
Pagi kembali menyapa seluruh umat di muka bumi, sinar matahari sudah muncul dari ufuk timur, terlihat dari balik kaca di kamar Jehan yang saat ini sedang bersiap dan berias di depan cermin besar.
Gadis itu duduk sambil merapikan rambut nya yang panjang, mengambil jepit rambut kecil yang berwarna putih, dan memakaikannya di rambut poninya yang memang panjang.
Gadis itu terbangun lebih awal hari ini, sejak jam 2 malam bahkan tak bisa tidur lagi. akhirnya waktu itu Jehan gunakan untuk mengerjakan pekerjaannya di macbook miliknya.
Dan kini gadis itu sedang bersiap, sebenarnya ini adalah hari libur kerja, namun Jehan memang ingin terlihat rapi meski hanya rebahan di rumah.Huh sepertinya Jehan akan mengundurkan diri dari pekerjaannya karena uang di tabungannya sudah lebih dari cukup untuk memulai membuka usaha sendiri.
Jehan turun dari kamarnya dan seperti biasa, berjalan ke arah meja makan untuk memulai sarapan paginya. Di meja makan sudah ada papa dan mama nya yang berbincang ringan. Jehan menyapa kedua orang tuanya itu.
"Pagi pa, ma" sapa gadis itu sambil duduk di kursi nya, bibi membawa kan susu hangat kepadanya, Jehan hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada bibi.
"Pagi sayang" mama nya menjawab sambil mengambil nasi untuk papa Jehan. Sedangkan Jehan tampak melihat semua makanan yang tersaji di meja, hampir semua makanan yang Jehan suka tersaji.
"Kamu tadi malam pulang jam berapa ?" tanya mama nya.
"Jam 10 an lah ma, seperti biasa kalau lembur" Jawab Jehan, gadis itu ikut mengambil nasi sedikit dan meletakkan di piringnya, sejak dia bekerja dia sudah membiasakan diri untuk sarapan menggunakan nasi. Demi kesehatannya juga.
"Tadi malam Dion ngga antar kamu pulang ?" mama nya kembali bertanya, sedangkan Jehan yang di tanya hanya diam, pertanyaan mama membuat gadis itu teringat Kenzie. Mereka sudah menjalin hubungan, jadi mungkin Jehan harus mengutarakan niat nya untuk menolak perjodohan nya dengan Dion.
"Jehan kan bawa mobil ma"
"Besok kamu berangkat bareng Dion aja, mama rasa dia ngga akan keberatan kalau harus jemput kamu. Mama juga berfikir bahwa dia juga menyukaimu nak" ucap mama nya dengan antusias.
"Morning ma, pa" Alarick datang karena laki-laki itu baru saja turun dari kamarnya, laki-laki itu duduk di samping adiknya yang saat ini menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Morning, kita langsung makan aja ya. Obrolan nya di lanjut nanti aja. Ngga baik makan sambil ngobrol" papa Jehan berujar, akhirnya suasana kembali hening, mereka fokus dengan makanan nya masing-masing.
Setelah selesai dengan makanannya masing-masing dan meja telah di bersihkan oleh bibi, kini mereka semua berjalan ke arah ruang tamu.
"Pa, ma Jehan mau bicara, penting" Jehan sudah memutuskan untuk memberitahu orang tuanya saat ini juga.
Semua orang terdiam setelah mendengar ucapan Jehan yang terdengar serius itu. Dalam benak, mereka bertanya-tanya apa yang akan Jehan bicarakan pada mereka.
"Jehan tidak bisa menerima perjodohan Jehan dan Dion" sejenak Jehan melihat raut wajah keluarganya, mama nya itu nampak kaget dengan ucapannya, sedangkan papa dan kakak nya diam tanpa ekspresi.
"Jehan tau kalian pasti bingung, tapi sebenarnya Jehan memang sudah ingin menolak perjodohan ini dari awal, tapi Jehan merasa sungkan dengan orang tua Dion."
"Jehan harap papa sama Mama bisa ngerti akan keputusan Jehan" lanjut gadis itu pelan.
"Apa ini ada hubungan nya dengan laki-laki yang bersama mu di restoran kemarin dek ?" kak Al bertanya sambil menatap lekat matanya, Jehan menelan ludah, dia bahkan hampir lupa jika waktu itu kak Al melihatnya bersama Kenzie.
"Laki-laki siapa, kamu udah punya pacar memangnya ?" tanya mama nya dengan mata menyipit.
"Kemarin Al lihat ma dia makan sama laki-laki, nah waktu itu Jehan pakai piyama ke restoran, Al aja heran kenapa Jehan bisa keluar pakai pakaian tidur" ucap kakak nya itu, Jehan jadi ingin menjitak kepala kakak nya itu karena kesal. Apakah hal seperti itu harus di ceritakan juga ?
"Laki-laki mana Je ?" mama nya kembali bertanya, seolah begitu penasaran dengan laki-laki yang saat ini dekat dengan putrinya itu.
"Kenzie ma, dia pernah kesini bersama Gibran" jawab Jehan terus terang.
"Ada hubungan apa kamu sama laki-laki itu ?" tanya mama nya menyelidik.
__ADS_1
Jehan hanya diam menunduk, seolah bingung harus menjelaskan seperti apa kepada orang tuanya itu, dia takut jika orang tua tak setuju dengan hubungan mereka berdua.
"Udahlah ma, biarin aja Jehan dekat dengan siapa yang dia suka. Lagipula jika gadis itu memutuskan untuk menolak putra teman mama itu artinya Jehan tak suka dengan laki-laki itu" Jehan tersenyum, papa nya adalah orang yang akan selalu mendukung apapun kebahagiaan nya.
"Hmm ya udah lah, padahal kelihatannya Dion udah suka banget sama kamu nak." ucap mama nya terdengar kecewa.
"Maaf ma" Jehan hanya bisa menunduk.
"Tapi ini beneran kamu ngga suka sama Dion, ngga bakal nyesel kehilangan dia ?" tanya mama nya sekali lagi.
"Ngga ma, ini udah keputusan Jehan" jawab Jehan mantap.
"Ya sudah bawa kekasihmu itu kesini, kenalin sama mama dan papa. Mama pengen mengenalnya lebih dekat" ucap mama nya, Jehan meneguk ludah nya paksa.
"Iya nanti Jehan ajak dia kesini" ucap Jehan tersenyum kecut.
Bibi datang sambil sedikit berlari ke arah mereka, wanita paru baya itu mengatakan jika di depan ada tamu yang sedang mencari Jehan, Jehan pun berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk melihat siapa yang datang.
Saat membuka pintu yang pertama kali Jehan lihat adalah Kenzie yang berdiri membelakangi nya, laki-laki itu menggunakan pakaian casual.
"Kenzie ?" laki-laki itu membalikkan tubuhnya, sedetik kemudian laki-laki itu tersenyum manis dan berjalan hingga tepat di depan Jehan.
"Mau menemani ku keluar hari ini, menghabiskan waktu ?" Jehan masih terdiam, gadis itu merasa kaget karena tiba-tiba Kenzie datang tanpa menghubunginya lebih dulu.
"Kamu datang, kenapa ngga telfon ?"
__ADS_1
"Bahkan telfon ku dan pesan ku tadi malam saja belum kamu buka Je" Jehan mengingat jika sejak pagi dia belum menyentuh handphone, pantas jika dia tidak melihat pesan dari Kenzie.