
Sepulang dari panti beberapa jam yang lalu, Jehan kini berada di samping rumah, gadis itu nampak asik melamun di tepi kolam renang. Sambil sesekali bibi datang membawa minuman dan cemilan untuk Jehan.
"Non Jehan" salah satu bibi di rumah itu datang, sambil membawa handphone yang berdering.
"Ini hp non Jehan sedari tadi berbunyi, mungkin ada panggilan penting" bibi itu menyerahkan hp milik Jehan dengan hati-hati.
"Makasih bi" bibi mengangguk, dan pergi, Jehan mengernyitkan dahi saat nomor si penelpon tidak terdaftar dalam hp Jehan, gadis itu memilih berdiri dan duduk di kursi dekat kolam. Meletakkan hp nya yang masih terus berdering minta di angkat. Jehan mengabaikan panggilan itu dan lebih memilih untuk menyuapkan buah segar ke dalam mulutnya.
"Siapa si ngga jelas banget, nelfon terus dari tadi" Jehan mulai jengah, gadis itu memang tidak pernah mau mengangkat telfon dari orang yang nomornya tidak terdaftar dalam kontak hp nya.
Setelah beberapa menit handphone itu kembali berdering, kini terdengar notif pesan, Jehan membaca pesan itu.
"Ini Fauza, kenapa ngga di angkat ?" Jehan membaca pesan itu, sedikit mengingat Fauza yang mana yang memberinya pesan itu, apakah Fauza yang pernah memberikannya jaket waktu hujan, anak Akutansi. Karena penasaran, akhirnya Jehan pun memilih menjawab pesan itu.
"Fauza anak Akutansi ?" tak lama pesan terkirim, kini kembali terdengar notif, menandakan jika ada pesan masuk.
"Iya, di simpan ya nomer gw" Jehan yang membaca pesan itu, akhirnya menyimpan nomer Fauza, lalu masuk ke dalam rumah, hari sudah sore. Sedangkan Jehan belum mandi, karena sepulang dari panti gadis itu memilih bersantai di belakang rumah.
Selepas mandi, Jehan memilih duduk di meja belajarnya, gadis itu mulai membuka beberapa buku, juga laptop miliknya. Teringat jika hari kemarin ada tugas dari pak Kendrick.
"aduh, tugasnya kemarin di suruh apa ya. Mana kemarin aku ngga di kelas" Jehan membuka handphone nya, gadis itu membuka grup kelas nya dan mencoba mencari seseorang untuk bisa ditanya. Ada 2 nama di peserta grup paling atas. Dua nomor itu juga tampak telah tersimpan di handphone Jehan.
Jehan memilih untuk menelfon orang tersebut untuk memangkas waktu, dalam deringan ke tiga, telfon itu di angkat oleh lawan bicara Jehan.
"Halo Je" ucap penerima telfon, Jehan mengernyit. Bagaimana bisa Gibran tau jika dia yang sedang menelfon, mungkinkah nomornya di simpan oleh laki-laki itu.
"Halo Jehan, ini kamu kan ?" kembali si penerima bersuara, karena tak mendengar sahutan Jehan sedari tadi.
__ADS_1
"Iya ini aku" jawab Jehan, setelah sedari tadi diam
"ada apa, tumben telfon ?" tanya seseorang di sebrang sana.
"kemarin ada tugas kan dari pak Kendrick. Kalau boleh tau soal apa ya, kemarin gw ngga di kelas" ucap Jehan.
"Oh itu, iya kemarin di kasih soal, ntar gw kirim file soal nya ke lo ya." jawab Gibran.
"Sekarang aja bisa ? Soalnya mau gw kerjain" Jehan berbicara dengan ragu.
"Oh, iya bentar gw kirim dulu. Kalau gitu gw matiin dulu ya telfonnya" sahut seseorang di sebrang sama.
"Iya" tak lama telfon pun mati, Jehan menunggu file itu dari Gibran, setelah file itu muncul, dengan segera Jehan membukanya dan mulai mengerjakan soal-soal itu.
