
Jum'at 24 Juni 20__××
Pagi yang cukup cerah, dengan matahari yang menampakkan diri dengan sinar nya yang menghangatkan bumi. Jehan berdiri menatap langit cerah nan indah yang berada di atas sana, gadis itu mendongak sambil merapalkan doa, ada doa tulus dalam hati yang ingin sekali dia wujudkan, semoga mampu.
Langit sedang cerah memberikan harapan yang tak pernah putus kepada setiap manusia di bumi untuk selalu berusaha, namun tidak dengan Jehan, gadis itu menatap langit dengan wajah murung, entah kenapa dia merasa ada yang hilang dari hidupnya, dia tidak tau itu apa, namun jujur ada bagian dari hidupnya yang terasa hampa dan kosong.
perasaan kehilangan itu nyata adanya, dia dapat merasakannya. Namun dia tidak sadar akan hal itu, gadis itu terdiam memainkan daun pohon yang tinggi menjulang hingga melebihi ruang kelasnya yang berada di lantai dua. Gadis itu memetik dan membuang daun sembarangan, sambil terus menikmati sapuan angin pagi yang membuat anak rambutnya berterbangan.
suasana pagi dan sepi seperti sekarang memang sangat cocok di gunakan untuk merenung, pikiran kita akan mudah di ajak kerja sama. Pun tidak terganggu dengan kebisingan para siswa yang belum berada di kelasnya, hari masih sangat pagi. Entah sejak kapan, Jehan sangat sering berangkat lebih awal akhir-akhir ini, dimana para siswa belum berangkat ke sekolah. pagi ini istimewa setelah dari kemarin cahaya matahari engan muncul dan pagi yang hanya berbalut kabut tebal.
Jehan menyembunyikan kedua telapak tangan nya di punggung, gadis itu menoleh ke samping, beberapa siswa sudah mulai tiba di sekolah, Jehan masuk ke dalam kelas. Tidak nyaman rasanya dilihat oleh beberapa siswa-siswi yang berlalu lalang.
pelajaran sekolah usai, Jehan keluar kelas, Gibran dan Johan teman barunya tadi menawari untuk mengantar nya pulang, namun gadis itu menolak. Gadis itu masih ingin menghabiskan waktu di sekolah.
Gadis itu berjalan ke arah perpustakaan dengan hati-hati, Jehan memakai sepatu yang cukup besar karena sepatu itu baru dan ukuran nya lebih besar dari ukuran sepatu lamanya.
sampai perpus, gadis itu mengambil beberapa buku, duduk di salah satu kursi dan mulai membaca halaman per halaman buku di depannya, sejak kelas 11 ini dia sangat menyukai buku yang berbau desain dan pemrograman. Dia juga sering mengasah kemampuan nya di rumah dibantu kakak nya yang kadang pulang lebih cepat.
Jehan melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, memasukkan buku ke dalam tas punggungnya gadis itu berjalan pelan keluar perpustakaan, namun tersentak saat tiba-tiba air langit menetes dan menguyur tubuhnya, dia sedikit berlari ke ruangan terdekat, duduk di kursi dan menatap hujan yang turun semakin deras. Suasana sekolah sangat sepi, hanya ada beberapa penjaga yang sedang mulai mengunci kelas satu per satu. Para siswa memang sudah pulang 1 jam yang lalu.
Jehan tidak sadar akan kehadiran seseorang yang sekarang duduk di samping nya, gadis itu terlalu fokus menatap samping kanan sehingga tidak menyadari laki-laki yang saat ini duduk di samping kiri nya.
__ADS_1
"sendirian ?"
"eh" Jehan kaget, dia menoleh kan kepala nya dan mendapati sosok laki-laki yang sekarang sedang memakai jaket berwarna coklat, laki-laki itu duduk sambil menyilang kan kaki. Jehan tersenyum tipis.
