
"kenapa, apa aku tidak boleh menggenggam tanganmu ?" Jehan tetap diam, dia membiarkan Juna menggenggam tangan nya karena lelah memberontak. Genggaman tangan Juna sangat kuat sehingga tidak bisa Jehan lepaskan.
"kamu kenapa sih kak, aku minta maaf tadi udah cium kamu. Ngga sengaja juga kok" Jehan membuang muka, menghindari tatapan Juna yang tajam.
"kalau sengaja juga ngga papa, aku malah seneng kok" Jehan mengernyitkan dahi nya, apalagi ini maksudnya. Jujur tingkah Juna yang berubah dengan cepat membuat Jehan sedikit terganggu.
"kok gitu" Juna menghela nafas pelan, dia menggenggam tangan Jehan semakin erat. Apakah dia ungkapkan saja perasaan nya, agar dia bisa tau posisi dia apa di hati gadis itu. Karena kalau dia terus diam dan semakin dekat dengan Jehan itu akan membuat perasaannya semakin besar tanpa kepastian. Sedangkan kalau dia menyatakan nya setidaknya dia tau harapan cinta nya pada gadis itu.
Juna bingung, jujur dia takut jika pernyataannya membuat gadis itu menjauhi nya nanti, tapi dia juga tidak bisa berada di dekat gadis itu jika cinta nya hanya bertepuk sebelah tangan dan hanya dia yang mencintai.
dia tidak ingin berharap kepada siapapun, karena pada faktanya orang tuanya saja tidak bisa dijadikan harapan untuknya, malah meninggalkannya hidup sendirian menghadapi kerasnya dunia. Apakah dia di kasih kesempatan untuk mengeluh dan menuntut ? tentu saja jawabannya tidak dia akan mengeluh pada siapa ? ibunya, bahkan ibunya seperti apa saja dia tidak tau. Atau menuntut kepada sang pencipta tentu semua akan sama. Andai orang tuannya tidak membuangnya dia pasti tidak akan semenderita ini. Dia bahkan membungkam mulutnya agar tidak mengeluh terus meskipun sebenarnya dia ingin berteriak dan memaki dunia. Sebenarnya apa salahnya kenapa orang tuanya setega itu pergi meninggalkan dirinya bahkan tanpa dia tau apa kesalahannya.
jika seperti ini apakah dia ada hak buat bahagia, semua dia lakukan sendiri, disaat anak-anak lain pulang sekolah dengan semangat, menceritakan keseharian mereka kepada orang tuanya atau menjadikan orang tuanya alasan untuk bisa menjadi orang yang sukses dia bahkan tidak bisa seperti mereka. Dia sendirian, tidak ada satu orangpun keluarga yang mencintainya. Memberikan kasih sayang yang seharusnya anak seusianya dapatkan.
"kak Juna kok bengong sih" lamunan Juna terputus karena suara Jehan. Juna pun tersenyum dia tidak bisa kehilangan gadis itu. Tidak bisa!! gadis itu sudah seperti orang tua pengganti yang memberikannya perhatian yang tidak pernah dia dapatkan.
__ADS_1
"kalau kakak bilang kakak suka sama kamu apa kamu percaya ?" Juna bertanya dengan hati-hati kepada gadis itu.
"percaya" tanpa disangka gadis itu menjawab cepat, seolah pertanyaan seperti itu sudah biasa ia dengar.
"kenapa ?" jujur Juna penasaran dengan jawaban Jehan, karena gadis itu tadi menjawab dengan begitu tenang. Padahal tadi gadis itu terlihat gugup dan salah tingkah.
"karena emang ngga ada sahabat antara cowok sama cewek, kalau ngga salah satu diantara mereka yang suka pasti keduanya saling suka. Dan kakak mau bilang kan kalau kakak ngalamin itu ? kakak mau bilang kalau kakak suka kan sama aku karena merasa nyaman ?"
Juna menelan ludah, gadis di depannya terlihat seperti pembaca suara hati, jawabannya bahkan bisa sedetail itu seakan memang itulah apa yang Juna rasakan.
