
Juna mengerjapkan matanya saat mendengar suara petir yang menggelegar memenuhi penjuru langit. Remaja yang berumur 17 tahun itu turun dari ranjang besar di rumah keluarga Dawson.
Ya, saat ini laki-laki itu masih berada di rumah keluarga Jehan, bukan tanpa alasan Juna tidur di rumah itu, tadi malam dia bersiap untuk pamit pulang ke rumahnya. Namun mama Jehan melarang dengan alasan hujan yang masih turun dengan deras, dan juga karena merasa bersalah karena anak sulung nya memukul nya karena tragedi salah paham.
Juna menatap sebuah jam yang berada di atas nakas, di samping ranjang, jam menunjukkan pukul 01.50 , Juna berdiri, berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar, ada sedikit rasa tidak percaya diri ketika melihat hidup Jehan yang serba mewah, sedangkan hidupnya saja jauh dari kata baik.
Juna merasa semakin rendah ketika melihat betapa sempurna nya hidup Jehan, namun laki-laki itu sudah bertekad untuk terus berusaha mendapatkan Jehan, walaupun mungkin dia harus berjuang dengan keras.
Juna mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat malam, sholat yang rutin dia lakukan ketika berada di rumah, air yang dingin itu cukup membuat Juna merasa fresh.
Laki-laki itu mengambil sajadah yang berada di meja, yang tersusun rapi dengan beberapa Al-Qur'an. Lagi-lagi Juna dibuat kagum dengan keluarga Jehan, meskipun sibuk namun masih menyimpan beberapa alat sholat yang lengkap di kamar tamu.
setelah sholat Juna mengambil salah satu Al-Qur'an yang berjejer rapi, mulai membuka dan membaca nya dengan suara lirih. Suara bacaannya tenggelam dan tertelan oleh suara petir yang terus bersahut-sahutan malam itu.
setelah membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an, Juna pun mulai membersihkan kamar yang dia tempati, melirik jam yang masih menunjukan pukul 03.05 hari yang masih cukup petang, namun untuk tidur Juna sudah tidak tertarik.
Karena dia sulit untuk tidur ketika sudah terbangun, laki-laki itu memilih keluar untuk mengambil air minum, mungkin sekalian melihat suasana luar yang sepi, kamar tamu yang berada di lantai bawah memudahkan Juna untuk menemukan dapur, Juna menuang air putih di meja ke gelas, meneguknya sedikit.
"ngapain lo" Juna tersentak karena kaget, untung saja gelas yang berada di genggamannya tidak jatuh, laki-laki itu menoleh, dan mendapati perempuan dengan memakai baju lengan pendek dan celana kain dengan warna senada menatap ke arahnya, dengan rambut yang terurai bebas dengan sedikit acak-acakan.
walau cahaya dalam keadaan remang-remang, tapi Juna sudah tau dengan jelas bahwa perempuan itu tak lain adalah Jehan.
"ditanya malah bengong, gimana si" Jehan berjalan ke arah kulkas, menuang air dingin itu dan meminumnya karena haus, air di kamar nya telah habis, jadi gadis itu terpaksa turun untuk menghilangkan rasa hausnya. Tidak menyangka dan sedikit kaget ketika mendapati Juna juga berada di dapur dengan gelas yang berisi air di genggamannya.
__ADS_1
"eh" Juna tersadar dari lamunannya, laki-laki itu menggaruk tengkuknya merasa bodoh karena melamun, laki-laki itu menatap pergerakan Jehan yang duduk di hadapannya sambil menatap nya dengan mata menyipit.
"ngga di jawab ni pertanyaan gw ?" tanya Jehan
"em, aku habis ambil minum, haus banget tadi habis sholat" jawab Juna sambil tersenyum, meskipun senyum itu tidak dapat dilihat oleh Jehan karena cahaya yang temaram.
"sholat ?" tanya Jehan, gadis itu mengernyitkan dahi. Sedikit tidak yakin jika laki-laki seperti Juna rajin dalam hal ibadah.
