
Pagi hari kembali menyapa, suasana pagi ini terlihat mendung, mungkin hujan akan turun, akhir-akhir ini hujan memang sering turun dengan derasnya.
Terlihat seorang perempuan di atas ranjang besar yang sedang terlelap, di lihat tidur gadis itu seperti tak tenang, mungkin juga gadis itu sedang mengalami mimpi buruk.
"Ahh" sedetik kemudian, gadis itu langsung terbangun dan duduk dengan wajah pucat, keringat nampak menetes dari wajahnya yang pucat pasi. Gadis itu menyentuh jantung nya yang berpacu kuat karena mimpi yang melintas dalam tidurnya.
Dengan nafas terengah-engah gadis itu mengambil air di gelas samping nakas, dan menegaknya.
"Aku merasa tidak aman saat ini" ucap gadis itu pelan, tatapannya tertuju ke arah jendela yang menampakkan awan gelap, padahal hari masih pagi.
"Mimpi buruk, sama seperti cuaca di luar sana yang terlihat buruk" ucap Jehan, gadis itu mulai berdiri, sejenak bingung harus melakukan apa, namun akhirnya gadis itu memilih untuk mandi. Karena bagaimanapun dia harus bekerja.
Selesai mandi Jehan berjalan ke arah Walk-in closet, gadis itu menatap siluet tubuhnya di depan lemari kaca yang begitu besar. Sedikit malas sebenarnya untuk pergi ke kantor, namun jika tidak ke kantor pun dia akan di pecat dari pekerjaannya.
"Sebenarnya kemungkinan untuk di pecat itu sulit, huh aku lelah bekerja" ucap Jehan dengan lesu, gadis itu memilih baju untuk dia kenakan ke kantor, setelah memastikan semuanya rapi, Jehan segera keluar dari kamarnya dan turun.
Sampai di lantai bawah, terlihat para pembantu sedang membersihkan rumah, mereka memang rajin tidak seperti Jehan yang saat ini terlihat tidak mood untuk melakukan apapun.
Jehan berjalan ke arah meja makan, gadis itu melihat makanan begitu banyak telah tertata rapi di meja.
"Pagi non, mari sarapan" ucap bibi sambil menarik kursi untuk Jehan, Jehan duduk sambil menghela nafas melihat semua makanan itu.
"Mama sama papa ngga pulang, kakak mana ?" tanya Jehan.
"Den Al ngga pulang sejak tadi malam non" jawab bibi, Jehan kembali menghela nafasnya. Rasanya malas untuk makan sendirian.
"Ya udah bi, panggil yang lain. Kita makan bersama"
"Maksudnya non ?"
__ADS_1
"Iya, temani Jehan makan, Jehan suka ngga nafsu kalau makan sendirian. Daripada makanan ini di buang, mending di makan bareng-bareng kan ?" ucap Jehan, dia berharap pembantu serta pengawalnya belum makan duluan.
"Tapi non, pengawal di depan sepertinya sudah makan lebih dulu" ucap bibi, karena tak semua pengawal tinggal di rumah itu, ada yang memilih pulang dan datang saat pagi-pagi buta.
"Tak apa bi, siapa tau mereka masih lapar, panggil mereka semua kemari" bibi menghela nafas, wanita itu tersenyum ke arah nona nya dan berlalu untuk memanggil semua pelayan seperti titah nona nya.
***
Jehan berjalan memasuki kantor, gadis itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dia telat dan dia tau bos nya pasti akan marah karena dia telat tanpa izin.
Gadis itu memasuki ruangannya, saat membuka pintu Jehan melihat seorang laki-laki yang duduk di tempat duduk nya dengan kaca mata hitam yang bertengger di kedua matanya.
Jehan menghela nafas lesu, gadis itu berjalan ke arah laki-laki itu dengan pelan.
"Sepertinya kamu memang hobi terlambat" ucap laki-laki itu, seolah-olah tau bahwa ada seseorang yang menghampirinya. Yaitu Jehan.
"Maaf" ucap Jehan singkat
"It's oke, hukuman apa yang akan bos beri ?" jawab Jehan dengan tenang.
"Siang nanti, temani aku makan siang di luar" Jehan mengernyitkan dahinya, apakah hal seperti itu adalah sebuah hukuman. Gadis itu menatap Dion dengan raut wajah bingung.
Benar saja ketika waktu istirahat tiba, Dion mendatanginya dan mengajaknya untuk makan di luar, laki-laki itu mengatakan jika itu hukuman yang pantas karena Jehan telat ke kantor hari ini.
Mereka makan di sebuah restoran dengan menu makanan Jepang, sebenarnya Jehan tak terlalu menyukai makanan Jepang, namun sepertinya makanan Jepang adalah makanan kesukaan bos nya itu.
"Pesanlah apapun yang kamu suka, semuanya gratis" ucap laki-laki itu, Jehan hanya diam, karena dia memang tak terlalu suka makanan Jepang.
"Apakah kita akan kenyang dengan makanan ini ?" tanya Jehan polos, bukankah makanan tanpa nasi tidak akan membuat kenyang ?
__ADS_1
Terbiasa hidup sederhana meskipun keluarganya punya perusahaan besar, tak membuat Jehan suka makanan aneh-aneh. Gadis itu lebih menyukai makanan Korea daripada makanan Jepang.
"Pesan saja yang banyak, pasti kenyang" jawab Dion sambil tersenyum manis. Jehan terdiam, matanya melihat ke arah menu yang tersedia.
"Aku mau Okonomiyaki saja" putus Jehan akhirnya.
"Baiklah"
Jehan makan dengan pelan, gadis itu memperhatikan sekelilingnya di mana terlihat beberapa orang yang sedang makan seperti dirinya.
Restoran itu cukup ramai, karena makanannya yang memang unggul di rasa. Jehan melihat ke belakang Dion di meja paling ujung di mana dia berhenti mengunyah makanannya saat melihat dua orang yang sedang makan bersama sambil sesekali mereka tertawa.
Gadis itu tak mengalihkan pandangannya sama sekali, wajah nya berubah tanpa ekspresi saat melihat dua orang yang terlihat pasangan itu sedang bercanda bersama.
Dalam hati gadis itu mengutuk laki-laki itu, Jehan menunduk melihat makanannya, seketika nafsu makanan nya menghilang.
"Dasar buaya" ucap gadis itu tanpa sadar
"Apa ?" Dion yang mendengar ucapan itu langsung menyahut, laki-laki itu menatap wajah Jehan bingung.
"Siapa ?" lanjut laki-laki itu sambil melihat sekeliling nya.
"Bukan siapa-siapa, lebih baik segera selesaikan makanan mu, dan kita segera kembali." alih Jehan.
"Tapi makanan mu belum habis Je"
"Aku tak nafsu, teringat pekerjaan ku yang masih banyak di kantor"
Dion mengernyitkan dahi nya, laki-laki itu curiga karena mood Jehan yang berubah tiba-tiba.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita kembali" putus Dion pada akhirnya.
Mereka meninggalkan restoran itu bersama, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap kepergian mereka dengan tangan yang terkepal.