Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Mendapat jawaban


__ADS_3

"Jehan, bengong aja sih dari tadi" Hanna datang sambil membawa minuman dan juga berbagai buah ke taman samping rumah, memergoki Jehan yang asik melamun tanpa menyadari kehadirannya.


tadi memang gadis itu meminta teman-teman berkumpul di rumah Hanna karena bosan dan sudah lama tidak kumpul bareng. Jadi mereka berkumpul hanya untuk sekedar berbincang dan bertukar pikiran.


Jehan menanggapi pertanyaan Hanna dengan senyuman karena jujur dia hanya sedang ingin mengalihkan pikirannya yang sekarang hanya di penuhi Juna. Hatinya belum bisa tenang karena dia sedang menyiapkan jawaban yang tepat untuk Juna.


"halo brader" Gibran datang bersama Johan dan Arga. Biasa mereka selalu tampak cool dan tampan walau hanya menggunakan style celana panjang, jaket berwarna gelap dan juga sepatu yang warna nya senada dengan celana mereka. Terlihat sederhana dan juga simple.


mereka duduk bersama di taman sambil menikmati buah dan juga minuman sesekali bercanda dan tertawa bersama. Hanya Jehan yang diam sambil memakan buah pir yang sudah dia kupas dan dia cuci tadi.


"diam aja sih Je" Gibran menegur Jehan yang asik berselancar dengan dunia nya. Temen-teman Jehan yang lain juga ikut memperhatikan Jehan yang agak berbeda dan lebih banyak diam.


"iya nih, dari tadi melamun terus. Aku tanya juga cuma senyum doang. Padahal kan dia ya yang ajak kumpul, tapi malah dia yang paling anteng dari tadi." Hanna ikut menimpali ucapan Gibran, membuat Jehan hanya bisa tersenyum canggung.


"gw lagi badmood ni, kita healing yuk. Jauh juga ngga papa kalau di sekitar sini gw udah bosen." Jehan berbicara sekaligus mengajak mereka keluar. Udah lama juga mereka tidak main keluar bersama. Karena pikiran Jehan lagi rumit sekalian saja ajak mereka keluar mencari udara sejuk yang selalu menjadi candu untuk mereka berlima.


"gas lah ayuk, gw paling semangat kalau masalah ginian" Gibran berbicara dengan ekspresi antusias, begitupun dengan Johan, Arga, dan Hanna yang juga langsung tersenyum dan semangat.


"ayuk lah mumpung besok libur sekolah nya" Arga menyahut yang di angguk i oleh Hanna sedangkan Johan hanya diam, memang Johan tidak banyak bicara hanya sesekali itu pun jika di pikirnya penting.


akhirnya mereka pun pergi dengan menggunakan jaket yang sama, mereka selalu menggunakan jaket couple jika pergi jauh. Mereka mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Saling mengebut dengan kencang. Johan dan Arga menduduki posisi paling depan. Kemampuan balapan mereka berlima memang tidak perlu di ragukan.


tiga tahun di habiskan dengan naik motor membuat kemampuan naik motor mereka meningkat lebih jago dalam mengendarai kendaraan roda dua itu. Kali ini mereka memilih pergi ke kota M*****n. Pergi ke danau yang di kelilingi dengan gunung dan perbukitan. Mereka mengendarai motor untuk naik ke area bawah gunung di sana, jalan menanjak dan cukup curam membuat mereka lebih berhati-hati. Mereka memarkirkan motor dan membeli tiket untuk masuk. Lalu berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan.


angin berhembus menyambut kedatangan mereka, mereka tadi sudah membeli beberapa minuman dan juga snack untuk mengganjal perut. Mereka berjalan perlahan menginjak batu kerikil yang mereka lewati. Mereka memilih untuk pergi ke bukit karena untuk pergi ke gunung mereka tidak membawa peralatan jadi memutuskan untuk pergi ke bukit yang tidak terlalu tinggi.


cukup lama mereka berjalan sampai akhirnya mereka tiba di puncak bukit itu. Dapat mereka lihat gunung yang tinggi berada di depan mereka hanya berjarak tidak terlalu jauh. Angin semakin berhembus dengan suasana yang tidak terlalu panas.

__ADS_1


mereka pun mengelar tikar dan mulai duduk, ada beberapa pemuda yang juga ikut naik tapi tidak terlalu ramai.


"candu banget udaranya" Hanna tidak juga duduk, malah berbicara penuh antusias. Walaupun mereka sudah sering pergi ke beberapa gunung namun gadis itu tetap antusias ketika menghirup udara alam.


"duduk Na, jangan katrok" ucap Arga kesal, melihat gadis itu yang begitu antusias membuat nya sakit kepala. Apalagi banyak pemuda yang menatap kagum gadis itu.


"biarin aja sih" gadis itu tidak menggubris, dan tetap menikmati udara.


"Je, lo lagi ada masalah" Johan bertanya kepada Jehan yang sedari tadi diam, Arga dan Gibran sedang asik berbincang bersama Hanna sehingga Johan menghampiri Jehan yang terus diam.