"lima tahun lebih kak aku nunggu dia, setia sama dia bahkan dia aja ngga pernah ada rasa. Tapi entahlah hati aku ngga bisa aku buka untuk orang lain. Aku tidak mengharapkannya sebagai kekasih ataupun masa depan aku. Tapi aku hanya berharap kita bisa berteman seperti dulu. Aku janji akan melupakan perasaan ini" Jehan terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"tapi ya, lagi-lagi aku menyimpulkan bahwa sebenarnya teman antara cowok dan cewek itu ngga ada, karena pada faktanya perasaan cewek itu terlalu lemah. Sekuat apapun mereka membentengi hati pasti ujungnya mereka kemakan sama prinsip mereka sendiri."
"cuma ya aku mau bilang, ada baiknya kakak ngga usah ngerubah persahabatan menjadi percintaan karena kakak akan kehilangan persahabatan itu atau mungkin keduanya. Percintaan itu ngga ada tujuannya kak, mereka pacaran cuma agar bisa ada yang bisa mengerti mereka namun kenyataannya itu cuma kamuflase. Kalau kakak cinta sama aku mendingan kakak lupain cinta itu atau kakak yang akan kehilangan aku." Juna mencoba menganalisis ucapan Jehan yang begitu panjang. Namun satu hal yang dapat Juna simpulkan bahwa Jehan tidak menginginkannya lebih dari seorang teman.
__ADS_1
"jadi kamu nolak kakak ? bahkan kakak belum sempat nembak" Juna terkekeh yang memang siapa yang mau sama dia, asal usulnya saja tidak jelas. Apalagi dia miskin masih banyak laki-laki yang baik dan pantas yang menginginkan Jehan.
"aku ngga nolak, ya itu semua ada di kakak sendiri sih. Kakak mau jadiin aku temen dan kita akan tetep temenan sampai nanti. Atau menjadikan aku pacar tapi kakak akan kehilangan aku kapan saja, Karena cinta itu hanya luka, bahkan aku sudah tidak berani untuk jatuh cinta lagi. Apalagi sama sahabat, udah cukup aku kehilangan sahabat sekali, aku udah ngga mau ngulang ini."
"jadi kamu trauma hanya karena cinta pertama kamu itu ? kakak bisa bantu kamu ngelupain orang itu. Ya tapi kamu juga harus mencoba buat membuka hati buat kakak dek, jangan tutup hati kamu, Karena kalau kamu terus begitu yang ada kamu akan selalu menyimpannya menjadi cinta kamu satu-satunya."
"apa kakak siap kehilangan aku kalau kakak tetap kekeh mencintai aku. Karena jujur aku sekarang udah ngga peduli sama yang namanya cinta. Dan kalau kakak masih terus kekeh minta aku buat balas cinta kakak. Kakak sendiri yang akan terluka karena aku tidak pernah peduli akan cinta dan bisa meninggalkan orang dengan mudahnya."
"kakak ngga peduli, kakak ambil semua resikonya. Dan kakak akan buktiin ke kamu kalau kakak beneran tulus sama kamu."Jehan menghela nafas, entah harus bagaimana dia menjelaskan kepada kakak seniornya itu, dia hanya tidak ingin mengenal apapun yang namanya cinta. Bukan trauma ataupun mati rasa dia hanya tidak ingin mengenalnya. Baginya cinta adalah hal yang harus dia hindari sejak dini. Karena itu sama saja membunuh mimpinya.
selama ini gadis itu tidak pernah menerima siapapun menjadi pacarnya, dia hanya ingin fokus pada dirinya sendiri. pacaran hanya membuang waktu dan sangat tidak berguna itulah yang setidaknya menjadi pandangan Jehan tentang 'pacaran' sekarang jika sudah begini dia harus apa ? maju dan mengambil resiko yang ada atau mundur dan menjauhi Juna demi kebaikan bersama.
"Jehan, apa kamu ngga ada perasaan sama kakak selain sebagai seorang teman"
"aku ngga tau kak, karena aku sulit buat memahami perasaan aku sendiri. Yang aku tau adalah aku nyaman sama kakak sebagai seorang teman. Aku ngga mau kehilangan kakak udah itu aja".
__ADS_1
"tolong kasih aku waktu, aku masih bingung akan perasaan yang aku rasakan" apapun keputusannya nanti. Jehan harap itu adalah keputusan terbaik.