
5 bulan berjalan tanpa terasa, Jehan saat ini menata buku nya ke dalam tas, persiapan untuk berangkat ke sekolah, Gadis itu kembali berdiri di depan cermin, menatap penampilannya yang sudah cukup rapi, setelah di pastikan semua keperluan sekolah nya masuk ke dalam tas, gadis itu pun turun dengan tas punggung nya.
Sekarang gadis itu sudah berada di bangku kelas 11 SMK, dia mengecup kedua pipi orang tuanya, sudah menjadi kewajiban untuk mengecup pipi papa dan mama sebelum berangkat sekolah.
"makan dulu Je, nanti kamu papa antar ya?" tanya papa nya, Jehan duduk di kursi samping sang mama. Gadis itu menatap papa nya.
"iya" Jehan mengambil sandwich yang telah siap di meja makan, mulai mengunyah nya perlahan, mereka bertiga kembali fokus dengan makanan masing-masing.
Jehan mengambil tisu dan membersihkan bibirnya dari sisa makanan, gadis itu mengambil air dan menuangnya dalam gelas.
"mau berangkat sekarang ?" tanya mama nya kepada Jehan
"iya ma, sekarang aja" Jehan mencium punggung tangan mama nya, lalu berjalan ke arah parkiran bersama papanya. Hari masih cukup pagi, Jehan masuk ke dalam mobil, melihat papa nya yang mencium kening sang mama sebelum berangkat kerja membuat senyum Jehan terbit.
mobil keluar dari gerbang rumah, jalan belum terlalu ramai karena hari yang masih pagi hari ini memang Jehan ada praktek tentang jaringan jadi Jehan akan belajar terlebih dahulu agar nanti bisa lancar dalam praktek.
Setelah pulang sekolah Jehan duduk di depan kelas, dia sedang menghubungi mama nya untuk minta jemput.
"Jehan" gadis itu mendongak ketika mendengar nama nya disebut, di depannya berdiri seorang laki-laki yang sedang tersenyum manis ke arahnya, Jehan mengernyit dia tidak mengenal laki-laki itu. Karena tidak mengenal laki-laki di depannya maka Jehan pun memilih diam.
"lama banget kamu ngga sekolah, kakak hubungi ngga bisa. kamu tau kakak rindu banget sama kamu dek" laki-laki itu mengelus rambut nya dengan tatapan lembut. Jehan terdiam, siapa laki-laki itu sebenarnya.
__ADS_1
Jehan mematung saat laki-laki asing itu mengecup puncak kepala nya, dia berdiri menatap laki-laki itu dengan sejuta rasa bingung.
Jehan dengan cepat menampar laki-laki asing di depannya saat laki-laki itu ingin memeluk nya. Dia bergidik antara jijik dan bingung. Dia menatap laki-laki itu dengan tatapan penuh amarah.
"Jehan" Jehan terdiam, dia membuang muka.
"kamu kenapa menampar kakak, kakak ada salah heum" ucap laki-laki itu lembut
"jangan berbicara dengan nada itu, saya jijik mendengarnya" Juna mengernyit kan dahi saat gadis nya itu berbicara dengan nada kasar. Dia mencoba menggapai tangan gadis nya namun gadis itu menjauhkan tangannya dari jangkauan tangan Juna.
"kamu kenapa si Je, kakak ada salah ?" tanya Juna frustasi, sudah cukup lama mereka tidak bertemu, sekali bertemu gadis nya itu berulah, bahkan terlihat memandang nya seperti kotoran yang menjijikkan.
Jehan hanya acuh, gadis itu pergi meninggalkan Juna sendirian, Juna semakin bingung dengan sikap yang Jehan tunjukkan. Juna mengejar Jehan dia melihat gadis itu masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam.
"gimana belajarnya sayang" Jehan menoleh ke samping, mama nya tersenyum lembut ke arahnya. Jehan terdiam cukup lama sebelum menjawab.
"melelahkan" mama nya itu terlihat mengernyitkan dahi, Jehan menegak minuman yang berada di Dashboard mobil.
"melelahkan nya kenapa ?" tanya mama Jehan sambil mengendarai mobil ke arah rumah.
"ngga tau aja, makin kesini makin banyak yang sok kenal sama Jehan" gadis itu memejamkan mata, satu bulan ini hari nya cukup sulit.
__ADS_1
"Je kayanya mau pindah sekolah aja deh ma" Jehan mengutarakan keinginan nya setelah dari kemarin memendam nya sendirian.
"kan kamu udah kelas 11, masak mau pindah. Emang ngga rugi kalau pindah ?" tanya mama nya, Jehan menghela nafas, terlihat sekali jika dia sangat lelah.
"itu lebih baik, daripada aku terus merasa pusing, apa mama mau jika terjadi apa-apa sama Jehan" mama nya menggeleng.
"bukan begitu, tapi coba kamu pikirin lagi, ngga papa kalau udah yakin mama ma dukung aja" mobil memasuki rumah, Jehan turun, berjalan ke atas dimana kamarnya berada.
"habis ini langsung istirahat aja kalau kepala nya pusing" Jehan mengangguk, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di kamar Jehan pun merebahkan tubuhnya, sambil memijat dahi nya yang terasa hangat, dia memejamkan mata. Terlalu banyak pikiran membuat tubuh nya menjadi gampang lelah.
Jehan kembali mengingat ucapan laki-laki yang tadi mencium kepala nya. Dia merasa kesal karena kurang cepat menangkis laki-laki itu saat mengusap rambut bahkan mencium puncak kepalanya.
"kepala aku pusing banget" Jehan memilih untuk istirahat sebentar, agar kepala nya kembali dingin. Gadis itu ingin untuk tidak memikirkan apapun yang membuat kepala nya sakit. Soal apapun itu dia tidak ingin memikirkannya.
sementara di tempat lain, terdapat seseorang yang sedang menatap hampa air danau di hadapannya. Dia mendesah saat mengingat kejadian buruk yang terjadi. Itu semua salahnya ya dia yang salah, karena kesalahan yang terjadi itu hubungan nya dengan Jehan menjadi renggang.
"maaf Je, ini semua salah ku. Maaf membuat mu mengalami titik rumit ini. Aku memang bukan teman yang baik" laki-laki yang sekarang sedang menatap sendu ke arah danau itu terus menyalahkan diri atas kejadian buruk yang terjadi. Andai waktu dapat di ulang. Maka dia tidak akan membiarkan sesuatu buruk itu terjadi.
"aku harus apa sekarang, semua sudah terjadi. Ahk ini salahku" Gibran terus menjambak rambut nya frustasi. Laki-laki itu ingin sekali marah, namun kepada siapa. Toh semua terjadi karena nya walau tidak sepenuhnya dia yang salah.
__ADS_1
"udah jangan terus menyalahkan diri disini aku juga salah, aku juga ikut membujuknya waktu itu. Jangan terus begini. Aku jadi sedih" Gibran menoleh menatap gadis cantik yang duduk di sampingnya. Ya ini salah mereka namun Gibran lah yang jelas lebih salah. Dia bukan teman yang baik, dia membuat Jehan berada pada posisi yang sulit.