
"Siapa kak"
"Seharusnya kakak yang tanya, kamu ngapain ke sini. Dan siapa laki-laki yang berada di sampingmu ?" Alarick menatap Kenzie dengan tatapan tajam, tentu saja dia heran, laki-laki itu tidak pernah dia lihat dan dapat di pastikan jika itu bukan kekasih Jehan. Atau memang adiknya itu yang mempunyai kekasih baru.
"Jelas saja aku sedang makan" jawab Jehan cepat
"Sekarang Jehan tanya, siapa wanita di samping kakak" Jehan memang sulit mengendalikan diri ketika penasaran, sehingga gadis itu akan terus mencerca lawannya dengan pertanyaan sampai rasa penasaran nya terjawab.
"Dia kekasih Kakak, calon kakak ipar kamu"
"What ?" Jehan memicingkan matanya ke arah kakak nya itu dengan dahi yang berkerut.
"Kenapa ? kamu sendiri kan yang penasaran dengan wanita kakak" Alarick mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu, seperti sedang membisikan sesuatu. Posisi mereka saat ini terlihat begitu intim, dan jujur baru kali ini Jehan melihat kakak nya itu dekat dengan seorang wanita.
"Hai Jehan, kenalin Michelle" ucap wanita itu dengan suara lembut, bahkan Jehan hampir saja terbuai dengan ucapan wanita itu. Jehan tersenyum gadis itu menerima uluran tangan dari calon kakak iparnya itu.
"Jehan kak, dan ini Kenzie"
"Kekasih kamu ?" Jehan hanya tersenyum, dia sendiri bingung harus menjawab apa.
"Kamu masih mau tetap di sini Jehan ?"
"Iya kak, sebentar lagi pulang"
"Ya sudah segera pulang, kakak mau antar Michelle pulang, kasihan dia baru saja sampai" Jehan mengangguk, kakak nya berlalu dengan merangkul pinggang kekasihnya itu, Jehan sendiri hanya diam, biarlah kakak nya itu mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
"Itu kekasih kakak mu" Jehan menatap Kenzie, ntah lah dia sendiri juga baru tau jika kakak nya itu punya kekasih.
"Mungkin, selama ini kakak ngga pernah dekat dengan wanita manapun"
"Mungkin dia sedang menjaga hati, tadi dia mengatakan bahwa wanita tadi baru saja sampai"
"Hem, lebih baik kita pulang sekarang. Ini sudah terlalu malam, bisa-bisa aku kena amarah papa nanti"
"Iya" Kenzie membayar makanan mereka, lalu tangannya terulur pada Jehan namun gadis itu hanya berlalu begitu saja. Laki-laki itu hanya menatap nya datar lalu mengikuti langkah Jehan yang sedikit cepat.
Kenzie mengantar Jehan sampai rumah, sebelum pergi laki-laki itu menyematkan ciuman kecil di pipi gadis itu lalu membiarkan gadis itu keluar dari mobilnya.
"Hati-hati" ucap Jehan cuek
__ADS_1
"Hem" Kenzie melajukan mobilnya kembali, sedangkan Jehan membuka pagar dan masuk ke dalam rumahnya, sedikit heran memang bagaimana bisa Kenzie masuk ke dalam area rumahnya padahal gerbang di jaga oleh satpam.
Malam ini menunjukkan pukul 22.25 cukup malam memang, Kenzie sialan itu memang suka sekali membuatnya pusing.
"Dari mana ?" Jehan menghentikan langkahnya di depan pintu saat mendengar suara papa nya, gadis itu tak berani untuk sekedar menoleh, penakut bukan ? tentu saja se nakal-nakalnya Jehan dia tidak akan berani jika berhadapan dengan orang tuanya.
"Hehe habis cari makan pa" ucap Jehan sambil meringis
"Kenapa ngga izin ?"
"Tadi lupa"
"Mama kamu cari kamu, pengen di ajak ketemu sama temen nya kamu malah ngga ada"
"Emang Mama di mana pa ?" tanya Jehan sambil berjalan mendekat ke arah papa nya.
