Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Akan Berusaha Lupa


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jehan keluar dari rumah, dengan menggunakan mobil miliknya, gadis itu melajukan kendaraan roda empat itu ke arah makam Juna. Kini hatinya sudah lebih tenang dari kemarin, dia akan berusaha untuk berdamai dengan semua luka yang dia rasakan.


Karena dia sadar, tak akan berguna jika terus mengenang hal yang menyakitkan, hanya akan membuat kita menjadi manusia yang gagal, yang tak bisa berdamai dengan semua rasa sakitnya.


Berjalan pelan menapaki tanah makam yang basah, dengan bunga mawar merah yang berada di kedua tangannya, Jehan melewati setiap malam yang ada, tujuan nya satu yaitu makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk cinta nya, makam Juna.


Duduk di hadapan batu nisan, di mana kini tanahnya masih berwarna merah, dengan taburan bunga yang begitu banyak dan masih terlihat segar, Jehan meletakkan bunga miliknya di sandaran batu nisan, mengusap nya perlahan, tak ada lagi air mata, dia akan berusaha untuk tak lagi menangis meski hatinya terasa sesak.


"Makasih telah hadir di hidupku, mengajariku banyak hal, menghiasi hidup ku yang suram, kehadiranmu memberikan makna terindah yang belum pernah aku dapatkan" gadis itu mengusap foto Juna yang ada di makam itu, teramat bersyukur bisa bertemu dengan sosok seperti Arjuna yang begitu kuat dalam hidupnya, lelaki yang akan terus dia ingat sampai akhir hidupnya.


"Kedepannya aku berjanji akan berjuang dan hidup lebih baik lagi. Aku tak akan mengecewakan mu lagi, gadismu akan berjuang lebih keras lagi. Kamu yang tenang ya di sana, tak perlu risau akan kehidupan ku kedepannya."


"Cukup tunggu aku datang, kita pasti akan kembali bersama" gadis itu mengecup foto Juna menutup matanya sejenak untuk kembali menata hatinya, meletakkan foto itu di depan batu nisan milik Juna. Lalu Jehan mulai bangkit, setidaknya dia sudah berbicara kepada Juna, meski hanya di depan hamparan tanah. Gadis itu berjalan pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.


Saat berjalan ke arah mobil, kepala Jehan terasa pusing, gadis itu menahan tubuhnya di sandaran pohon, gadis itu memaksakan diri untuk kembali berjalan, namun naas karena rasa pusing yang semakin parah akhirnya Jehan terjatuh.


Jehan membuka mata saat merasakan pijatan lembut di telapak tangannya, gadis itu membuka matanya perlahan, mengedarkan pandangannya, meski kepala nya masih terasa pusing, dia mencoba untuk sadar sepenuhnya.


"Udah baikan, gimana masih pusing kepala nya" gadis itu menoleh ke samping, kini terlihat di samping nya, Gibran duduk sambil menatap nya dengan pandangan khawatir, tangan laki-laki itu menggenggam tangannya sambil memijatnya perlahan.


Jehan menggeleng sebagai jawaban, gadis itu menghela nafas sebentar, membiarkan Gibran menggenggam tangannya. Gadis itu meneliti sekeliling, kini dia terbaring di ranjang kamarnya bersama Gibran, pintu kamar terbuka, namun tidak ada orang selain mereka berdua.


"Mama mana ?" tanya Jehan, gadis itu mencari mama nya karena mama nya tak terlihat keberadaannya.


"Tante Selina lagi di kantor, tapi dia akan segera pulang. Bibi bilang tadi kamu ngga sarapan ya, kenapa coba ngga mau sarapan" Jehan kembali menggeleng, dia tak nafsu untuk makan, bahkan hanya melihatnya saja membuatnya mual.


"Kenapa kamu bisa ada di sini ?"

__ADS_1


"Aku tadi ke rumah, tapi pas sampai aku lihat kamu keluar pakai mobil, ternyata ke makam Kenzie, aku tunggu kamu di luar makam, tapi karena lama aku memutuskan untuk menyusul mu tapi aku malah lihat kamu terjatuh. Yaudah aku bawa kamu pulang" Jehan terdiam, tapi dia paham apa yang Gibran maksud.


"Iya aku ke makam Juna" jawab Jehan sambil tersenyum getir, Gibran terdiam, tatapan matanya tepat lurus di netra hazel Jehan. Dia tau jika gadis di depannya masih merasa kehilangan atas kepergian Arjuna.


