
Jehan duduk di tempat duduk nya, sambil mata nya sesekali melihat sekeliling memastikan Juna sudah berangkat atau belum. Dapat Jehan lihat laki-laki itu duduk tenang di tempat duduk nya, di samping nya terdapat gadis cantik, teman sebangku nya saat ujian.
"Arum nanti kita pulang bareng ya" tiba-tiba ada gadis yang tak kalah cantik nya menghampiri meja Juna, Jehan baru tau jika gadis di samping Juna bernama Arum, namun dia memilih mengalihkan tatapan nya, tidak lagi menatap Juna.
Tett, bel berbunyi menandakan ujian akan segera di mulai. Guru pengawas mulai memasuki ruangan. Semua siswa yang sedari tadi berisik dan mengobrol pun seketika terdiam, dan duduk dengan rapi di bangku nya masing-masing.
"kita berdoa dulu, sebelum melaksanakan ujian, berdoa agar kalian mendapat nilai yang memuaskan" guru mulai memimpin doa, Jehan memperbaiki duduk nya, dan mulai ikut berdoa bersama yang lainnya.
"baiklah ujian bisa di mulai, jangan ramai, hati-hati dalam memilih jawaban. Jangan terburu-buru." ucap Guru pengawas sambil membagikan lembar kertas ujian.
"baik Bu" balas para siswa-siswi
Setelah beberapa jam berlalu, kini 3 ujian dengan mata pelajaran berbeda pun telah terselesaikan. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Para siswa keluar dari ruangan kelas nya masing-masing, Jehan berjalan ke arah parkiran untuk menunggu ke empat temannya.
"Jehan" Jehan merasa tangannya di tarik, dia menatap seseorang yang sudah menarik tangannya tadi. Ternyata itu adalah Juna.
"kenapa ?" tanya Jehan
"mau langsung pulang ?" Jehan menganggukkan kepala nya, dia memang rencana nya ingin langsung pulang. Setelah teman-teman nya selesai dengan urusan mereka.
"padahal kakak mau ajak kamu" Jehan menatap Juna, laki-laki itu juga sedang menatap nya.
"kemana ?"
"ke taman yuk"
"ngga ah males, pasti di sana ramai deh"
"ya cari tempat sepi dong dek, kan luas taman nya. Udah yuk pokok nya ikut kakak" Juna menggenggam telapak tangan gadisnya, lalu menarik nya berjalan menuju parkiran.
"kamu tadi naik apa ?" tanya Juna
"naik motor" Jehan menunjuk motornya menggunakan dagu
__ADS_1
"padahal Kakak mau ajak kamu naik bus" Juna dan Jehan berjalan ke arah motor Jehan yang terparkir.
"bus ?" tanya Jehan, selama ini dia belum pernah naik bus. Paling juga naik mobil, sewaktu melakukan wisata sekolah pun dia memilih untuk naik motor sendiri, bersama ke empat temannya.
"iya, kamu belum pernah kan pasti" Jehan mengangguk, memang belum pernah sih.
"nih, kakak yang setir motornya" Jehan memberikan kunci motor kepada Juna, gadis itu akan memberikan pesan terlebih dahulu kepada ke empat temannya, agar tidak menunggu dan mencari nya.
Juna menangkap kunci yang Jehan berikan, laki-laki itu menaiki motor dan mulai menyalakannya. Jehan memegang bahu Juna dan mulai naik ke atas motor.
"pegangan ya, biar cepat sampai" ucap Juna sambil melihat Jehan dari kaca spion
"ngga ah, udah biasa di bonceng ngebut, udah jalanin motor nya" Jehan merasa terganggu dengan ada nya kamera Cctv, memang di parkiran sekolah ada dua kamera Cctv, bukan apa-apa dia hanya takut jika yang membuka kamera Cctv adalah orang yang mengenalnya.
"iya" Juna mengendarai motor menjauhi sekolah, laki-laki itu menjalankan motor nya santai, udara sedang tidak terlalu panas, jadi tidak perlu ngebut untuk cepat sampai.
