnya Juna dan Jehan sudah lama sekali tidak terlihat berdekatan.


Tapi tiba-tiba sekarang mereka kembali bersama menunjukkan kemesraan di depan umum seperti ini.


"Jehan" jalan mereka berdua terhenti, Jehan menoleh ketika mendengar namanya di panggil, Dion berada di hadapannya sambil tersenyum ke arah Jehan, sama sekali tak menoleh kepada Juna.


"Kamu di sini juga, aku pikir adik kelas lihat dari luar aula" ucap Dion


"Aku di ajak, tadinya juga ngga mau kok" jawab Jehan sambil melirik Juna, laki-laki itu diam namun tatapan nya menghunus ke arah Dion.


"Habis ini ada acara ngga Je, aku mau ajak kamu sama Fauza keluar" Dion berbicara, sama sekali tak terganggu dengan tatapan yang Arjuna berikan.


"Sebenarnya sih"


"Jehan mau keluar sama gw" belum sempat Jehan menyelesaikan ucapan nya, Juna sudah lebih dulu menimpali, tangan laki-laki itu masih setia menggenggam telapak tangan Jehan, Dion melirik pertautan tangan itu sekilas lalu ikut menatap Juna dengan tatapan permusuhan.

__ADS_1


"Dia pacar kamu Je ?" tanya Dion masih dengan tatapan yang tak lepas dari Juna.


"Em"


"Iya pacar gw, jadi Lo ngga usah berharap bisa Deket sama Jehan, dia cewe gw paham" Juna menekan ucapannya, bahkan laki-laki itu tak membiarkan Jehan berbicara sama sekali.


Tanpa menunggu balasan Dion, Juna segera membawa Jehan pergi, wajah laki-laki itu merah padam karena kesal, Jehan mendengus kesal, kenapa coba laki-laki itu marah seperti mengetahui pacarnya selingkuh, padahal Jehan kan bukan pacar laki-laki itu.


"Pelan-pelan dong langkahnya, aku susah ngikutnya" Jehan menarik lengan Juna, Juna masih kesal tapi laki-laki itu memperlambat jalannya, namun tetap tak melepaskan tangan Jehan.


Sementara itu di salah satu sudut sekolah, nampak seorang perempuan yang sedari tadi memperhatikan Jehan, perempuan yang akhir-akhir ini sering sekali menghindar dan lebih banyak diam.


Rasa bersalah nya kepada Jehan membuat perempuan itu tak berani meski hanya sekedar menghampiri Jehan.


"Samperin dong, masak iya pertemanan Lo rusak cuma gara-gara Lo menghindari temen Lo sendiri. Dulu aja waktu Jehan dapat masalah Lo yang belain dia di barisan paling depan. Sekarang malah sembunyi-sembunyi kayak pecundang."


Hanna menoleh, menatap gadis di belakangnya yang saat ini tersenyum sinis, Hanna mendengus, teman alumni nya itu memang suka sekali mencari masalah, untung saja Hanna tipikal orang yang tenang dan tidak terlalu banyak bicara.


"Emang lo nya aja yang penakut, ngga punya nyali" ucap Airin sambil tersenyum sinis. Hanna tidak menjawab, memilih pergi meninggalkan gadis itu.


Hanna pulang dari sekolah, gadis itu mampir sebentar di jalan untuk membeli cemilan. Kebetulan dia sedang ingin cemilan yang di jual di jalan.


Gadis itu duduk tenang di kursi nya. Sambil melihat sekeliling dimana jalanan tampak di penuhi oleh kendaraan yang berlalu lalang.


"AWASS" gadis itu berlalu tanpa memperhatikan sekeliling, menarik lengan anak laki-laki yang tadi hampir saja tertabrak. Mereka terjatuh, dengan Hanna yang nampak berguling memeluk anak itu.


"Aw" Hanna mendesis saat merasa sakit di siku dan lutut nya. nampak terlihat darah yang keluar sehingga membuat rok Hanna berwarna merah.


"Hanna" gadis itu terdiam saat mendengar nama nya di sebut.

__ADS_1


"Em Hanna kamu ngga papa" laki-laki yang baru saja datang itu menggenggam tangan kecil nya, tangan satunya berada di pinggang ramping Hanna membantu gadis itu untuk berdiri.


"sssss" Hanna tampak mencari anak kecil yang baru saja dia selamatkan, anak itu tampak terduduk di ujung jalan dengan raut wajah shock.


"Ayo kita minggir dulu" Ucap laki-laki itu, Hanna melangkah dengan tertatih-tatih lutut nya terasa panas karena tadi bergesekan dengan aspal.


"Adek ngga papa ?" Hanna bertanya sambil duduk di samping anak itu, anak itu terdiam namun tangannya meraba sekeliling ternyata anak itu berusaha mencari tangan Hanna.


"Makasih ya kak, kakak udah nolongin aku" ucap anak itu, Hanna melambaikan tangan nya di depan mata anak itu, namun anak itu menatap kosong.


Hanna menghela nafas, pantas saja anak tadi tidak menghindar saat ada mobil yang melaju ke depan hampir menghempaskan tubuhnya.


"Iya ngga papa, jangan main di jalanan dek, di pinggir aja. Di jalan kan banyak kendaraan" nasehat Hanna, dia tau anak itu mungkin sedang mencari rezeki namun kondisi anak itu yang tidak dapat melihat menjadi pembatas untuk tidak terlalu memaksakan diri.


"Iya kak sekali lagi makasih" sahut anak itu sambil tersenyum.


"Hanna tadi kamu naik apa" Hanna menoleh, menatap wajah laki-laki yang tadi membantunya.


Dia termenung beberapa detik, sampai detik berikutnya dia berdiri dengan cepat dengan raut wajah kaget.


"Aw" gadis itu kembali merintih karena lutut nya kembali mengeluarkan darah.


"Hati-hati dong dek ah" Laki-laki itu berdecak sambil menggelengkan kepala, dari dulu sifat Hanna tak juga berubah tetap aja bar-bar.


Tanpa permisi laki-laki itu menggendong Hanna ala bridal style berjalan menuju mobilnya.


Jantung Hanna berpacu, berdetak kencang, gadis itu mengigit bibir bawahnya, harum tubuh laki-laki itu tercium sampai hidung nya, Hanna sedikit malu karena tampilan nya yang saat ini kucel dengan baju seragam sekolah yang sedari pagi dia pakai. Apalagi banyak pasang mata yang saat ini menatap aneh ke arah mereka berdua.


Alarick menurunkan tubuh Hanna di dalam mobil miliknya, tangan laki-laki itu bergerak mencari sesuatu. Setelah ketemu dengan apa yang dia cari, dengan cepat tangannya menyibak rok yang Hanna kenakan.

__ADS_1


"Kakak mau apa" spontan Hanna menahan tangan Alarick yang baru saja ingin menyibak rok sekolah nya. Hanna memang mengenal laki-laki itu namun tidak dekat.


Kakak nya Jehan itu lebih sering di perusahaan dari pada di rumah, sehingga saat di rumah Hanna pasti canggung saat bertemu.


__ADS_2