
Jehan berjalan ke arah rumahnya dengan wajah lesu, dia memikirkan tentang hubungannya dengan Juna, merasa sedikit kecewa dengan keputusan nya yang menurut saja ketika Juna mengajukan ide gila.
dia berjalan ke arah pintu, masuk ke dalam rumah dan melihat kedua orang tua nya yang terlihat sedang bertengkar.
"papa harus jelasin apa, biar mama bisa percaya sama papa. Papa ngga pernah melakukan hal seperti itu mah. Kerjaan papa padat kapan coba papa ada waktu untuk pergi jalan-jalan" Jehan mengernyitkan dahi nya bingung, orang tua nya itu jarang ribut setahunya. Tapi sekarang mereka terlihat sedang adu mulut, itu membuat Jehan penasaran sekaligus takut.
"papa bohong, mama selama ini selalu percaya sama papa, tapi ternyata kepercayaan yang mama kasih membuat papa seenaknya. Mama benar-benar kecewa" Jehan melihat mama nya yang pergi dari ruang tamu dengan terisak. Jehan berjalan menghampiri papa nya dan menatap papa nya tajam.
"papa apain mama sampai nangis gitu" papa Jehan tersentak ketika mendengar suara Jehan. Laki-laki paruh baya itu pun menatap putri nya dengan raut wajah yang sedih. Jehan mengira-ngira kesalahan fatal apa yang sudah papa nya lakukan sehingga menimbulkan pertengkaran ini.
"Jehan, sini duduk, papa akan cerita terlebih dahulu sebelum kamu salah paham seperti mama" Jehan mengernyit kan dahi, otak kecil nya sulit untuk membaca apa yang baru saja terjadi.
"Jehan ngga mau, papa jelasin dulu, kenapa tadi mama nangis" ucap Jehan tegas, gadis itu memang tidak suka jika ada yang menyakiti mama nya. Walau dia punya gengsi yang tinggi namun di dalam hatinya dia tetap menyayangi sang mama melebihi cinta nya pada siapa pun itu.
"mama salah paham" Jehan menatap papa nya yang menunduk samping memijat dahi nya. Jehan semakin tidak paham, banyak tanda tanya saat ini yang mengelilingi kepala kecil nya.
"salah paham soal apa ?" Jehan terus bertanya, salahkan saja papa nya yang berbicara setengah-setengah dan tidak jelas.
__ADS_1
"jadi gini, mama mendapat foto ini dari salah satu temannya" ucap papa nya sambil menyerahkan sebuah foto, Jehan mengambil foto itu lalu melihat nya. Dia melihat dalam foto itu terdapat seorang pria dewasa bersama seorang wanita muda yang sangat cantik dengan pakaian minimnya. Sang pria nampak melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang wanita, dengan sang wanita yang mencium pipi sang pria.
Jehan menatap papa nya dengan wajah memerah penuh amarah, jika benar foto itu, dia benar-benar akan mengamuk pada papa nya.
"kamu jangan salah paham, itu bukan papa" papa Jehan berbicara terlebih dahulu sebelum putri nya salah paham.
"jangan mengelak, jika ini bukan papa lalu siapa, sudah jelas ini papa mata Jehan masih sehat" ucap Jehan dengan marah, dia tidak pernah marah kepada orang tuanya, namun melihat foto itu membuat amarah Jehan memuncak. Dia bahkan juga pernah mendapatkan foto seperti itu dari Airin musuh nya walau wanita nya berbeda.
"itu beneran bukan papa Jehan, papa tidak mungkin melakukan hal seperti itu, papa sangat menyayangi mama, mama adalah hidup papa. Tidak mungkin papa mengkhianatinya" Jehan terdiam, dia menatap papa nya yang terlihat tersiksa dengan terus menunduk.
"lalu kenapa wajah pria itu sama persis seperti wajah papa, apa itu editan" tanya Jehan sambil mendekati sang papa, di peluknya laki-laki paruh baya itu. Papa nya adalah cinta pertama nya. Papa nya itu tidak pernah menyakiti sang mama, membuat sang mama menangis saja tidak pernah. Mungkin hanya saat sang papa sakit mama nya baru menangis. Papa nya itu laki-laki yang baik selalu meratukan sang mama.
"sepertinya itu bukan editan" Jehan mengernyitkan dahinya, dia semakin tidak mengerti. Oh please rasanya ini lebih sulit dari soal ujiannya di sekolah. Semua cerita ini berakhir dengan tanda tanya yang membuat sistem otak Jehan bekerja dengan keras. Apalagi papa nya itu begitu pelit karena berbicara singkat sedari tadi.
"lalu apa pa, bicara yang jelas. Jangan membuat Je pusing"
"papa punya saudara kembar Je" Jehan melepas pelukan, menatap papa nya dalam, saudara kembar, sejak kapan ? dia tidak pernah tau jika papa nya mempunyai saudara. Karena setau nya papa nya itu anak tunggal.
__ADS_1
"papa ini bicara apa, sejak kapan punya saudara" Jehan mengusap wajahnya, dia merasa amat pusing saat ini. Seperti sedang mengerjakan 500 soal kimia yang selalu mampu membuat nya memijat kepala.
"bukannya papa anak tunggal, kenapa sekarang mengaku punya saudara" tanya Jehan, gadis itu berdiri, lalu berjalan mondar-mandir karena pusing.
"kamu mandi saja dulu, lalu ajak mama keluar papa janji akan menjelaskan semuanya" Jehan mendengus kesal, rasa penasarannya sudah ada pada level paling tinggi namun sang papa malah menggantung ucapan nya. Gadis itu berdecak dan pergi menuju kamar nya. Meninggalkan sang papa di ruang tamu.
Jehan menuruni tangga sambil mengandeng tangan mama nya, cukup sulit membujuk mama nya untuk keluar, tapi bukan Jehan namanya jika gagal dalam mengurus hal kecil seperti ini.
"mah" Jehan dan mama nya menatap sang papa yang duduk di ruang tamu. Pakaian laki-laki itu masih sama seperti tadi belum ganti bahkan sekarang sedikit lusuh dan kusut.
"papa mau jelasin apa lagi, semuanya sudah jelas pa" Papa Jehan menghela nafas, dia harus menjelaskan semuanya sebelum sang istri semakin salah paham.
"papa tidak salah ma, itu bukan papa. Mama kenapa tidak percaya pada papa. Jika papa memang berniat buat selingkuh sudah sejak dulu sebelum Jehan ada. Tapi papa ngga punya niat seperti itu. Papa cuma mau mama" Jehan memeluk mama nya dan membawa sang mama untuk duduk di dekat sang papa. Dia tidak suka melihat orang tua nya ribut.
"mama ngga percaya, selama ini papa jauh dari mama itu bisa di jadikan alasan jika papa selingkuh. Bagaimana pun papa butuh sentuhan, namun mama tidak bisa memberikan itu" ucap mama Jehan sambil menangis tersedu-sedu. Jehan ikut meneteskan air mata dia bisa merasakan perasaan mama nya saat ini. Walau kebenaran itu masih menjadi tanda tanya.
"papa tidak seperti itu ma, itu bukan papa tapi saudara papa. Baik dengerin papa, papa akan jelasin semuanya. Walau ini terlalu mendadak tapi papa tidak bisa melihat mama terus salah paham seperti ini."
__ADS_1