Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Canggung


__ADS_3

Pagi itu Jehan membantu bibi untuk menyiapkan sarapan, hari ini hari libur, jadi gadis itu memutuskan untuk bersantai. Cukup banyak makanan yang kini terhidang di meja makan. Jehan request banyak sekali makanan kepada para bibi untuk memasak. Tanpa tahu jika makanan itu nanti akan mubasir.


Jehan tersenyum sambil membersihkan kedua telapak tangannya, sedari dulu gadis itu memang suka sekali memasak, meskipun tidak sering membantu tapi jika sedang libur dan dalam mood baik, maka gadis itu akan memborong sayur dan bahan makanan untuk memasak.


"Bi makanan yang lain ini di bungkus aja ya, trus taruh dalam kotak pics makanan." Seperti biasa, setelah semua selesai, Jehan akan memberikan titah, para bibi hanya tersenyum, mereka semua amat senang, karena secara perlahan sifat Jehan kembali seperti dulu, tidak lagi sedingin setelah gadis itu sadar dari koma nya.


"iya nona" para bibi hanya mengangguk, sebagai tanggapan ucapan nona muda mereka.


"yaudah, Jehan mau ke atas dulu" gadis itu beranjak dari tempatnya.


mama dan papa Jehan turun dari lantai atas, serta kakak Jehan yang berjalan dari arah ruang olahraga bersama Juna. Ya laki-laki remaja itu tadi di ajak kakak Jehan untuk ikut olahraga karena ingin mengetahui skill Juna dalam bidang olahraga. Namun tanpa di sangka ternyata Arjuna adalah remaja yang handal dalam bidang berkelahi, bahkan laki-laki remaja itu terlihat begitu bersemangat saat tadi melihat beberapa alat olahraga berat di salah satu ruangan rumah Jehan.


"Jehan mana pa ?" tanya kakak Jehan menghampiri kedua orang tuanya.


"masih di atas kayak nya, kamu habis olahraga ?" papa nya menebak, terlihat dari anak nya yang hanya menggunakan kaos dan juga celana pendek di atas lutut. Serta handuk kecil yang tersampir di bahu laki-laki itu.


"iya" kakak Jehan mengangguk


"yaudah kamu sama Juna mandi dulu, kita tunggu di meja makan ya" ucap mama nya, dua laki-laki beda generasi itu hanya mengangguk.


"kamu nanti ikut ke kamar aku dulu, kebetulan aku punya baju yang seukuran sama tubuh kamu, besar dikit ngga masalah lah. Kebetulan dulu waktu beli ngga aku pakai karena ngga suka sama warna nya" ucap kakak Jehan, Juna lagi-lagi mengangguk.


"baik kak" jawab Juna


***


Kini semua telah berkumpul di meja makan, Jehan mengolesi roti tawar yang berada di meja dengan selai blueberry kesukaannya. Juna menatap Jehan lekat, pasalnya di meja ini terdapat banyak sekali makanan, kenapa gadis itu malah makan roti, pikir Juna tak mengerti.


"kamu bingung ya kenapa Jehan makan roti ?" Juna tersentak, sepertinya mama Jehan dapat menyadari kebingungan Juna hanya lewat tatapan mata laki-laki itu. Juna menatap mama Jehan dengan canggung, apalagi saat ini semua pasang mata yang ada di ruangan ini melihat nya, tak terkecuali Jehan.

__ADS_1


"eh itu iya tan" Juna masih sungkan memanggil mama, karena bagaimana pun juga Juna adalah orang lain dalam keluarga itu.


"Jehan emang kalau pagi ngga suka sarapan nasi, dia jarang makan nasi kalau ngga di paksa" Papa Jehan ikut menimpali obrolan itu.


"oh gitu ya om" Juna semakin kikuk, jujur dia tidak nyaman ikut makan seperti ini. Apalagi dengan tatapan keluarga Jehan yang tajam, hanya mama Jehan lah yang menatapnya lembut tanpa intimidasi. sebenarnya Ingin pulang namun mama Jehan tidak mengizinkan sebelum ikut sarapan.


"nak Juna masih belum nyaman ya sama keluarga ini ?" tanya mama Jehan.


"ngga kok tante, keluarga Jehan baik semua, jadi Juna nyaman aja"


"tapi pas tante suruh panggil mama berulang kali kok tetap manggil tante sih nak" tanya mama Jehan, Juna terdiam, memikirkan jawaban yang sekiranya pas.


