Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Hati Yang Retak


__ADS_3

"Assalamualaikum ma" hening, dalam beberapa detik tak ada sahutan dari lawan bicaranya, gadis yang saat ini sedang berada di kantor sambil sesekali memeriksa pekerjaannya itu nampak menunggu sahutan dari lawan bicaranya.


"Halo ma, apa mama dengar ?" gadis itu kembali bersuara saat tak mendengar sahutan dari seseorang yang sedang di hubungi.


"Iya, kenapa Na ?" akhirnya sahutan itu terdengar, gadis itu menghela nafas dan menjelaskan kepada mama nya bahwa dia akan pulang terlambat.


"Oh, ya udah ngga papa" jawaban yang terdengar itu membuat gadis itu mendesau kecewa. Hati kecilnya merasa bahwa orang tuanya itu memang tak benar-benar menyayanginya, itulah yang membuatnya terkadang tidak peduli bahkan tak memberitahu orang tuanya jika dia akan pulang telat. Tanggapan dari orang tuanya selalu saja membuatnya kecewa.


"Ya udah Hanna matiin telfon nya" bahkan karena terlalu kesal, gadis itu menutup telfon tanpa mendengar jawaban mama nya, jawaban mama nya membuatnya merasa kecewa. Kadangkala dia ingin kembali seperti dulu, dimana orang tuanya akan terus mengawasi dan melarang nya ini itu, orang tuanya yang sekarang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga membuat seperti tidak peduli akan sang putri.


Mood yang buruk membuat Hanna malas untuk terus bekerja, gadis itu merasa percuma karena otak nya sedang kacau, dan orang tuanya lah penyebab semua itu.


Gadis itu mengambil tas nya dan berjalan keluar kantor dengan terburu-buru, masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, andai saja dia bisa meminta dia ingin sekali kehidupannya berubah seperti dulu. Di mana dia masih bisa merasakan perhatian dari orang tuanya.


Mobil gadis itu berhenti di sebuah club malam, ntah apa yang membuat gadis itu begitu berani memasuki club malam. Padahal selama ini gadis itu begitu taat akan peraturan dari orang tuanya untuk tidak menginjakkan kakinya di tempat haram itu.


"Tak apa, aku cukup dewasa untuk ini, dan aku juga sudah sering minum alkohol. Ku pikir ini tak terlalu rumit" dengan langkah mantab gadis itu memasuki tempat itu, hingar bingar musik yang begitu memekakkan telinga membuat jantung gadis itu terasa bergetar, gadis itu memilih untuk duduk di pojok, karena tak ingin di lihat banyak mata.


Hanna memesan minuman dengan kadar alkohol yang rendah, gadis itu memang tak berniat untuk mabuk, dalam 3 gelas pun gadis itu masih mampu, karena memang sudah sering mengonsumsinya sewaktu sekolah dulu.

__ADS_1


Namun karena di dorong oleh pikiran yang kalut, gadis itu terus meminta untuk di tuangkan minum, padahal kepala nya sudah terasa berat dan pusing. Perut nya pun terasa seperti terbakar karena belum makan tadi.


Gadis itu menyandarkan kepala nya di meja sambil tersenyum getir, kepala nya terasa berputar dan bulir bening menetes dari mata yang jarang basah itu, dari sini dia paham bahwa tidak menyenangkan menjadi orang berada, semua terasa begitu hampa, Hanna merasa seperti kekurangan kasih sayang, padahal jika boleh jujur, dia masih membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya.


Karena tak kuat dan kepala nya terasa semakin berat akhirnya gadis itu memilih untuk beranjak pulang, namun gadis itu terjatuh karena tersenggol, club itu begitu banyak di padati orang sehingga semua berdesakan, gadis itu meringis saat merasakan kaki dan tangan nya terinjak oleh lautan manusia yang saat ini terlihat seperti sedang berpesta, bahkan musik terdengar semakin memekakkan telinga.


Karena tak kuat dengan kepalanya akhirnya gadis itu pingsan, kepala nya terasa begitu sakit dan Hanna tak mampu untuk terus sadar.


