
"mamah" Jehan berdiri, menghampiri mama nya yang menatap nya tajam, apakah dia melakukan kesalahan ? dan kenapa mama nya bisa bersama dengan Arjuna dengan keadaan tubuh yang basah.
"ambilkan handuk, kasian teman kamu kedinginan ini. Ayo nak Juna duduk" Jehan melongo saat mama nya itu menarik tangan Juna dan menyuruh laki-laki itu untuk duduk di kursi dalam keadaan tubuh yang basah. Apakah mama nya itu sedang becanda, bagaimana jika sofa bersih itu kotor karena tubuh Juna yang basah.
"Jehan, ayo kenapa bengong" Jehan kaget, dia menatap mama nya yang terlihat emosi, gadis itu pun berdecak dan pergi ke kamar nya dengan raut muka kesal.
"nyusahin aja si, lagian gimana dia ada disini" Jehan membuka lemari dengan kesal, mengambil salah satu handuk baru yang tersusun rapi tak lupa mengambil selimut karena tak mau jika di suruh ke atas lagi.
"ini handuknya" Jehan melihat ruang tamu, hanya ada bibi yang duduk di sofa dan Juna yang sedang menyesap teh hangat. Mama nya itu tidak terlihat keberadaannya entah berada di mana.
"ini handuk nya" Jehan menaruh handuk itu di samping Juna dengan kasar, lalu duduk di samping bibi dengan wajah di tekuk.
Juna menghela nafas, dia sudah menduga jika Jehan akan marah ketika melihatnya, laki-laki itu mengambil handuk dan mengusap tubuhnya yang basah.
"lebih baik ganti baju aja deh den, kasihan kalau ngga ganti baju bisa masuk angin nanti" ucap bibi
"iya itu benar, ganti baju aja nak" Jehan menoleh ke arah tangga, mama nya itu turun dengan baju baru, Jehan memutar bola matanya, menatap malas ke arah Juna.
"eh, ngga papa tante pakai ini saja, lagipula saya tidak membawa baju ganti" ucap Juna sambil tersenyum, Jehan hanya diam seolah tidak mendengar obrolan 3 manusia itu.
"pakai baju Jehan saja, lagipula Jehan baju nya besar semua kok" Jehan mendelik tidak suka ketika mendengar ucapan mama nya, gadis itu memberikan ekspresi sekesal mungkin, Juna yang melihat itu hanya tersenyum masam.
"apa sih ma, kalau mau pinjemin baju pakai aja baju kakak, Jehan ngga mau kasih baju Jehan ke dia" ucap Jehan ketus.
"kalau punya kakak yang ada kebesaran Je, cuaca lagi dingin ini. Ngga papa pinjemin dulu lagian kamu kan punya beberapa kaos cowok" ucap mama nya lembut, Jehan berdecak, dia menatap Juna kesal. Memang dia mempunyai beberapa kaos pendek seperti punya cowok, entah Jehan lebih suka memakai baju longgar dan sederhana tanpa ribet.
"nyusahin banget sih lo" ucap Jehan kesal, Juna hanya diam menunduk.
"dasar pengecut" sarkas Jehan
__ADS_1
"Jehan, dia juga teman kamu" ucap mama Jehan dengan nada tingi, wanita itu tidak suka melihat putri nya yang dingin dan ketus seperti itu. Jehan terdiam, kaget mendengar mama nya yang membentak nya hanya karena Juna.
"kalau kamu ngga mau yaudah, biar bibi yang ambil. Ngga perlu berbicara kasar seperti itu"
"Juna bela-belain datang kesini sampai kehujanan hanya karena pengen balikin buku kamu yang jatuh, kamu malah bersikap tidak sopan seperti ini. Pernah mama ajarin kamu seperti itu Je." Jehan mengepalkan kedua tangan nya, gadis itu berdiri, berjalan ke arah kamar tanpa menatap ketiga orang yang duduk di ruang tamu.
"maaf in Jehan ya, sikap nya begitu buruk sama kamu" Juna tersenyum masam, laki-laki itu menatap tangga, berharap Jehan kembali turun.
"ngga papa tan, Juna ngerti kok. Tapi kalau bisa Juna pengen minta satu permintaan ke tante" ucap Juna pelan.
