
Kabar duka kini berada di mana-mana, rumah sakit begitu sibuk mempersiapkan pemulangan jenasah dari salah satu keluarga terpandang yang ada di kota. Awak media juga di penuhi oleh berita yang sama, hampir semua layanan TV menyiarkan tentang kematian anak dari keluarga terpandang yang hampir semua mengenalnya.
Semua tentu menangis dan tak menyangka akan merasa kehilangan orang yang selama ini menjadi pedoman dengan waktu yang begitu cepat, hampir semua orang yang mengenal siapa Kenzie, merasa begitu hancur atas pergi nya laki-laki itu.
Ya tapi meski mereka berbuat apapun, menangis sekeras apapun. Takdir tuhan tak akan bisa di ubah, meski terasa begitu berat, namun tak ada yang tau kedepannya akan seperti apa.
Terlihat seorang gadis yang kini menatap kosong ke arah depan, di samping kiri gadis itu ada mama Selina yang terus saja mengusap lembut telapak tangan putrinya itu. Sedangkan di samping kanan ada tante Rania yang ikut merasa hancur atas kepergian putranya itu.
"Kita pulang ya sayang, sebentar lagi Kenzie juga akan pulang dan di istirahatkan ke tempat terakhir nya" Jehan hanya diam, dia tak menangis, namun pandangannya begitu kosong seolah tak mempunyai harapan hidup sama sekali.
Meski susah payah dia menumbuhkan semangat dalam dirinya, namun semua usaha nya itu berakhir sia-sia. Nyawa nya seolah di cabut dengan paksa dalam raga nya, terasa begitu sakit tentu saja.
Huh pada akhirnya yang dapat dia pelajari dari hidup adalah, tidak boleh berharap kepada siapapun, selama ini dia selalu berharap bisa terus bersama Kenzie sampai mereka mempunyai bayi yang lucu-lucu. Tapi apa semua itu hanya menjadi angan, laki-laki itu meninggalkannya setelah melempar luka yang mungkin tak akan bisa sembuh dalam beberapa waktu ke depan.
Ternyata pihak rumah sakit sudah mempersiapkan semuanya dan Kenzie akan segera di makamkan, Jehan mengikuti pemakaman laki-laki itu, karena terlalu sedih gadis itu sama sekali tak peduli akan hati nya yang berdenyut sakit, gadis itu hanya diam dengan menatap di depan, di mana kini jenasah Kenzie di makamkan, dan dapat di pastikan inilah terakhir kalinya dia menatap wajah itu, wajah yang menjadi favoritnya, wajah yang sangat dia harapkan bisa dia lihat dan dia sentuh saat dia bangun tidur.
__ADS_1
Wajah yang akan terus tersenyum manis saat dia sedang marah, nyata nya itu semua sudah berakhir saat ini, sekarang hidup pun rasanya percuma, dia harus kuat sendirian, Jehan memilih pergi saat melihat tubuh Kenzie sudah tertimbun oleh tanah, gadis itu menerobos ratusan orang dan berlari dengan kencang, buliran bening yang dia tahan akhirnya jatuh juga setiap langkahnya yang pergi meninggalkan makam Kenzie.
Tadi di makam, semua orang melihatnya dengan tatapan yang begitu menyedihkan, seolah begitu iba dengan takdir nya yang begitu mengenaskan. Banyak yang ingin mendekati nya namun tak ada yang mampu menyentuh hatinya. Hatinya sudah beku dan mati semenjak Kenzie pergi.
Semua orang yang melihat Jehan pergi ingin mengejar, namun ucapan Hanna menghentikan mereka.
"Aku saja yang mengejar nya, jangan ada yang menganggu nya dulu" Hanna pergi dari tempat itu, dia melihat Jehan menaiki taksi ntah kemana gadis itu akan pergi, Hanna pun segera mencari mobilnya, tapi sial mobil itu terperangkap dalam beberapa mobil yang ada di sekelilingnya.
***
Jehan menatap itu dengan mata berkaca-kaca, dia membenci semua yang mengingatkannya akan sosok Kenzie, gadis itu saat ini duduk di sebuah perumahan yang terbuat dari kayu, dan terletak di atas pantai, dapat di lihat di bawah sana, air laut yang begitu indah terbentang begitu luas, ntah berada di mana ujungnya.
Gadis itu mengusap air mata yang kembali menetes dari matanya, seolah tak takut air mata nya habis, gadis itu terus menghabiskan waktunya sendiri dengan menangis.
waktu sudah beranjak sore, matahari sudah mulai terbenam di ujung barat sana, nampak indah karena terlihat seperti sedang tertelan laut. Jehan melihatnya dengan hampa, padahal dulu dia ingin sekali mengajak Kenzie untuk melihat senja dan tertawa bersama, namun semuanya hanya menjadi angan yang tak akan pernah nyata.
__ADS_1
Jehan tersenyum getir, begitu iba dengan jalan hidupnya yang begitu menyedihkan. Gadis itu memotret gambar senja yang begitu indah lalu mengunggah foto itu di akun pribadinya.Lalu gadis itu memilih untuk pergi, meninggalkan tempat itu.
Hanya dalam waktu sebentar, postingan Jehan meledak di sosial media, banyak orang yang menyukai postingannya, ada yang memberi komentar positif dengan memberikan dukungan agar dia lebih kuat lagi, namun tak sedikit juga orang yang memberikan komentar bahwa hidupnya sangat menyedihkan, karena harus kehilangan orang yang dia sayangi.
Jehan sama sekali tak peduli itu semua, karena memang pada faktanya dia memang menyedihkan, haha.
Jehan kembali naik taksi untuk pulang ke rumah, gadis itu berjalan begitu saja, kedua orang tuanya serta kakak nya kini berada di ruang tamu, Jehan yang memang sedang tidak ingin berbicara itu memilih untuk naik saja ke kamarnya.
"Jehan" mama Selina berdiri, wanita itu mengikuti anaknya yang kini memasuki kamarnya. Jehan tampang uring-uringan. Gadis itu membaringkan tubuhnya di ranjang lalu menutup tubuhnya menggunakan selimut tebal.
Mama Selina mendekat, wanita itu duduk di pinggir ranjang, tangannya mengusap kepala Jehan dengan lembut. Suhu tubuh Jehan terasa menghangat, mungkin karena terlalu lama menangis.
"Putri mama kuat banget, mama bangga Jehan bisa sekuat ini" Jehan hanya diam, tak membuka matanya sama sekali, namun air mata kembali mengalir di matanya yang tertutup.
"Jehan mau apa, mama dan papa akan menuruti semuanya." ujar wanita itu lagi, dia merasa sedih melihat anaknya kembali seperti ini. Seolah tak mempunyai semangat hidup sama sekali.
__ADS_1
"Jehan capek ma" jawab Jehan pelan sekali, ya mungkin hanya kata itu yang dapat menggambarkan keadaannya saat ini. Mama Selina menghela nafas, merapikan selimut yang membalut tubuh Jehan. Lalu mengecup kening putrinya itu sebelum pergi meninggalkan kamar Jehan.