Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Mendapatkan kesialan


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, terlihat seorang wanita paru baya yang masih terlihat muda dengan penampilan serta wajahnya yang terlihat masih cantik itu. Duduk di sofa ruang tamu dengan tenang, senyum tak luntur menghiasi wajah cantik wanita itu. Tangannya yang bersih dan seputih susu itu terlihat menyuapkan buah ke dalam mulutnya.


Hanna terlihat baru saja pulang, wajahnya terlihat lelah, gadis itu berjalan lesu ke arah kamar, kamarnya yang melewati ruang tamu membuat gadis itu menghentikan langkahnya, di lihat mama nya sedang duduk di sofa sambil bermain handphone. Hanna memilih untuk menghampiri mama nya itu, duduk di samping sang mama. Namun wanita itu sama sekali tak menghiraukan keberadaan Hanna di sampingnya, atensi tak beralih sedikitpun dari layar handphone.


"Ma" ucap Hanna pelan, mamanya mendongak tapi bukan untuk menatapnya, melainkan untuk menatap papa nya yang juga baru saja pulang. Papa nya itu duduk di samping Hanna. Memberikan senyum tipis kepada putri nya itu, tangannya terangkat untuk mengusap rambut Hanna lalu melingkarkan tangannya di bahu Hanna.


"Baru pulang sayang ?" tanya papa Hanna menatap putri nya itu.


"Iya pa" Hanna mengangguk dengan wajah lesu, gadis itu masih menatap mama nya yang tak menghiraukannya sama sekali, merasa sedih karena sikap mama nya itu begitu berbeda dengan sikap hangat sang papa.


"Papa membelikan makanan kesukaan mu dan mama, mau makan sekarang ?" tanya papa Hanna lembut, lelaki itu mengangkat bungkusan plastik yang dapat di pastikan itu berisi makanan.


"Hem, Hanna memang sudah lapar pa" jawab gadis itu sambil tersenyum cerah, menganggukkan kepala nya dengan antusias.


"Baiklah, bersihkan tubuhmu setelah itu turun untuk makan bersama" Hanna mengangguk, lalu gadis itu beranjak untuk membersihkan diri.


"Bersikaplah hangat kepada putri mu, jangan sampai kamu menyesal ketika Hanna lelah dan tidak lagi peduli padamu" ucap papa Hanna kepada istrinya, lalu tanpa berkata lagi lelaki itu berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


Hanna telah selesai membersihkan diri, gadis itu memakai piyama panjang berwarna hijau dengan sandal bulunya. Gadis itu keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah meja makan.


Saat tiba di meja makan, mama dan papa nya sudah duduk bersama di kursi, sepertinya memang sedang menunggunya untuk datang. Dengan senyum nya Hanna menghampiri meja makan, menarik satu kursi untuk dirinya duduk.


"Mari kita mulai makannya" ucap papa Hanna sambil mengambil nasi, di ikuti yang lainnya.


"Papa tumben jam segini sudah pulang, biasanya selalu sibuk di kantor ?" tanya Hanna dengan mulut yang terisi makanan.

__ADS_1


"Iya, jadwal papa seminggu ini tidak terlalu padat, jadi papa bisa pulang lebih awal dan bisa memiliki waktu bersama mu lebih banyak" jawab laki-laki itu.


"Mama juga tak terlalu sibuk dalam beberapa hari ke depan" mama nya menyahut dengan wajah datar, matanya menunduk melihat makanan di piring, fokus pada makanan nya sendiri.


"Bukankah ini waktu yang baik Hanna ?" tanya papa nya dengan senyum yang terbit di bibirnya.


"Hem iya sih pa, memang mau apa ?" tanya Hanna mengangkat sebelah alisnya.


"Liburan ke puncak mau ?" tanya papa Hanna, sedangkan Hanna terdiam nampak berfikir sejenak.


"papa emang ngga padat jadwal nya, tapi bukan berarti libur kerja kan pa ?"


"Iya, tapi pekerjaan itu bisa papa kerjakan di manapun papa mau" jawab papa Hanna enteng.


"Kalau Hanna ajak temen boleh ?" tanya Hanna, tatapan nya tak beralih sedikitpun dari wajah sang papa yang belum juga memberi jawaban.


"Itu terserah mu Hanna, siapapun yang mau kamu ajak boleh untuk ikut" Hanna tersenyum, gadis itu sudah berfikir untuk mengajak ke tiga sahabatnya juga.


***


Sementara itu di tempat di mana sebuah perusahaan besar berdiri, Alarick duduk di ruangannya sambil menyandarkan kepala nya, mendengarkan laki-laki di depannya yang sedang melaporkan informasi penting untuknya.


"Pantau dia terus" satu kalimat yang keluar dari mulut Alarick membuat pria di depannya itu mengangguk, lalu laki-laki itu pergi setelah mendapatkan anggukan dari Alarick.


Alarick menghela nafas lelah, laki-laki itu memijat pelipisnya yang terasa pusing, bahkan dari tadi siang dia belum menyentuh makanan sama sekali karena pikirannya yang tak fokus. Seharian bekerja pun tak maksimal karena pikirannya terpecah kemana-mana.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pintu kembali di ketuk, setelah Alarick menyahut pintu ruangan itu pun kembali di buka dari luar, terlihat seorang laki-laki masuk dengan tubuh tinggi tegap. Itu adalah asisten Al, laki-laki itu berdiri di samping Al.


"Urus urusan yang ada di kota B, kurasa itu bukan sesuatu yang susah. Kamu bisa mengatasinya bukan ?" tanya Alarick ketika asistennya itu hanya diam tanpa berucap apapun. Jelas laki-laki itu tau masalah yang baru saja datang yang menimpa perusahaan mereka. Namun pikiran Al memang tidak sedang berada untuk memikirkan keadaan kantor. Begitu banyak masalah yang datang, dan fokus nya tak bisa terbagi kepada semua masalah yang ada.


"Semuanya akan beres tuan" ucap laki-laki itu yakin, Alarick mengangguk.


"Aku mau masalah itu secepatnya selesai" ucap Alarick tak mau mendapatkan bantahan.


"Baik tuan"


Alarick mengambil handphone nya, tangan laki-laki itu terkepal saat melihat foto seorang wanita yang sedang berpelukan bersama seorang pria. Namun sebisa mungkin dia merendam amarahnya, karena apapun yang akan terjadi, dia jelas tidak akan mau rugi!!


Laki-laki itu memilih pulang, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, seolah tak peduli dengan nyawanya yang bisa saja melayang karena berkendara melebihi batas normal.


Namun tiba-tiba di pertengahan jalan, mobil laki-laki itu mati, Al turun dengan wajah kesal, ntah kenapa mobil nya itu tapi yang jelas dia sedang malas jika harus memperbaiki.


Memilih untuk menelfon asistennya untuk menjemput, atau setidaknya memesan taksi. Laki-laki itu kembali ke mobil dan mengambil handphone nya. Namun alangkah sialnya dia hari ini karena ternyata handphone nya itu mati, mungkin saja kehabisan baterai.


Alarick mendesau lelah, merasa amat sangat kesal dengan hari ini yang terasa membosankan, laki-laki itu kembali turun dari mobil, dengan niat akan jalan kaki saja, sampai dia mendapatkan taksi.


Tin tin...


Alarick menghentikan langkahnya, menghalau lampu mobil yang menyilaukan matanya. Terlihat seorang perempuan turun dari mobil itu.


"kamu kenapa ?" tanya gadis itu sambil menghampiri nya.

__ADS_1


__ADS_2