"permintaan apa nak" tanya mama Jehan
"tolong jangan bentak Jehan tan apabila dia melakukan kesalahan, cukup nasehati saja. Hati Jehan itu lembut walau saat ini dia bersikap dingin dan kasar kepada Juna. Tapi Juna tahu jika hatinya pasti terluka karena tante membentak nya tadi." mama Jehan menatap Juna dengan intens, tidak menyangka dengan ucapan laki-laki remaja di samping nya ini. Dapat wanita itu lihat rasa sayang yang begitu besar di mata Juna ketika membicarakan putri nya.
"iya mama tidak akan membentak nya lagi"
"mama nak, panggil tante mama, seperti Jehan memanggil tante. Kamu tau, mama sudah menganggap mu seperti keluarga mama sendiri" Juna menunduk, merasa tidak pantas menyandang status itu.
obrolan mereka terhenti ketika Jehan datang dengan muka sembab, gadis itu menunduk tak berani menatap mama nya, mama Jehan tersenyum melihat putrinya yang terlihat habis menangis itu.
"maaf ya sayang, mama ngga bermaksud buat bentak kamu tadi" mama Jehan mengusap wajah putri nya, Jehan terdiam, terlihat ingin menangis namun dia tahan sebisa mungkin.
"iya Je ngerti, jadi pinjam baju ngga, pilih sendiri aja, Jehan hanya punya baju kalau yang lain pinjam ke kakak aja" mama nya mengangguk
"biar mama pinjam celana ke kakak kamu aja, nak Juna ikut saja ke kamar Je di atas"
"em baik tan eh ma" Juna menjawab gelagapan, apalagi ketika melihat Jehan yang menatap nya dengan ekspresi yang sulit dia artikan.
mereka berdua berjalan menaiki tangga, Jehan membuka pintu kamar, membiarkan Juna masuk, mengajak laki-laki itu ke arah Walk-in closet. Membiarkan Juna memilih pakaian sedangkan Jehan berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
"SIAPA KAMU" Juna yang memilih pakaian terkejut sampai menjatuhkan baju milik Jehan, laki-laki itu menoleh menatap laki-laki dewasa di depannya dengan kaget. Laki-laki itu berjalan ke arahnya dengan wajah memerah menahan amarah lalu menarik kerah baju nya yang basah.
"kak" Jehan membuka mulut nya ketika melihat kakak nya menarik kerah baju Juna seperti ingin memukul laki-laki itu. Sedangkan kakak Jehan yang melihat adiknya berjalan dari kamar mandi tanpa menggunakan alas kaki pun salah paham dan emosi.
Bruk
"BRENGSEK" ucap kakak Jehan dengan menggelegar.
"KAKAK" teriak Jehan.
🍁🍁🍁
"stttt" Juna mendesis pelan saat kapas yang tercampur rivanol itu menyentuh sudut bibir nya. Rasa perih menjalar amat terasa ketika kapas itu bersentuhan dengan kulit wajah nya yang terluka.
"aw sakit Je" Juna menahan tangan Jehan, ketika gadis itu menekan luka nya terlalu kuat.
Jehan menghembuskan nafas, menarik dagu Juna agar menatap nya, Jehan kembali membersihkan luka itu dengan gerakan pelan dan lembut.
"mau di bersihkan selembut mungkin rasanya juga akan tetap sakit" ucap Jehan ketus, entahlah gadis itu bawaannya naik darah terus setiap berhadapan dengan Juna. Juna menatap wajah cantik Jehan intens, rindu nya kembali meluap karena berada sedekat ini dengan Jehan. Bahkan wangi tubuh gadis itu tercium hingga membuat rasa rindunya semakin memuncak.
"ngga sakit kalau kamu bersihinnya pakai cinta" ucap Juna sambil tersenyum tipis, Jehan berdecak menghempaskan dagu Juna kasar. Laki-laki itu mengaduh namun Jehan sudah tidak perduli.
"ngga bisa pakai cinta, hati aku terlalu mahal. Ngga bisa di obral pakai kata-kata" ucap Jehan dengan nada ketus kembali. Juna tersenyum manis, menatap wajah gadis nya yang di tekuk tanpa senyum sedari tadi.
Cup
Jehan melotot, menatap Juna yang saat ini tersenyum tanpa merasa bersalah karena sudah mencium nya tanpa izin. Wajah gadis itu memerah percampuran antara malu dan marah sehingga wajah nya tampak merah seperti kepiting rebus.
"itu adalah obat paling ampuh untuk membuatku cepat sembuh" ucap Juna, Jehan berdecak tidak suka.
__ADS_1