"masih biasa, kalau memberi tugas ngga kira-kira banyaknya" Jehan menggerutu, gadis itu bahkan tidak turun untuk makan malam, meskipun beberapa kali bibi datang menyuruhnya untuk turun.
Ceklek, pintu kamar Jehan terbuka, seseorang yang membuka pintu itu berjalan menghampiri Jehan yang masih fokus dengan laptop nya.
"Sebentar lagi Jehan turun kak" kakak nya itu nampak menggelengkan kepala
"Ini udah malam, makan dulu"
"Tapi tugas aku kak, besok aku sekolah. Kalau ngga selesai bisa-bisa aku kena hukuman lagi" Jehan berbicara dengan raut wajah kesal.
"Kamu turun aja dulu, nanti kakak temenin bergadang deh" Jehan berdecak, gadis itu akhirnya pasrah. Turun ke bawah, kakak nya tidak ikut turun dan masih berada di kamarnya.
"Non Jehan mau makan ?" tanya salah satu bibi yang masih terjaga malam itu.
__ADS_1
"Iya bi"
"Sebentar non, makanannya biar bibi hangatkan, udah dingin soalnya" Jehan hanya mengangguk, gadis itu duduk di meja makan sambil menunggu bibi menghangatkan makanan.
Setelah selesai makan, Jehan kembali naik ke kamarnya, membuka pintu. Terlihat kakak nya yang sedang duduk di meja belajarnya dan mengotak-atik laptop miliknya, Jehan mendelik dan terburu-buru menghampiri kakaknya.
"Kakak ngapain si, jangan usil deh" Jehan menatap marah kakak nya yang sedang melihat beberapa foto Jehan di laptop itu.
"Apasih Je, kakak ngga usil kok cuma lihat-lihat aja, udah ya kamu juga udah balik. Kakak mau tidur dulu, selamat malam" kakak nya itu memeluk dan mencium kepala nya.
"Apaan, katanya nemenin bergadang, omongan doang" Jehan merenggut kesal, gadis itu duduk di tempat nya dan membuka kembali file pekerjaannya. Sedikit kaget karena ternyata pekerjaan itu telah selesai, mungkinkah kakak nya yang mengerjakan ?
Jehan mengecek pekerjaan itu, takut jika ada yang salah, setelah selesai mengecek Jehan pun mematikan laptop miliknya, dan berjalan ke arah ranjang sambil menguap.
"Ya udah lah aku tidur aja" Jehan mulai masuk ke dalam selimut dan menutup mata, menyeberangi mimpi.
***
Keesokan harinya Jehan terbangun cukup pagi, gadis itu mulai turun dari kamarnya, sudah ada beberapa bibi yang sedang memasak, Jehan menghampiri para bibi itu.
"Eh, non Jehan sudah bangun" ucap salah satu bibi yang menyadari kehadiran Jehan.
"Iya bi, bi Jehan nanti di buatin Sandwich ya. Buat bekal sekolah" gadis itu mengajukan keinginannya, Jehan adalah tipikal perempuan yang anti membawa bekal ke sekolah, namun ntah kenapa saat ini dia ingin membawa bekal sendiri. Karena jarak kelasnya dari kantin juga cukup jauh, membuat gadis itu malas jika harus turun naik tangga ke kantin.
"Oh, iya non Jehan, nanti bibi buatkan, ada lagi yang mau di makan, biar sekalian bibi masakkan" Jehan berfikir sebentar.
"Nasi goreng aja bi, sama seperti biasa ya" bibi mengangguk, Jehan Kembali menyahut.
__ADS_1
"Ya udah Je keatas dulu ya bi, maaf ngga bisa bantu masak hehe" ucap Jehan sambil terkekeh.
"Iya non ngga papa, ya sudah bibi lanjutkan masaknya ya non" Jehan mengangguk, lalu gadis itu kembali naik ke lantai atas, akhir-akhir ini udara cukup dingin, di tambah dengan AC yang menyala 24 jam membuat Jehan merasa kedinginan, gadis itu memilih untuk menyiapkan keperluan sekolahnya, sekaligus olahraga pagi.