
Keesokan harinya Jehan berangkat dengan di antar papa nya seperti biasa, papa nya itu melarang nya untuk naik motor, dan Jehan hanya menurut tidak ingin mempermasalahkan hal itu.
gadis itu berjalan menyusuri koridor lantai bawah, sebenarnya dia sedikit malas untuk berangkat ke sekolah, seolah-olah seperti tidak mempunyai rasa antusias untuk sekolah. Namun bagaimana lagi, dia sudah kelas 11 tidak ada waktu lagi untuk bermain-main.
di dalam kelas Jehan hanya bermain handphone, terkadang membaca buku untuk menghilangkan rasa jenuh. Banyak teman-temannya yang berusaha mendekat kepadanya, dan mengajak nya bicara, namun dia hanya acuh.
Jehan tidak suka dengan orang yang sok mengenalnya, berusaha mendekat hanya karena memanfaatkan agar bisa menjadi temannya.
padahal sebenarnya tidak ada salahnya, namun ntah lah gadis itu hanya ingin sendiri untuk saat ini. Saat sedang fokus membaca buku, tiba-tiba ada yang mendekat dan duduk di samping nya, Jehan hanya melirik, seorang laki-laki yang sekarang duduk di sampingnya itu nampak tersenyum, apakah yang sekarang juga akan melakukan sesi drama seperti siswa lain.
"Jehan, kamu sedang fokus baca buku ya" tanya laki-laki itu, Jehan hanya diam, tidak berniat untuk menanggapi.
"diam aja si, sombong ya lo sekarang. Padahal dulu kita deket banget ya ngga Jo" Jehan melirik laki-laki lain yang duduk di depan nya, ekspresi laki-laki itu nampak datar namun wajahnya cukup manis.
"emang pernah ? aku ngga ingat sama sekali" jawab Jehan acuh, berharap agar kedua laki-laki yang berada di dekat nya ini paham jika dia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.
"gimana kalau kita kenalan lagi, biar kamu kenal sama kita" laki-laki di samping nya mengulurkan tangan, tak lupa dengan senyum nya yang terlihat begitu indah.
"harus kah ?" tanya Jehan sambil mengernyitkan dahi, menatap kedua laki-laki yang sekarang juga sedang menatapnya.
"ya kalau ngga kenalan, kita ngga akan kenal dong Je" Jehan mengangguk, dia membalas uluran tangan laki-laki yang sedari tadi mengajak nya berbicara.
"Jehan" ucap Jehan
__ADS_1
"udah tau kok" ucap laki-laki di samping nya
"kalau kamu" Jehan menatap laki-laki yang tadi mengajaknya bicara, menunggu jawaban dari laki-laki itu.
"Gibran" jawab laki-laki itu dengan senyum nya yang tak pernah hilang. Gibran, ya laki-laki itu begitu bahagia, setelah menahan diri untuk tidak bertemu dengan Jehan beberapa hari ini membuatnya merasa tidak nyaman. Hati nya selalu di penuhi perasaan bersalah ketika melihat Jehan sendirian, bagaimanapun juga dia yang membuat gadis itu melupakan jati dirinya sendiri.
Jehan mengangguk, dia menatap laki-laki di depannya yang sedari tadi terus diam, mendengarkan interaksi mereka.
"woy, lo diam aja dari tadi, ngga mau kenalan sama Jehan ?" Gibran mengeplak tangan temannya yang terus diam.
"nama gw Johan" ucap laki-laki itu singkat, Jehan mengernyitkan dahi nya.
"serius nama nya Johan ?" tanya Jehan sambil menatap Johan
Johan hanya mengangguk sebagai jawaban, Jehan terdiam sebentar sebelum menjawab.
"ya gitu deh, ngga tau bisa samaan" ucap Johan, Jehan diam, tidak ingin bertanya lagi. Gadis itu mulai membenarkan posisi duduk nya ketika guru sudah masuk dalam kelas.
bel pulang berbunyi, Jehan merapikan buku nya, memasukkan ke dalam tas, gadis itu berjalan keluar kelas karena ingin segera pulang. Menurutnya suasana rumah jauh lebih nyaman daripada suasana sekolah.
"buru-buru banget, sampai aku panggil lin ngga berhenti" Jehan menatap Gibran dan Johan yang sekarang sudah berada di samping nya, gadis itu menggaruk dahi nya yang tidak gatal, benarkah tadi laki-laki itu memanggilnya kenapa dia tidak mendengarnya.
"maaf ya, aku ngga denger waktu kamu panggil" Jehan tersenyum, sedikit merasa bersalah. Gibran terkekeh melihat temannya yang berubah 180°. Jehan yang sekarang benar-benar berbeda.
__ADS_1
"sepertinya seorang Jehan yang dulu telah punah, Jehan yang sekarang benar-benar beda" Jehan mengernyitkan dahinya saat Gibran mengatakan itu, maksudnya apa ? memang dulu dia seperti apa ?
"maksudnya ?" tanya Jehan dengan raut wajah bingung
"sikap kamu beda Je, beda banget. Kamu yang sekarang tu ngebosenin tau ngga" jawab Gibran sambil tertawa
"emang sifat aku dulu gimana" Jehan duduk di samping lab desain, masih ingin melanjutkan perbincangan nya dengan kedua teman barunya.
"Jehan yang dulu itu, ngeselin, usil, suka bikin onar, suka balap, suka bolos, suka ngajak gelud kakak kelas, dan masih banyak lagi lah, beda kan sama kamu yang sekarang. Bahkan satu sekolah aja kaget lihat kamu yang sekarang rapi dan rajin gini" Jehan terdiam mendengar itu, benarkan dia seperti itu dulu ?
"berarti dulu aku anak bandel ya" ucap Jehan sambil terkekeh, gadis itu menggaruk dahi nya yang tidak gatal.
Jehan melihat handphone nya yang menyala, mama nya memberikan pesan jika sudah berada di depan, Jehan berdiri ingin pamit ke Gibran dan Johan.
"aku pulang duluan ya, udah ditunggu mama"
"bareng aja ya, kita juga mau turun" Jehan mengangguk, akhirnya mereka bertiga pun turun ke lantai 1, saat berjalan tiba-tiba Jehan terjatuh, dia berdecak salahnya juga yang jalan sambil fokus menatap handphone.
"maaf ya Je, ngga sengaja" gadis itu mendongak, Gibran membantu nya berdiri. Jehan menatap kesal ke arah laki-laki yang kemarin lancang mencium nya. Laki-laki itu menatap nya juga.
"sebentar lutut kamu kotor" Juna berjongkok, ingin membersihkan lutut Jehan yang kotor, namun Jehan menjauhkan kakinya.
"Gibran, Johan aku pergi dulu ya by" Jehan melambaikan tangannya, gadis itu berlari meninggalkan Juna. Juna terdiam, merasa sakit karena di acuhkan oleh orang yang dia sayangi. Hidup nya terasa hampa tanpa kehadiran Jehan sungguh. Sebenarnya kenapa gadis itu, kenapa bersikap seolah tak mengenalnya.
__ADS_1
Juna berdiri, ada gurat kesedihan pada wajahnya, Gibran yang melihat itu lagi-lagi merasa bersalah. Dia menepuk bahu Juna, meskipun dia tidak terlalu mengenal laki-laki itu namun tetap saja dia merasa iba.
"ikut gw bentar bisa" tanya Gibran