"Juna kan orang lain tante, ngga enak kalau manggil nya seperti itu" ucap Juna sambil menunduk


"tapi kamu bukan orang lain untuk tante" ucap mama Jehan, Jehan yang mendengar ucapan mama nya itu memutar bola mata nya malas.


"yaudah si ma, kalau ngga mau ngga usah di paksa. Lagian aneh aja, dia itu bukan siapa-siapa masak udah di kasih kepercayaan gitu. Mana tau kalau sebenarnya dia ngga sebaik yang kita kira." Jehan memakan roti di tangannya.


"udah ma, ayo kita selesaikan makanan nya dulu" papa Jehan menengahi, jika sudah ribut maka semuanya tidak akan berakhir. Jehan adalah gadis yang keras kepala, dia akan terus ngeyel membela apapun yang baginya benar.


Setelah sarapan selesai, mereka pun memutuskan untuk pergi ke ruang tamu, Juna melihat jam di dinding dan memutuskan untuk pamit pulang kepada kedua orang tua Jehan.


"kenapa buru-buru, bukannya ini hari libur nak ?" tanya mama Jehan, sedangkan Jehan hanya melirik Juna sekilas, karena saat ini gadis itu sedang fokus menatap handphone nya.


"iya tan, soalnya Juna ada acara sama teman-teman, Juna sudah kelas 12. Jadi kami semua memutuskan untuk bertemu dan belajar bersama soal ujian praktek kelulusan" Jawab Juna.


"oh iya, udah mau lulus ya, pasti makin sibuk kan" Juna mengangguk.


"biar di antar Jehan ya"

__ADS_1


"ngga bisa ma, Jehan mau ke panti ngantar makanan" Jehan langsung menyahut ketika mendengar namanya di sebut.


"kan bisa sambil ngantar Juna"


"ngga bisa pokoknya, ngga bakal sempet nanti" Jehan tetep kekeh tidak mau mengantar Juna. Enak saja, acara nya hari ini juga padat.


"nanti biar Alarick yang antar ma" ucap Kakak Jehan.


"Juna nanti bisa naik bus aja tante" Juna merasa tidak tenang, lebih baik naik bus daripada di antar. Apalagi keluarga ini jadi ribut hanya karena ingin mengantarnya, sungguh hal itu membuat Juna merasa tidak nyaman.


"ngga nanti aku antar" sahut kakak Jehan cepat


Akhirnya setelah melakukan perdebatan panjang, kini Juna berada di mobil bersama kakak Jehan, sedari tadi suasana hening, tidak ada yang memulai obrolan, Juna juga canggung untuk memulai obrolan.


"jurusan apa ?" tiba-tiba kakak Jehan bertanya, membuat Juna kaget.


"saya ambil jurusan ilmu komputer kak" jawab Juna


"kenapa ngga ambil jurusan bisnis ?"


"saya lebih tertarik pada bidang IT kak" jawab Juna jujur, obrolan kembali hening, Juna menatap jalanan yang ramai seperti biasa, tapi kemudian laki-laki itu mengalihkan tatapannya pada kakak Jehan saat laki-laki itu kembali memberikan pertanyaan untuknya.


"udah lama kenal sama Jehan ?" cukup lama Juna terdiam, namun dia mencoba untuk menjawab pertanyaan itu.


"dari kelas 11 kak" jawab Juna


"sedekat apa kalian, kenapa mama terlihat sangat menyukai kamu" Jantung Juna berdetak kencang, dia lebih waspada jika bersama kakak Jehan, rasanya jika salah sedikit saja maka semuanya akan fatal. Apalagi dalam segi kata, Juna harus berfikir dulu sebelum berbicara.


"em, kami sahabatan dulu kak, sebelum Jehan lupa sama saya" kakak Jehan fokus menatap depan, namun Juna tau jika laki-laki itu memperhatikan gerak-geriknya.

__ADS_1


"oh, cuma sahabat" Juna terdiam mendengar itu, maksudnya apa ucapan itu. Meskipun dia menjawab sahabat, tetapi ikatan sahabat adalah ikatan kedekatan antara dua orang apalagi Jehan adalah orang yang pemilih. Seharusnya ikatan sahabat tidak di anggap sepele kan.


Suasana kembali hening, Juna berperang dengan pikirannya sendiri, memikirkan apapun tentang Jehan jujur membuat kepala nya terasa pusing.


__ADS_2