Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Bingung


__ADS_3

Brak


Ciuman mereka terhenti, Jehan terdiam dengan wajah memerah. Gadis itu merasa malu karena ketahuan sedang berciuman dengan Kenzie.


Sedangkan Kenzie, laki-laki itu hanya diam dengan wajah tenang, seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Tebal sekali mukanya sampai tidak merasa malu sama sekali " batin Jehan.


"Maaf tuan saya tidak sengaja" bibi yang baru saja menyenggol pot bunga itu meminta maaf dengan raut wajah takut. Kenzie tersenyum, laki-laki itu mengangguk kepada bibi.


Jehan terdiam, gadis itu merasa sedikit kagum dengan sikap Kenzie yang tenang dan tak mudah emosi. sangat jarang sekali seseorang bisa bersikap setenang itu bahkan ketika ada seseorang yang mengganggunya. Namun Jehan sedikit merasa beruntung karena kehadiran bibi itu aktifitasnya dengan Kenzie terhenti. Jehan mengumpat dirinya sendiri karena terhanyut dengan ciuman laki-laki di sampingnya itu.


"Ayo kita makan, kamu pasti lapar kan" Kenzie membuyarkan lamunan Jehan, laki-laki itu saat ini sudah berdiri di hadapan Jehan dan menarik telapak tangan gadis itu untuk berdiri.


Jehan menurut, mereka kembali masuk ke dalam rumah, Kenzie membawa Jehan ke ruang makan dan menarik kursi untuk Jehan duduk.


Tersedia banyak sekali makanan di meja makan itu, Jehan menelan ludahnya, dia memang merasa lapar sedari tadi namun dia menahannya.


"Kamu mau apa, biar aku yang ambilkan ?" tanya Kenzie, Jehan kembali terdiam.


"Aku bisa sendiri" ucap Jehan, merasa tidak enak kepada laki-laki di hadapannya itu.


"Baiklah, kalau begitu tolong ambilkan aku nasi" ucapan Kenzie membuat Jehan menatap laki-laki itu langsung, Kenzie tersenyum sambil menyodorkan piring kosong. Jehan sebenarnya ingin protes namun engan. Dengan menghela nafas Jehan mengambil piring itu dan mengisinya dengan nasi.


"Sini, aku akan mengambilkan lauk untukmu" Kenzie mengambil piring milik Jehan dan menaruh banyak lauk, seperti sayur, ayam goreng, sambal, dan masih banyak lauk yang ada di piring Jehan.


"Banyak banget, siapa yang makan ?" tanya Jehan


"Kamu memang harus banyak makan, biar sehat dan ngga gampang sakit" ucap laki-laki itu sambil menaruh piring yang sudah terisi banyak makanan itu di depan Jehan.

__ADS_1


Jehan menghela nafas, ada ya spesies makhluk seperti Kenzie di dunia ini. Gadis itu menggelengkan kepala nya.


"Kalau aku ngga habis, kamu yang habisin" ucap Jehan dengan kesal.


"Dengan senang hati, apa perlu kita makan satu piring berdua. Mumpung piringku belum terisi lauk" Jehan hanya melotot gemas, gadis itu menyuapkan makanan di piring ke dalam mulutnya, tak lagi memperdulikan ucapan Kenzie.


Mereka makan dalam hening, tak ada yang berbicara, hanya terdengar suara sendok yang berbenturan dengan piring.


Selesai makan, mereka kembali terdiam, hingga terdengar suara bunyi handphone yang nyaring milik Jehan.


Jehan dan Kenzie sama-sama menoleh, terpampang nama Dion di handphone milik Jehan. Jehan menatap Kenzie, laki-laki itu menatap nya dengan wajah datar. Perlahan Jehan mengangkat panggilan itu.


"Halo"


"Halo Je, kamu di mana ?"terdengar suara di sebrang sana.


"Aku lagi ada di luar, kenapa memang ?" tanya Jehan.


"Keluar, ke mana ?" belum juga Dion menjawab, handphone di telinganya itu di ambil oleh Kenzie dan di matikan tiba-tiba.


