
Pelayan datang sambil menghidangkan beberapa menu yang terlihat begitu menggoda, Ada juga beberapa makanan laut yang Jehan suka, gadis itu menelan ludahnya, perutnya terasa lapar dan minta untuk segera di isi.
Nampaknya Dion menyadari jika Jehan saat ini lapar, laki-laki itu menarik sudut bibirnya ketika melihat Jehan yang menatap makanan di hadapan mereka tanpa berkedip.
"Makanlah, aku memesan ini semua untuk hidangan kita malam ini" ucap Dion mempersilahkan gadis itu untuk makan, Jehan mengangguk, lalu mengambil seafood yang ada di depannya dengan antusias, dia sudah lama tidak makan makanan laut.
Gadis itu menyuapkan daging laut itu ke dalam mulut, sejenak dia terdiam ketika merasakan daging itu terasa sangat nikmat dan lembut di mulut nya, rasanya bisa di bandingkan jika nilai dari rasa seafood ini 9 dari poin 10.
Mereka kini fokus dengan makanan masing-masing, Dion juga diam karena laki-laki itu tak akan berucap sebelum Jehan menyelesaikan makanan nya, dia tak ingin membuat mood Jehan berubah buruk.
Jehan makan dengan lahap, karena semua makanan yang ada di hadapannya adalah makanan yang dia suka, entah dari mana Dion tau jika dia menyukai makanan itu. Yang pasti saat ini dia hanya ingin menikmati makan malamnya.
Setelah selesai makan, Dion menatap Jehan intens, Jehan mengusap bibirnya yang kotor menggunakan tisu.
"Kamu mau tau kan jawaban aku soal perbincangan kita tadi pagi" tanya Dion, Jehan membalasnya dengan anggukan.
"Aku tidak akan melepas mu Je" ucap laki-laki itu dengan serius, Jehan mengernyitkan dahi mendengar ucapan laki-laki itu.
"Kamu memaksakan kehendak mu, bukankah sudah ku katakan aku tak menyukai mu"
"Dan apa kamu pikir aku peduli soal itu ?" Jehan kembali terdiam, seolah sedang memahami apa maksud laki-laki di depannya ini.
__ADS_1
"Tapi aku tetap akan memutuskan perjodohan ini" ucap Jehan sambil mengeratkan tangannya yang saat ini mencengkram gelas, seolah dia bertekad untuk memutuskan perjodohan mereka.
"Dan itu bukanlah akhir dari perjuangan ku" balas Dion, wajah laki-laki itu begitu datar, seolah tak terprovokasi dengan ucapan Jehan sama sekali.
Jehan menghela nafas kasar, sulit sekali berbicara dengan laki-laki itu.
"Masih banyak wanita di dunia ini Di, jadi apa susahnya melepaskan ku" ujar Jehan sambil memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing, dia merasa frustasi sendiri dengan lelaki di depannya ini.
"Jika yang aku inginkan kamu bagaimana ? dan tak semudah itu aku akan melepas mu" ucap laki-laki itu dengan tegas, keras kepala sekali bukan ? Jehan hanya bisa menggelengkan kepala nya karena sikap laki-laki itu.
"Dasar keras kepala" ucap Jehan ketus
"Kamu memutuskan perjodohan kita karena laki-laki lain, bukankah tidak adil jika aku harus mengalah, merelakan mu di rebut laki-laki lain bahkan saat status mu saja masih menjadi tunangan ku ?" Jehan kembali menggelengkan kepala, kapan mereka bertunangan ? perasaan mereka hanya terlibat obrolan tentang perjodohan.
"Biarkan aku menikmati apa yang sudah menjadi keputusan ku" Dion masih tak berubah pikiran, sepertinya laki-laki itu harus di sakiti lebih dahulu agar menyerah, Jehan sudah kelewat pusing dengan laki-laki di depannya ini.
"Terserah mu saja lah" Jehan berdiri, gadis itu meninggalkan meja itu dan beranjak keluar, makanan mereka telah di bayar Dion jadi dia tak perlu membayar, gadis itu tak mau menunggu Dion, karena dia akan pulang naik taksi.
Namun saat telah sampai di luar restoran, tangannya di cekal oleh seseorang, siapa lagi pelaku nya jika bukan Dion, laki-laki itu menarik tangannya agar dia masuk ke dalam mobil.
Jehan menghela nafas, gadis itu masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang, berusaha setenang mungkin berhadapan dengan lelaki di depannya.
__ADS_1
Dion masuk dan menjalankan mobil meninggalkan tempat itu, laki-laki itu menyetir dengan kecepatan tinggi membuat Jehan tersentak, meski sudah biasa kebut-kebutan dia tetap takut jika yang mengendarai orang lain. Apalagi orang itu terlihat sedang marah seperti sekarang.
"Bisa pelan ngga, aku masih mau hidup ya" ujar Jehan, gadis itu menggenggam kursi dengan erat, seolah takut jika mereka mengalami hal buruk.
"Kamu mengatakan jika tak boleh pulang malam-malam, maka aku sebisa mungkin mengantarkan mu pulang sebelum tengah malam" ucap Dion tanpa menatapnya, laki-laki itu nampak fokus pada jalanan di depannya.
"Ya, ngga gini caranya, ini bahaya" ujar Jehan, dia kembali kesal dengan tingkah laki-laki di samping nya ini.
"Bukannya udah biasa ?" tanya Dion sambil tersenyum sinis.
"Beda, aku bahkan ngga yakin kamu bisa berkendara dengan baik" Jehan mencengkram kursi semakin erat saat Dion menambah kecepatan, mobil kini terlihat seperti angin yang melaju dengan kilat. Jehan hanya menghela nafas, memilih untuk memejamkan matanya.
Entah berapa jam Jehan tertidur, namun tepat sekali saat mobil memasuki rumah, mata gadis itu langsung terbuka, Jehan mengucek matanya, menatap ke samping di mana kini Dion menyandarkan tubuhnya sambil menatapnya.
"Baru aja mau aku bangunin" ujar laki-laki itu.
"Hem, udah sampai, makasih makanan nya enak banget tadi. Aku masuk dulu" Dion mengangguk , membiarkan gadis itu turun, Jehan melambaikan tangan dan Dion pun melajukan mobil nya meninggalkan pekarangan rumah Jehan.
Jehan pun berjalan untuk masuk ke dalam rumahnya, dia sudah amat sangat mengantuk dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
"Dari mana ?" gadis itu menghentikan langkah, menoleh ke belakang, terlihat Kenzie berdiri sambil melipat kedua tangannya, laki-laki itu bersandar pada sisi samping mobil. Tatapannya begitu tajam seolah mampu membekukan tubuh Jehan. Jehan terdiam di tempatnya tanpa mampu menjawab ucapan laki-laki itu.
__ADS_1
"Enak bisa jalan sama cogan ?" tanya Kenzie sambil mengangkat kedua alisnya, Jehan menelan ludah, gadis itu berjalan mendekat ke arah laki-laki yang terlihat marah itu padanya.
"Ngga enak banget, masih enakan kalau jalan sama kamu" jawab Jehan sambil menatap Kenzie intens.