"iya" jawab Jehan singkat, dia menatap intens laki-laki di sampingnya, wajah nya yang putih bersih, dengan bibir berwarna merah dan jaket yang membalut tubuhnya dengan sepatu berwarna putih. Sungguh laki-laki itu terlihat menawan.
"di sekolah sampai sore, memang nya ada acara apa ?" tanya laki-laki itu, Jehan terdiam sebentar sebelum menjawab.
"ngga ada acara si, cuma tadi ada yang harus di kerjakan di sekolah sehingga aku masih berada di sini" jawab Jehan tanpa menatap laki-laki di samping nya, fokus Jehan saat ini sedang menatap hujan yang tak kunjung reda, padahal hari sudah hampir petang, namun hujan semakin deras.
Jehan mengusap usap telapak tangan nya, berharap hal itu memberikan kehangatan untuk nya, gadis itu memakai rok sebatas lutut sehingga membuat kaki nya terasa dingin dengan baju seragam yang juga di atas siku. Jehan meniup telapak tangan nya, namun saat petir menyambar Jehan dengan cepat menutup telinganya.
gadis itu merasa badannya terasa hangat ternyata ada jaket yang menutupi tubuhnya, laki-laki itu melepas jaket nya dan memberikan kepada Jehan.
"terimakasih, maaf merepotkan mu" ucap Jehan sambil menatap laki-laki di samping nya yang saat ini hanya memakai seragam sebatas siku.
"sebutkan nama mu" tanya laki-laki itu sambil menatap Jehan, wajah laki-laki itu terlihat sangat tampan meski tertutupi oleh rambut nya yang lebat dan agak panjang. Jehan mengerjapkan mata, tersadar dari lamunannya, tidak dapat dia sanggah laki-laki di sampingnya memiliki wajah yang tampan dengan tubuh yang tinggi, incaran para perempuan pikir Jehan.
"Jehan nama aku Jehan" jawab Jehan lirih, laki-laki itu hanya mengangguk.
"dari jurusan apa ?" tanya laki-laki itu
__ADS_1
"teknik jaringan komputer" jawab Jehan
"Oh, nama aku Fauza dari jurusan Akutansi, kebetulan aku baru si di sekolah ini. Pindahan maksudnya" ucap laki-laki itu, Jehan mengernyit namun dia memilih mengangguk sebagai tanggapan. Pantas saja dia tidak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya.
"Kok masih ada di sekolahan ngapain ?" tanya Jehan
"aku lagi main musik sama temen temen sekelas, kebetulan ada alat musik di sekolah ini yang cukup lengkap jadi aku pakai. Dan karena kebetulan aku suka musik si" jawab laki-laki itu. Jehan mengangguk seperti nya laki-laki itu ikut komunitas musik pikir Jehan.
"hujan udah reda, mau pulang bareng ?" tanya laki-laki itu, Jehan terdiam namun dia memilih menolak
"ngga usah, bentar lagi aku di jemput papa" laki-laki itu mengangguk dan mulai berdiri.
"pakai dulu aja jaket nya, ngga aku pakai juga kok" Jehan mengangguk dan tersenyum ke arah laki-laki itu.
drtttt.... bunyi handphone yang berdering membuat Jehan kaget, gadis itu menekan tombol angkat dan menjawab salam papa nya.
"maaf ya sayang, nanti papa ngga bisa jemput, nanti telfon mama aja ya. Ini papa mau meeting jadi ngga sempet telfon mama." Jehan menghela nafas, ternyata papa nya tidak bisa menjemput. Dia sudah menunggu sedari tadi padahal.
"iya pa ngga papa, nanti Je telfon mama" jawab Jehan, telfon terputus, Jehan memilih untuk mencari taksi saja, daripada merepotkan mama nya pikir gadis itu.
"Hey" Jehan kaget, dia menoleh ternyata itu Fauza, laki-laki yang tadi.
__ADS_1
"kok masih di sini, belum di jemput ?" tanya Fauza sambil menatap rambut Jehan yang basah karena air hujan.