Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Jangan menghindar


__ADS_3

Jehan masih tak bergeming, bahkan gadis itu tak menerima buku yang Gibran sodorkan, gadis itu hanya melihatnya saja karena merasa bingung.


"Em, ini buku diary milik Kenzie, sebelum pergi dia meminta Ku untuk memberikannya padamu." nafas Jehan memburu, namun akhirnya gadis itu menerima buku itu setelah tau itu buku Kenzie.


"Aku pergi, terimakasih minumannya" Jehan pun berlalu tanpa menunggu jawaban dari Gibran, gadis itu akan membaca buku itu nanti. Itupun kalau dia mampu untuk membacanya. Akhir-akhir ini hatinya jadi sensitif. Itu semua karena Kenzie yang meninggalkannya tanpa pamit. Padahal dulu lelaki itu mengatakan tak akan pergi meninggalkannya.


"Jehan" gadis itu menghentikan langkah saat mendengar suara Gibran, rupanya lelaki itu tak juga menyerah, padahal dia sudah teramat lelah.


"Jangan terus menghindari ku, biarkan aku menjagamu" ucap laki-laki itu, bahkan kini lelaki itu menggenggam kedua tangannya erat.


"Izinkan aku terus bersamamu, aku hanya ingin mengantikan Kenzie menjaga mu. Kita bisa berteman seperti dulu. Kembali dekat lagi" ujar lelaki itu kembali, Jehan berusaha melepaskan tangannya, namun Gibran menggenggam nya dengan erat.


"Aku tak bisa"


"Kenapa ? kita sama Je, sama-sama kehilangan, sama sama terluka, maka dari itu mari berdiri bersama, hidup harus terus berjalan bukan. Kita bisa berteman, itu sudah cukup" ujar Gibran, lelaki itu menatap mata Jehan dalam, dia sudah berjanji dalam hati, ingin selalu menjaga Jehan seperti kakak nya yang tak membiarkan gadis itu bersedih sebentar saja.


"Tidak semudah itu Bran"


"Apanya yang tidak mudah, semua tidak mudah Karena kamu terus menolak ku, menjauhi ku, padahal dulu kita sahabatan" lagi-lagi Gibran menyela ucapan Jehan, laki-laki itu menghela nafas kasar.


"Terserah kamu saja lah, aku lelah" jawab Jehan pasrah, biarkan sajalah semua berjalan semestinya, dia tidak akan bertindak sesuka nya lagi.

__ADS_1


"Aku antar kamu pulang oke, kamu tadi naik apa ?"


"Taksi"


"Ya udah aku antar pulang sekarang" Gibran menggenggam tangan Jehan, lalu membawa gadis itu berjalan ke arah mobilnya, lelaki itu membuka mobil untuk Jehan, dengan menghela nafas, Jehan pun memilih untuk masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan hanya ada keheningan, Gibran fokus dengan kemudinya, serta Jehan yang sama sekali tak berniat membuka mulut, gadis itu melihat buku diary di tangannya dalam, dia penasaran dengan semua isi dari buku itu, ingin membaca tapi takut jika dia kembali menangis nanti.


Tangan gadis itu sudah ingin membuka isi pertama, namun kembali menutupnya, hatinya ragu untuk melanjutkan.


Selama ini dia tak pernah menyangka bahwa Kenzie memiliki buku diary, karena ya, Jehan pikir karena Kenzie adalah seorang laki-laki mana mungkin dia menulis diary seperti perempuan.


Tapi saat melihat lembar pertama sekilas, Jehan percaya jika itu memang buku Kenzie, terbukti tulisan di buku itu yang mirip sekali dengan tulisan tangan Kenzie.


Padahal dulu dia sudah bertekad untuk membuat gadis itu kembali tertawa dan bahagia, dia berusaha keras membantu Kenzie agar bisa bersama dengan Jehan, namun kini gadis itu kembali mengalami hal yang sama bahkan lebih berat lagi.


Tapi meski begitu, Gibran tak akan menyerah dia akan terus berusaha membuat hidup Jehan kembali seperti semula, meski sulit dia tak akan menyerah, dia akan menjaga gadis kesayangan kakak nya itu, dan tak akan membiarkan gadis itu menangis apalagi terluka.


Mobil kini sudah tiba di depan gerbang rumah Jehan, sengaja Gibran tak membawanya masuk, dia merasa sungkan karena sudah lama tak main ke rumah gadis di samping nya ini.


"Ngga mampir ?" tanya Jehan, Gibran menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, dia senang karena Jehan kini tak lagi dingin padanya.

__ADS_1


"Tak usah aku harus segera ke kantor, kamu masuk saja" ucap Gibran, Jehan hanya mengangguk, lalu keluar dari mobil Gibran.


Setelah melihat mobil Gibran menghilang, gadis itu pun memilih untuk masuk ke dalam, seperti nya waktu nya sangat tepat karena gerbang langsung di buka oleh penjaga.


"Eh, ternyata benar non Jehan yang ada di luar, masuk non" Jehan mengangguk, gadis itu pun masuk ke dalam, lalu satpam itu kembali menutup pagar.


"Makasih ya pak" pak satpam itu mengangguk, sambil tersenyum ramah, Jehan pun mulai melangkahkan kakinya ke dalam rumah besar di hadapannya.


Gadis itu langsung berjalan ke kamar, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara mama nya.


"Jehan kamu sudah pulang" Jehan menoleh, mama nya itu duduk di ruang tamu, Jehan mengangguk kan kepala nya pelan.


"Tadi mama lihat makanan di kamar masih utuh, kamu ngga makan nak" Jehan terdiam, dia lupa atau mungkin dia tidak berselera untuk menyentuh makanan.


"Ya sudah, kamu naik saja kalau capek, nanti kalau udah ngga capek turun ya mama mau ngobrol sama anak gadis mama, sekaligus kamu makan, jangan sampai ngga, mama ngga mau kamu sakit." Jehan kembali mengangguk, sebenarnya dia tak tega terus bersikap seperti ini kepada orang-orang yang menyayanginya. Namun dia tidak bisa memaksa dirinya untuk terus berpura-pura, rasanya sudah terlampau lelah.


Jehan pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, sedangkan mama Selina hanya melihat punggung Jehan yang mulai menghilang, wanita itu mendesau merasa amat sedih dengan kisah putrinya.


Setelah sampai di kamar, Jehan pun meletakkan tas nya di atas nakas, lalu gadis itu membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


Menghela nafas sebentar, Jehan memilih untuk menutup matanya sejenak, menetralkan perasaannya yang terus saja berperang dalam hati.

__ADS_1


Gadis itu melirik atas nakas, makanan yang tadi pagi mama bawakan sudah tidak ada, mungkin sudah di bawa turun. Gadis itu kembali terdiam merasa bersalah kepada mama nya itu. Padahal malaikat nya itu sudah memasak spesial untuk nya agar dia tidak sampai sakit namun dia malah tidak menyentuh makanan itu sama sekali.


__ADS_2