"Kamu" Jehan ingin marah, namun saat melihat wajah Kenzie yang menyeramkan dia memilih untuk diam.


"Apa ? mau marah" Jehan hanya mampu menghela nafas, saat ini dia sudah seperti seorang wanita yang sedang resah menghadapi sikap kekasihnya yang cemburuan. Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Gitu aja marah, emang punya hak apa" ucap Jehan ketus, gadis itu tersentak saat lengan nya di tarik hingga kini kepala nya berada di depan perut Kenzie yang tanpa dia ketahui berada di sampingnya saat ini.


Jehan menelan ludah nya saat melihat tatapan yang Kenzie berikan, kenapa dia harus takut dengan laki-laki itu jujur dia tidak tau. Tapi dia merasa takut ketika melihat laki-laki itu bersikap seperti saat ini.


"Hak ? aku cuma ngga suka kamu telfon atau bicara sama laki-laki lain saat kita bersama. SALAH ?" Jehan spontan menggeleng.

__ADS_1


"Maaf" ucap Jehan mengalah, pegangan tangan Kenzie mengendur, laki-laki itu mendekatkan kursi mereka dan duduk di sampingnya, menarik tubuhnya sehingga kini Jehan berada dalam pelukan laki-laki itu. Jehan merasakan usapan lembut di kepala nya. Terkadang dia merasa heran dengan sikap Kenzie. Padahal jelas mereka baru bertemu beberapa Minggu lalu, namun sikap laki-laki itu begitu posesif seperti seorang kekasih.


"Kamu tau Je, aku tak pernah suka jika melihatmu dekat dengan laki-laki lain" Jehan masih terdiam. Gadis itu membiarkan Kenzie memeluk tubuhnya. Dia memang selalu di buat mati kutu dengan sikap laki-laki itu.


"Dan aku tak mau kamu dekat dengan laki-laki manapun, bahkan jika itu Dion sekalipun"


"Tapi kami terikat perjodohan"


"Dan aku tak pernah peduli dengan itu semua, persetan dengan perjodohan" ucap laki-laki itu dingin. Bahkan suara nya terdengar begitu menyeramkan ketika sedang marah seperti ini.


"Kamu milik ku Jehan sampai kapanpun itu" Jehan mendongak, tatapan laki-laki itu begitu lembut dan meneduhkan, siapa coba yang tidak akan bergetar hatinya jika di tatap seperti itu.


"Iya-iya aku milikmu" Jehan mencoba melepas rengkuhan Kenzie, namun laki-laki itu sepertinya tak ingin melepasnya karena rengkuhan tangan itu begitu kuat.


"Bisa kamu melepaskan tanganmu, aku ingin pulang" ucap Jehan pada akhirnya, dia tak mungkin juga berada di rumah asing ini terus.


"Secepat itu ?" ucap Kenzie dengan ketus, Jehan menoleh berusaha memahami isi hati laki-laki di sampingnya ini.


"Lalu, memangnya aku harus apa. Aku tak punya kepentingan lagi kan disini ?"


"ck, aku hanya ingin kamu menemani ku saat ini. Aku bosan sendirian Jehan" Jehan mengernyitkan dahinya, namun Kenzie segera menarik tangannya dan mengajaknya ke tempat lain.


Laki-laki itu membawanya ke sebuah lorong yang tampak gelap karena dinding yang tinggi sehingga tak tertembus cahaya luar.


Sampai di suatu pintu kayu, Kenzie membuka pintu itu dan terlihat sebuah danau yang cukup besar dengan halaman yang begitu indah dan asri.


Kenzie menarik tangannya dan mengajaknya duduk di sebuah kursi panjang yang tak jauh dari danau. Udara berhembus kencang, menyibak rambut Jehan.


"Ini kita di mana sih sebenarnya" ujar gadis itu dengan raut wajah bingung, apakah mereka sedang menyebrangi mesin waktu ? bukankah tadi mereka di rumah Kenzie, kenapa bisa sekarang berada di halaman yang begitu luas, bahkan terdapat danau yang begitu indah.

__ADS_1


"Di suatu tempat, di mana hanya kita yang tau" jawab Kenzie sambil menatap Jehan dalam.


__ADS_2