Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Takdir


__ADS_3

Jehan turun saat hari sudah berganti malam, tadi memang gadis itu memilih untuk berada di kamar, menghabiskan waktu dengan membaca novel dan mendengarkan musik. Lebih baik mengurung diri di kamar daripada harus bertemu kakak nya yang menyebalkan.


Sungguh mempunyai kakak laki-laki itu tidak selamanya enak, terus saja di usili dan diganggu, walaupun kakak nya jarang mengusili nya namun sekali kakak nya itu menganggu maka dapat di pastikan tidak akan berhenti sampai dia puas. Jehan menuruni tangga dan melihat keluarga nya yang sudah duduk di meja makan, gadis itu duduk di kursi nya dengan malas.


andai tadi bibi tidak mengetuk pintu dan menyuruh nya untuk turun, dia pasti tidak akan turun, gadis itu memang jarang makan malam, dia hanya makan jika mendapat paksaan dari orang tuanya, namun mengingat sekarang kakak nya pulang. Maka dia tidak perlu mendapat paksaan karena jika dia mengabaikan makan pun kakak nya itu akan mengomel sepanjang rute kereta api.


Setelah makan malam, Jehan kembali berjalan ke arah kamarnya, kakak nya duduk di sofa ruang tamu untuk sekedar mengobrol dengan papa dan mama namun dia memilih untuk segera naik. Tidak berniat untuk bergabung dengan obrolan mereka.


Jehan menatap ranjang dengan tatapan kosong, gadis itu berjalan ke arah balkon kamar, suasana yang berada di dalam kamar mendadak jadi sunyi, lampu pun mati karena tidak Jehan nyalakan, gadis itu berjalan menghampiri balkon yang gelap tanpa penerangan.


"sejak kapan gelap menjadi teman ku" pertanyaan itu selalu muncul di pikiran Jehan, dia sangat menyukai gelap sejak usia nya masuk 14 tahun. Tidak bukan menyukai lebih tepatnya terbiasa akan kenyamanan kegelapan.

__ADS_1


Sejenak gadis itu termenung, menatap langit gelap di atas sana dengan segala perasaan yang membuat hatinya terluka, seolah ada rasa sakit yang teramat menyiksa. Hati nya ikut berdenyut saat termenung seperti ini.


"apa definisi soal hidup, apakah hidup itu hanya untuk bersenang-senang. Atau tentang sekolah, bekerja, lalu menikah. Itu aneh aku sedikit bingung mendefinisikan" Jehan merasakan hawa dingin yang mengelilingi tubuhnya, gadis itu hanya memakai pakaian longgar pada tubuhnya, itu lebih baik walau tidak bisa melindunginya dari rasa dingin namun itu adalah pakaian yang Jehan suka.


"merebut takdir agar bahagia" Jehan kembali menatap langit, bagaimana cara merebut takdir, yang dia tau takdir adalah sesuatu yang pasti, ketetapan Allah yang tak akan bisa di ubah. Namun dia sedikit terganggu dengan novel yang dia baca tentang takdir.


"apakah tidak bisa memilih takdir sendiri, dengan begitu tidak akan ada manusia yang kecewa dengan ketetapan Tuhan yang terkadang sangat menyakitkan" Jehan menutup matanya, dia terus berfikir, tentang takdir yang sudah di digariskan pada setiap makhluk tuhan. Apakah benar takdir bisa di rebut, bagaimana cara nya. Dia sedikit tersenyum mengingat pemikiran nya yang sangat bodoh.


Dia begitu terganggu dengan salah satu buku yang tadi dia baca, sehingga memikirkan nya dengan amat serius. Berprasangka lah kepada hal-hal yang baik, berdoa agar takdir mu juga baik. Tuhan tidak jahat dia hanya memberikan ujian untuk setiap hambanya. Sesungguhnya kata-kata itu memang benar. Apapun takdir kita nanti kita harus tetap berprasangka yang baik kepada pemilik semesta.


Namun Jehan merasakan perasaan berbeda, perasaan yang teramat menyiksanya, dia tidak tau itu apa. Hanya saja...

__ADS_1


Lagi-lagi gadis itu termenung dia melihat langit yang amat gelap dengan sesekali ada petir yang bercahaya seolah memberikan ketakutan tersendiri kepada para manusia di tengah gelapnya malam.


"langit gelap yang begitu menyedihkan" Di saat suasana seperti ini, semuanya terasa sendu. Rintik hujan mulai turun menetesi bumi tempat manusia berlindung. Wajah Jehan basah dengan air yang turun dari atas sana.


"lebih baik aku masuk, ku pikir tidak ada perlawanan untuk takdir, mau di cegah dengan cara apapun semua pasti akan terjadi." Jehan berlari ke arah kamar, angin malam sangat kencang membuat beberapa pohon bergoyang, itu terlihat sangat mengerikan di tengah kegelapan malam dengan langit yang terus menggelegar.


"aku akan mengganti baju terlebih dahulu" gadis itu berlari kecil ke arah lemari, mengambil baju yang berlengan lebih panjang, namun lampu tetap tidak dinyalakan. Setelah berganti pakaian gadis itu merangkak ke arah ranjang menarik selimut untuk merendam hawa dingin yang mulai menusuk tulang.


Jehan menatap ke arah jendela, langit malam di luar masih terlihat karena hanya tertutup oleh tirai jendela yang tipis. Kilatan halilintar semakin terdengar saling menyahut yang mungkin memberikan rasa takut kepada seluruh anak kecil di luar sana yang mungkin saat ini sedang bersembunyi dalam dekapan ibu nya.


Jehan menatap hampa ke arah jendela, gadis itu memilin tangan nya yang tertutup selimut, dia berbalik agar tidak bertatapan langsung ke arah jendela.

__ADS_1


"aku tidak takut akan gelap, namun aku takut jika aku nyaman dengan kegelapan itu. Aku tidak ingin mempunyai hidup yang begitu gelap, namun aku merasakan kegelapan yang mengelilingi hati yang kosong. Perasaan yang teramat rumit itu sungguh menyiksa." Jehan menutup seluruh tubuhnya, membiarkan petir yang terus menyambar. Dia memejamkan mata erat berharap agar dapat secepatnya terlelap. Dan berharap agar hari cepat berganti. Agar kegelapan yang membawa ketakutan ini segera sirna.


__ADS_2