"heum" Juna menganggukkan kepala yakin, Jehan diam tak lagi menangapi ucapan Arjuna.
"kamu tadi udah sholat Je" tanya Juna, Jehan menggeleng jujur. Karena tadi gadis itu terbangun karena haus, mana sempat keinget untuk melakukan Shalat. Shalat saja dia melakukan jika mempunyai niat.
"sholat dulu gih, mumpung waktu nya masih boleh, nanti keburu telat. Pahala nya besar sholat malam" ucap Juna, Jehan diam terlihat tidak tertarik dengan ucapan Juna.
"bukannya sama aja sama sholat fardhu ?" tanya Jehan, sholat malam hanya sholat Sunnah, yang paling penting sholat wajib kan.
Sebagaimana Rasulullah bersabda, "Wahai kalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambung lah tali persaudaraan, dan shalat lah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam, niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat." (HR. Ibnu Majah). Dan sholat malam itu mempunyai segudang manfaat selain memberikan pahala yang besar. Seseorang yang melakukan sholat malam biasanya doa nya banyak terwujud. Jangan sia-sia kan sholat Je. Beruntung karena kamu terbangun jadi kamu dapat melaksanakan perintah Allah." ucap Juna panjang lebar, Jehan melongo sambil mengerjapkan matanya.
"emang bener doa nya terwujud ?" tanya Jehan
"insyaallah atas kehendak Allah" jawab Juna
"tapi lo temani gw ya, soalnya gw ngga hafal niat sholat itu" ucap Jehan lirih, gadis itu malu, ketahuan sekali jika dia tidak pernah melakukan sholat malam.
__ADS_1
"iya ngga papa, yang penting mau belajar. Masya Allah"
"kita sholat dimana ?" tanya Jehan
"em itu, kita sholat di kamar tamu aja ngga papa, nanti pintu nya di buka biar ngga jadi salah paham" ucap Juna, Jehan mengangguk paham.
"bisa caranya wudhu ?" tanya Juna setelah mereka tiba di kamar tamu, pintu terbuka lebar agar jika ada yang melihat tidak menjadi prasangka buruk.
"bisa kalau itu" Juna mengangguk membiarkan Jehan berjalan ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu, laki-laki itu duduk di tepi ranjang menunggu Jehan.
Juna memberi arahan dan niat sholat tahajud kepada Jehan, gadis itu mengangguk faham, mulai memakai mukena yang berada di tempat yang sama dengan sajadah.
"Masya Allah cantik sekali" Juna memperhatikan Jehan yang mulai menggelar sajadah, dan melaksanakan sholat. Jujur ada perasaan bersalah ketika mengingat dirinya yang telah mencium bibir Jehan dengan paksa, perbuatan itu adalah perbuatan tercela yang membuat Allah murka. Namun Juna juga manusia biasa, laki-laki itu bisa melakukan kesalahan.
"kamu cantik kalau pakai mukena, pasti lebih cantik kalau memakai kerudung" Juna tersenyum lembut menatap netra coklat Jehan yang menatap nya, gadis itu baru saja menyelesaikan salatnya.
"kalau di sekolah kan bajunya pendek, mana bisa pakai kerudung" ucap Jehan, gadis itu masih duduk di tempat nya dengan mukena yang menutupi tubuhnya.
"bisa ganti pakai seragam panjang kan ?" tanya Juna
"ngga aku belum siap, takut nanti lepas lagi kalau pakai hijab. Jadinya ngga Istiqomah" jawab Jehan, lagi-lagi Juna tersenyum.
"yaudah ngga papa, dijaga sholat lima waktu nya, kalau bisa di sempetin bangun malam trus sholat. Nanti kalau kamu jadi istri kakak, kakak mau kamu pakai hijab terus ya" Juna tersenyum, sedangkan Jehan yang tadi nya tersenyum perlahan melunturkan senyumnya. Wajah gadis itu berubah datar mendengar ucapan Juna.
__ADS_1
"jangan mimpi" desis Jehan kesal
"takdir ngga ada yang tau dek" Juna tersenyum manis.