
Jehan turun dari kamar nya dengan seragam sekolah yang sudah melekat di tubuhnya, dan juga tas punggung yang berada pada pundaknya. Gadis itu menghampiri orang tua nya yang sudah terlebih dulu duduk di meja makan.
"Pagi pah, mah" Jehan mencium kedua pipi orang tua nya, lalu duduk di samping sang mama, yang hanya tersenyum ke arahnya. Gadis itu melihat meja makan yang sudah di penuhi oleh beberapa makanan dan buah-buah an segar.
"makan dulu sayang sebelum berangkat, bukan nya kamu masih ujian" ucap sang mama, wanita itu memberikan nasi ke piring papa nya dan juga beberapa lauk, tak lupa papa nya yang tersenyum manis kepada sang mama.
Ah kebahagiaan apa lagi yang kurang dari hidup Jehan, dia tidak berani meminta apapun lagi pada Tuhan selain kebahagiaan untuk kedua orang tua nya. Karena kebahagiaan orang tua adalah kebahagiaan terbesar untuk Jehan.
Jehan beruntung karena mendapat kan orang tua yang saling menyayangi dan mengasihi seperti mereka. Yang selalu mendukung apapun kemauan Jehan dengan catatan itu masih baik dan tidak melebihi batas.
Orang tua nya itu tidak pernah memaksa apapun untuk anak-anak nya.
mereka makan dalam keheningan, hanya terdengar bunyi sendok yang bertabrakan dengan piring. Jehan ingin mengatakan sesuatu namun masih coba dia tahan.
Setelah makanan dalam piring tandas, Jehan mengambil air untuk minum. Gadis itu mengecek hp nya sebentar untuk memberikan pesan kepada teman-temannya.
"pah, nanti malam Hanna katanya mau nginap boleh kan" tanya Jehan kepada papa nya, tadi malam memang Hanna menelfon nya, mengatakan ingin menginap agar mempunyai banyak waktu bersama nya.
"boleh, asal sudah mendapat izin dari orang tuanya" Jawab sang papa, Jehan sudah menebak itu, dari dulu jika Hanna menginap pasti harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"iya pa, Hanna pasti akan izin terlebih dahulu, jika keluar rumah tanpa izin bisa-bisa dia di kurung papa nya seminggu ngga boleh keluar rumah" ucap Jehan sambil terkekeh, se posesif apapun orang tua Hanna, orang tua Jehan jauh lebih posesif, Jehan tidak boleh berada di luar rumah di saat jam sudah masuk pukul 9 malam. Jehan hanya boleh keluar di bawah jam itu, jika tidak orang tua nya akan menyidang nya layaknya gadis yang baru saja melakukan sebuah kesalahan yang tidak bisa di toleransi.
Jehan pun tidak merasa terkekang, dia tau orang tua nya melakukan hal itu untuk kebaikannya. Jehan tidak berani membantah, dia merasa dia masih membutuhkan orang tua nya dan masih sering menyusahkan. Maka dari itu dia akan menuruti apapun itu asal masih wajar.
"oh ya Je, gimana hubungan kamu sama Juna" Jehan tersedak minuman yang dia teguk, gadis itu terbatuk-batuk mendengar ucapan mama nya. Mama nya mengernyit heran atas tingkah anak nya, apakah ucapan nya salah ?
"hubungan apa ma ?" ucap Jehan pura-pura bodoh, dia melirik papa nya yang menatap nya dengan padangan yang sulit Jehan artikan. Gadis itu menelan ludah, membasahi tenggorokan nya yang terasa kering.
"itu loh, bukannya kamu deket sama kakak kelas kamu itu. Sepertinya dia suka kamu Je, mama bisa lihat dari cara dia natap kamu. kamu ngga peka sih Je jadi perempuan." ucap mama nya sambil membantu bibi membersihkan piring.
"ah mama, Jehan masih kecil. Seharusnya di larang buat berhubungan sama cowok gimana sih" ucap Jehan kesal, jika banyak para orang tua yang ingin anak nya fokus belajar agar dapat meraih cita-cita, mama nya itu justru berbeda, begitu ter obsesi untuk menggoda nya ketika Jehan dekat dengan laki-laki.
"kata siapa masih kecil, mama ngga larang kok. Ngga papa kalau pacaran nya sehat. Bisa di jadikan penyemangat untuk terus belajar biar pintar kaya mama dan papa dulu" ucap mama nya, sambil menatap sang papa penuh cinta.
Dia hanya menjalin hubungan saat-saat sekarang bersama Juna, itu pun pacaran kontrak, sangat unik bukan ?
"mama lihat, nak Juna itu baik. Ya walau mama baru kenal, tapi mama punya feeling dia anak yang baik. penyabar gitu anak nya" Jehan mengangguk, Juna memang laki-laki yang mempunyai sikap yang positif, sabar, lembut, ramah, dan suka membantu. Di tambah dengan wajah nya yang tampan dan otak nya yang cerdas.
Hanya satu kekurangan laki-laki itu, yaitu sering di hina Karena miskin dan juga tidak punya orang tua, jujur jika mengingat sikap semua orang terhadap Juna rasanya membuat Jehan ingin menampar mulut kasar mereka semua.
__ADS_1
"Kak Juna emang baik ma" jawab Jehan
"kamu suka sama dia" bukan sang mama yang bertanya, melainkan sang papa yang saat ini menatap nya tajam, Jehan lagi-lagi menelan ludah, dia harus menjawab apa sekarang.
"Kenapa diam ? papa cuma tanya apa kamu menyukai nya atau menyukai sikap nya"
"sama saja papa, suka ke sikap trus suka ke orang nya itu ngga ada bedanya" mama Jehan memukul lengan suami nya pelan, gemas dengan pertanyaan sang suami yang sangat tidak bermutu.
"Jehan ?"
"Jehan ngga tau, Jehan belum merasakan perasaan apa-apa sama dia. Udah ya pa, ma Jehan mau berangkat, takut telat. Arga sama yang lain udah notif nunggu di depan" Jehan mengambil hp nya, memasukkan beda persegi panjang itu ke dalam tas, lalu mencium punggung tangan kedua orang tua nya.
"mereka ada di luar ? kenapa ngga masuk aja lo" mama nya bertanya, Jehan hanya mengedikkan bahu tidak tau. Gadis itu mengambil jaket yang tersampir di kursi makan. Dan berjalan ke arah pintu rumah.
"hati-hati Je, jangan ngebut" mama nya berteriak, Jehan mengangguk dan kembali berjalan ke halaman depan dimana semua teman-teman nya tengah berada.
"ayo berangkat" Jehan memakai jaket nya, dia menyalakan motor nya, teman-temannya pun sama menyalakan motor masing-mansing.
mereka mengendarai motor dengan kecepatan sedang, sesekali membalap truk dan mobil yang berjalan lambat. Jarak tempuh antara rumah ke sekolah hanya satu jam. Jehan memarkirkan motor nya di parkiran samping sekolah, lalu turun menunggu teman-temannya.
__ADS_1
Setelah semua teman-teman Jehan tiba, mereka berlima pun berjalan ke arah gerbang, ujian akan di mulai 20 menit lagi.
"kita pisah by" Jehan melambaikan tangan, teman-teman nya hanya tersenyum selain Johan yang menatap nya datar. Jehan berjalan ke arah ruangan nya.