"gw lagi bingung Han" Jehan menghela nafas, kenapa dia harus sepusing ini memikirkan Juna. Padahal dia sudah tau jawabannya, dia hanya perlu menolak laki-laki itu maka semua nya akan jelas. Tapi dia malah memilih membuat tanda tanya besar kepada Juna yang sekarang malah membuat kepalanya pusing.


"bingung kenapa ? coba cerita, jangan di pendem sendiri. Apapun masalahnya cerita sama temen-temen atau kalau ngga mau sama Hanna yang sesama perempuan." Jehan lagi-lagi hanya tersenyum, dia membutuhkan saran. Namun jika hal ini sampai pada telinga Arga maka laki-laki itu akan terus meledek Jehan.


"oh, iya bukan masalah yang berat kok Han, aku masih bisa atasin sendiri. Lagian kalau masalah aku berat banget aku pasti cerita ke mereka." Johan hanya mengangguk, tidak ingin memaksa dan melanjutkan omongannya.


"Johan"


"kamu punya pacar" Jehan bertanya kepada laki-laki itu lebih ke ingin tahu sebenarnya. Penasaran juga apakah laki-laki itu mempunyai kekasih. Karena setau nya Johan tidak pernah kelihatan dekat dengan perempuan manapun.


"punya" satu jawaban yang tidak pernah Jehan sangka lolos dari bibir laki-laki itu membuat Jehan tersedak permen yang dia makan.


"seriusan, kamu ngga pernah loh deket sama cewek, terus juga akun instagram kamu ngga ada foto cewek"


"perempuanku adalah gadis yang cantik, aku tidak rela dia dilihat orang lain"


"apa" Jehan speechless tidak tau ingin berbicara apa lagi, dia menutup mulutnya yang terbuka. Tidak menyangka seorang Johan bisa berbicara semanis itu.

__ADS_1


"kenapa ? kamu penasaran sama cewek aku. Percuma aku ngga akan kasih tau"


"dih, siapa juga yang penasaran. Btw apa kamu pernah menjalin hubungan sama sahabat kamu." Jehan ingin mendapat saran namun dia tidak langsung berterus terang.


"sahabat ? sahabat perempuan aku kamu sama Hanna dan aku ngga pernah menjalin hubungan dengan keduanya." Johan menjawab dengan ekspresi datar namun tidak melepaskan pandangan nya dari mata Jehan.


"sahabat kamu yang lain, mungkin sahabat kecil gitu. Atau kalau tidak setidaknya punya perasaan gitu sama sahabat sendiri."


"pernah" jawab Johan pelan


"apa kamu pernah mengungkapkan perasaan itu ?" sungguh seorang Jehan yang mempunyai jiwa kepo level tinggi terus mencecar Johan dengan pertanyaan karena rasa penasaran nya yang belum tuntas.


"tidak"


"kenapa ?"


"karena tidak inggin"


"apa kamu tidak takut jika dia di miliki orang lain nanti" Jehan semakin antusias untuk bertanya.


"ya kalo dia dimiliki orang lain aku juga ngga papa, asal dia mencintai orang yang menjadi pilihannya. Namun aku tidak ingin mengungkapkan perasaan aku, karena aku tau dia tidak mempunyai perasaan apapun untuk ku. Jadi lebih baik kita menjadi sahabat dekat. Daripada aku mengungkapkan rasa dan dia menjauhi ku karena merasa tidak nyaman". ucap Johan yang mulai enak di ajak bicara, Jehan pun bertanya lagi.


"menurutmu apa keuntungannya kalau kita jadian sama sahabat sendiri" ini adalah penentuan untuk Jehan menerima Juna atau tidak, karena dia ingin tau jawaban dari pertanyaan nya. Menurutnya Johan adalah orang yang bijak, dan tidak ada salahnya bukan jika bertanya kepada laki-laki itu.


"kalau jadian sama sahabat sendiri tu ada untung dan ada ruginya kalau untung nya kita bisa saling mengerti apa mau pasangan karena sudah sahabatan sejak lama. Kita juga bisa tau apa yang disukai dan tidak di sukai oleh sahabat kita. Hubungan kita juga tidak akan terasa hambar karena sebagai sahabat aja dia udah mampu membuat kita nyaman apalagi sebagai pasangan kan." Jehan manggut-manggut, benar juga sih apa yang Johan katakan itu juga ada dalam benaknya.


"kalau seandainya kamu di sukai dan di ajak pacaran sama sahabat kamu sendiri kamu mau ngga ?" Johan menatap nya lagi, kali ini lebih lama sebelum menjawab pertanyaan Jehan.

__ADS_1


"tergantung sih, kalau aku juga suka sama dia aku akan menerima nya tapi kalau aku ngga suka sama dia ya lebih baik berteman saja." lagi-lagi Jehan mengangguk sekarang dia sudah tau harus bagaimana kepada Juna.


"oke, makasih ya han. Kata-kata kamu cukup membantu" Jehan menepuk pundak Johan lalu meninggalkan laki-laki itu dan menghampiri Hanna dan dua temannya.


__ADS_2