***


Hanna mengerjapkan mata sambil meringis ngilu, gadis itu merasa tubuhnya sakit dan tak mampu untuk bergerak, matanya memindai sekeliling, saat ini dia sedang berada di sebuah ruangan dengan dinding yang serba hitam, kamar ya sepertinya, kamar itu begitu luas dengan balkon dan jendela yang cerah karena di sinari matahari.


"Syukurlah kamu sudah bangun" mendengar suara berat yang tak begitu asing membuat Hanna menoleh ke arah suara itu, nampak seorang laki-laki dewasa yang berjalan ke arahnya dengan tubuh basah, sepertinya laki-laki itu baru saja berenang.


"Kamu bisa pulang sekarang" ucap laki-laki itu sambil berjalan ke arah Walk-in closet, tanpa ragu laki-laki itu membuka baju menampilkan tubuh seksi yang selama ini selalu terbungkus jaz kerja.


Hanna menelan ludah kasar, kenapa dia tergoda dengan pandangan itu, gadis itu mengigit bibir, rasanya ingin sekali meraba tubuh seksi itu.


"Kondisikan matamu, jangan jadi gadis dengan pikiran kotor" Hanna mencebik, gadis itu memeluk guling di sampingnya dengan erat, membayangkan jika yang dia peluk itu Alarick kakak Jehan.

__ADS_1


"Kakak yang bawa aku kesini" tanya Hanna sambil memandang kakak temannya itu, ya laki-laki yang membantunya adalah Alarick kakak Jehan, laki-laki dengan tubuh seksi favorit para kaum perempuan.


"Terpaksa" tekan laki-laki itu, namun Hanna tetap tersenyum, untung saja dia bertemu Alarick coba kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padanya nanti.


"Terimakasih kak, kakak memang penolong untukku" ucap gadis itu dengan sumringah, gadis itu duduk dan meringsek ke pelukan Al. Bahkan Hanna dengan sengaja menduselkan kepalanya di dada laki-laki itu, Harum tubuh Alarick terasa begitu candu untuknya. Baiklah mulai saat ini bau tubuh Alarick masuk ke dalam ruang favoritnya.


"Ngga usah berlebihan" laki-laki itu mencoba melepaskan tangan Hanna, namun Hanna memeluk nya kuat, gadis itu tetap mempertahankan posisinya.


"Hanna" tekan Alarick, Hanna tak peduli bahkan gadis itu dengan berani mencium bibir Al.


Bahkan bibir saja terasa secandu ini, oh ternyata seindah ini jatuh cinta, hati gadis itu meletup-letup karena euforia bahagia. Sederhana memang, namun bisa membuatnya nyaris gila.


Saat akan melepaskan ciuman itu Al menahan tengkuk nya, memperdalam ciuman mereka bahkan lidah laki-laki itu masuk lebih dalam dan membelit lidahnya. Jelas saja Hanna merasa kewalahan, karena selama ini gadis itu tak punya pengalaman sama sekali dalam berciuman, yang dia tahu hanya menempelkan bibir dan menggerakkannya sedikit. Ternyata seperti ini ciuman sebenarnya.


Gadis itu mendorong Al saat merasa paru-paru nya terasa sesak karena tak bisa bernafas. Gadis itu menghirup udara sebanyak mungkin untuk menetralkan pernafasannya.


"Lain kali jangan memancingku, jadilah gadis yang sewajarnya, jangan jadi gadis murahan yang selalu saja mendekati laki-laki. Kamu tak tau sebahaya apa mereka" ucapan Al yang mengatakannya murahan membuat hati Hanna hancur, gadis itu tertawa getir dengan air mata yang kembali menetes, nyatanya memang hidupnya yang begitu suram. Apakah semua orang yang dia cintai hanya bisa menyakiti hatinya ?


Tanpa mengatakan apapun Hanna pergi dari tempat itu, mengabaikan kakinya yang berdenyut sakit, hatinya lebih sakit jika di bandingkan luka itu. Percayalah, dia sama sekali tak menyangka jika Alarick bisa bicara sekasar itu.

__ADS_1


__ADS_2