"Kamu udah tau yang sebenarnya" ujar Gibran sambil mengeratkan genggaman tangannya. Jehan mengangguk.


"Maaf jika tidak memberitahumu sejak awal" Gibran sedikit menyesal karena tidak memberitahu Jehan, dia tidak pernah menyangka jika semua akan berakhir seperti sekarang.


"It's oke, aku udah janji untuk melupakan semuanya, semua itu hanya cukup di kenang" Jehan tersenyum tipis, gadis itu membalas tatapan Gibran, agar lelaki itu tak terus menatap nya dengan tatapan kasihan.


"Kamu benar-benar gadis yang kuat Je, wajar jika Juna begitu mencintaimu" ujar Gibran dengan senyum lebar di bibirnya, Jehan ikut tersenyum.


"Jehan" Jehan mengalihkan pandangannya ke arah pintu, di sana terlihat kakak nya sedang berjalan ke arahnya dengan wajah khawatir.


"Gimana keadaan kamu Je, kamu baik-baik aja kan, kenapa sampai pingsan, kamu pasti tidak sarapan kan, kamu sejak kemarin tidak menyentuh makanan sama sekali, makanya sekarang kamu sampai pingsan" kakak nya itu bertanya bertanya panjang lebar, Jehan hanya memutar bola matanya pertanda malas.


"Kamu ini Lo susah banget di kasih tau, sekarang udah makan belum ?" Jehan hanya diam, malas menanggapi kakak nya itu. Alarick menoleh dan menatap Gibran, Gibran yang paham akhirnya menjawab ucapan kakak sahabatnya itu.


"Jehan belum makan kak, adik kakak ini susah banget di suruh makan" adu Gibran sambil tersenyum geli saat melihat raut wajah Jehan yang kesal.


"Makan dulu Je, apa perlu kakak suapi ?"


"Ngga perlu aku bisa makan sendiri"


"Permisi den, ini makanan non Jehan" tak berselang waktu lama bibi datang sambil membawa nampan yang berisi makanan serta air putih di dalam gelas.


"Makasih bi" Gibran berdiri dan menerima nampan itu, tak lupa memberikan senyum ramah kepada bibi yang di balas anggukan oleh bibi itu.

__ADS_1


"Makan dulu ya aku suapi" Gibran mengambil makanan itu sedikit lalu menyodorkan di depan mulut Jehan.


"Aku bisa makan sendiri" jawab Jehan sambil menatap Kakak nya yang masih berdiri di kamar itu.


"Kakak keluar aja, udah ada Gibran juga" laki-laki itu melangkahkan kakinya keluar kamar. Pintu kamar di biarkan terbuka begitu saja.


"Udah biar aku suapi saja, daripada nanti kamu ngga makan ini makanan" Jehan menghela nafas, gadis itu membuka mulutnya, makanan yang berada di mulutnya terasa begitu menyiksa, namun Jehan memaksa untuk menelan makanan itu.


"Makasih Bran" Jehan menatap Gibran dengan tatapan berkaca-kaca, Gibran tersenyum, mengusap wajah Jehan dengan tangannya.


"Kamu harus bahagia Je" ucap Gibran dengan tegas, laki-laki itu duduk di ranjang, lalu memeluk tubuh Jehan. Jehan terdiam, gadis itu merasa lega karena mempunyai sahabat seperti Gibran, meski dia masih belum ikhlas sepenuhnya, tapi seiring berjalannya waktu, dia yakin bahwa dia akan ikhlas akan kepergian Juna.


"Aku janji Jun, akan membahagiakan gadismu semampu yang aku bisa, aku tak akan membiarkan satu orangpun membuatnya menangis."


"Aku mencintaimu Juna, dan aku akan berusaha untuk melupakan mu seperti yang kamu mau, dan fokus dengan hidupku untuk kedepannya."


**TAMAT**


Halo pembaca setia terimakasih Author ucapkan untuk semua yang sudah mampir, memberikan Author dukungan dan saran. Terimakasih atas semua dukungan kalian yang menginspirasi Author untuk terus berkarya. Terimakasih juga yang sudah menemani Author sampai karya Author "DI ANTARA PERBATASAN SENJA" tamat. Sekali lagi Author hanya bisa mengucapkan terimakasih semoga kalian sehat selalu.


_____________________


Jangan lupa dukungan nya ya, tanpa dukungan kalian Author bukan apa-apa. Oke See you againšŸ™‚


~Salam dari Author untuk kalian semua.


Happy reading🄰

__ADS_1


love you all😘


__ADS_2