"Udah tidur, nunggu kamu ngga pulang-pulang"
"Ya, kenapa ngga telfon"
"Handphone kamu dimana ? papa lihat tadi ada di kamar tu" Jehan menggaruk pelipisnya, gadis itu tersenyum.
"Yah, papa memang kak Al udah pulang ?"
"Kakak mu sedang bersama Michelle"
"Papa kenal kak Michelle ?" tanya Jehan kaget
"Dia adalah putri teman papa" Jehan mangut-mangut gadis itu berjalan bersama sang papa untuk pergi ke kamar masing-masing, Jehan berjalan menaiki tangga sendirian karena pasalnya memang kamarnya ada di lantai atas.
***
Pagi itu Jehan kembali bekerja seperti biasa, gadis itu pergi ke kantor dengan mengendarai mobil, dengan kecepatan sedang mobil Jehan membelah jalanan yang cukup padat.
Tadi malam sebelum tidur, teman-temannya mengatakan jika akan mengadakan pertemuan, namun Jehan sendiri sedikit tidak berminat buat bergabung. Bukannya tak ingin bertemu dengan teman-temannya namun dia malas karena waktu kemarin bertemu saja teman-temannya pada pulang duluan dengan alasan yang tidak jelas.
Waktu istirahat Hanna menghampirinya, menanyakan apakah nanti malam akan ikut berkumpul.
"Aku sedikit malas Na"
__ADS_1
"Kenapa begitu ?"
"Tak tau hanya malas saja" Jehan terdiam sebentar, gadis itu terlihat berfikir.
"Bagaimana jika berkumpul di rumah ku ?" tanya Jehan sambil tersenyum.
"Ini pertemuan teman-teman kita, masak di rumah mu"
"Tak masalah, bukannya kalian juga sering ke rumah dulu waktu sekolah. Orang tua ku juga sudah mengenal kalian semua bukan ?"
"Aku akan menanyakan terlebih dahulu kepada teman-teman" ucap Hanna, gadis itu berjalan keluar dari ruangan Jehan, tak ingin bertemu lagi dengan bos Jehan yang akhir-akhir ini sering ke ruangan Jehan.
Namun belum ada 5 menit Hanna keluar, gadis itu kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Teman-teman sudah setuju, nanti pertemuan akan di adakan di rumahmu Je" ucap gadis itu, lalu keluar lagi dari ruangan Jehan tanpa mendengar sahutan dari Jehan yang terbengong bingung.
"Ngga niat ngajak bicara si itu orang" decak Jehan karena kesal
Setelah memastikan semua pekerjaan Jehan selesai, gadis itu keluar dari ruangannya dan memilih pulang lebih awal, karena bagaimanapun temannya akan datang kerumahnya, tak mungkin kan Jehan tidak menyiapkan apa-apa.
Mobil memasuki pekarangan rumah, Jehan segera masuk dan berlalu menuju dapur, gadis itu melihat para maid berlalu lalang, begitu sibuk masak entah akan ada acara apa.
"Bibi kenapa terlihat sibuk begitu, memang akan ada acara ya bi ?" tanya Jehan kepada bi Sumi.
"Kata nyonya, temannya akan datang non" Jehan mengernyit, teman mama akan datang, siapa ? kenapa tidak memberitahunya.
Jehan langsung berlalu mencari mama nya, gadis itu melihat sang mama duduk di sofa ruang tamu sambil melihat handphone nya, Jehan berjalan ke arah mama nya dan duduk di samping wanita itu.
"Siapa yang akan datang ma ?" tanya Jehan to the point
"Teman mama, yang kemarin sama mama di mall"
"Sebanyak itu buat makanan" tanya Jehan heran
"Iya keluarnya nya akan datang bersama putra semata wayangnya" Jehan terdiam, dia juga memiliki janji bersama teman-temannya untuk berkumpul di rumah ini nanti malam.
Gadis itu menghela nafas pelan.
"Kamu bersih-bersih dulu gih, dandan yang cantik oke. Mama juga mau mandi dulu" ucap wanita itu sambil berlalu ke kamarnya. Dengan menghela nafas lelah Jehan berjalan ke arah kamarnya.
__ADS_1