Juna memarkirkan motor di depan taman, dia membiarkan Jehan turun terlebih dahulu
Laki-laki itu membawa gadisnya ke arah taman samping yang tidak terlalu ramai dikunjungi. Ada beberapa kursi untuk tiga orang, Juna membawa Jehan duduk di salah satu kursi itu.
"kakak bisa merakit sistem' komputer tidak" Juna menoleh menatap perempuannya yang saat ini sedang menatap nya juga.
"ngga jago sih, tapi sedikit paham lah. Memang jarang belajar kalau merakitnya kakak" jawab Juna sambil berdiri.
"bentar ya dek kakak mau beli minuman dingin dulu, kamu mau rasa apa ?" tanya Juna sambil menatap Jehan
"alpukat aja kak, pakai coklat ya"
"iya, sebentar ya kakak beliin dulu" Juna pergi setelah mendapat anggukan dari Jehan
Jehan mengecek handphone nya, terdapat beberapa pesan yang masuk dari teman-temannya. Gadis itu membalas pesan teman-teman nya satu persatu.
"nih jus kamu" Jehan mendongak, dia kaget saat melihat Juna berdiri di depannya sambil menggenggam tangan anak kecil usia 10 tahunan.
__ADS_1
"terimakasih" Juna mengangguk dan kembali duduk di samping Jehan
"sini dek duduk deket kakak" Jehan menatap anak yang Juna ajak bicara, anak laki-laki itu tampak diam sambil menatap nya takut, apakah dia terlihat mengerikan pikir Jehan.
"hai adek manis, sini duduk sama kak Juna dan Kak Jehan" Jehan ingin merangkul anak itu, namun anak itu terlebih dahulu lari ke samping Juna, berusaha untuk menjauhi Jehan.
"kamu takut ya sama kakak, emang kelihatan serem banget ya ?" anak itu mengangguk, membenarkan apa yang Jehan katakan, gadis itu berdecak, mana mungkin dia seram, muka dia itu imut dan banyak yang memuji nya memiliki muka yang terlihat menggemaskan. Tapi banyak yang bilang jika ucapan anak kecil itu adalah yang paling jujur.
Jehan menghela nafas pelan, kembali duduk di tempat nya, Juna terlihat tertawa saat melihat wajah nya.
"maaf ya, dia emang pendiam anak nya. Terus sedikit takut kalau ketemu orang baru" Juna mengusap rambut anak laki-laki di samping nya, anak itu masih terlihat takut dengan keberadaan Jehan.
"nama nya siapa dek ?" Juna bertanya ke pada anak itu yang diam sedari tadi
"Farid kak" ucap anak itu
"kenalan dulu sama kakak nya, masa ngga mau dia ngga jahat kok" Jehan tersenyum kepada anak itu, lalu anak itu maju dua langkah dan mengacungkan telapak tangan nya.
"hai, kenalin nama kakak Jehan" Jehan menggendong anak itu untuk duduk di samping nya, anak itu gemetar mungkin masih merasakan takut.
"adik jangan takut ya, kan laki-laki harus berani" Jehan mengusap kepala anak itu dengan lembut, menatap anak itu dengan tatapan teduh agar tidak menakuti anak itu.
"iya kak, nama aku Farid" anak itu sudah lebih tenang, badan nya juga sudah tidak gemetar seperti tadi.
"kok bisa kenal sama kak Juna, kapan kenalannya loh" Jehan menatap Juna yang tersenyum sedari tadi, laki-laki itu menatap nya dalam dan lembut, Jehan kembali menatap anak kecil di sampingnya.
"waktu itu kak Juna nganter aku pas aku tersesat di taman ini" anak itu sudah mulai lancar dalam berbicara
"trus tadi kok bisa bareng, ketemu di mana ?" tanya Jehan sedikit penasaran
"ketemu waktu beli minuman kak, trus di bawa kak Juna kesini deh" Jehan tidak berhenti mengusap rambut anak di samping nya, dia memang tidak pernah punya adik, jadi dia antusias jika bertemu dengan anak kecil.
"di usapin terus itu rambut, aku bisa cemburu ya dek" Jehan mengalihkan tatapannya kepada Juna yang sekarang menatap nya datar, Jehan terkekeh pelan namun tidak berhenti untuk mengusap rambut adik laki-laki di sampingnya.
__ADS_1