
Jehan dan Kenzie berjalan beriringan menuju rumah besar itu, untuk sampai di ruang tamu mereka hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit. Sampai di ruang tamu, mereka melihat seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat muda duduk membelakangi mereka berdua.
Jehan mengernyit, merasa seperti tak asing dengan postur tubuh laki-laki itu, dia menatap Kenzie untuk mencari tahu. Kenzie hanya tersenyum dan membawanya ke arah laki-laki paruh baya itu duduk.
"Pa" Kenzie duduk di sebuah sofa panjang, sedangkan Jehan duduk di samping Kenzie. Sesekali mata gadis itu melirik laki-laki yang Kenzie sebut dengan panggilan pa itu. Wajahnya terlihat tidak asing, namun Jehan tak ingat apakah pernah bertemu atau tidak dengan laki-laki itu.
"Kamu dari mana saja Ken, papa udah nunggu kamu dari tadi" ucap laki-laki itu, sesekali tatapannya tertuju pada Jehan, laki-laki itu tersenyum tipis ke arah gadis itu.
"Em maaf ya pa, Kenzie ngga tau kalau papa datang"
"Ya ngga papa, oh ya Jehan lupa ya sama om ?" Jehan yang di tanya seperti itu mengernyitkan dahi, dalam kepalanya saat ini timbul banyak pertanyaan, bagaimana bisa laki-laki paru baya di depannya tau namanya, dari siapa ? dan apa hubungan laki-laki itu dengan Kenzie.
"Em maaf om, tapi sebelumnya kita pernah ketemu ya memangnya ?"
"Kamu beneran ngga ingat sama om ?" Jehan hanya menggeleng, laki-laki itu tersenyum dan menatap Kenzie. Kenzie pun tersenyum ke arahnya seperti sedang meledek.
"Dia itu papa Gibran, masa kamu lupa si" Jehan mengangkat kedua alisnya, gadis itu baru ingat kalau ternyata laki-laki di hadapannya itu salah satu orang tua dari sahabatnya. Wajar saja, karena selama ini Jehan hanya pernah bertemu sekali dengan papa temannya itu.
"Oh, maaf ya om Jehan ngga ingat" ucap Jehan sambil tersenyum canggung.
"Iya ngga papa kok, lagi pula om senang karena saat ini kamu kembali dekat dengan Kenzie" ucapan yang laki-laki itu berikan kembali membuat Jehan bingung. Bukankah sebelumnya juga Jehan tak pernah dekat dengan Kenzie. Mereka baru dekat juga beberapa Minggu belakangan ini.
"Papa kesini ada apa pa ?" Kenzie mengalihkan pembicaraan karena melihat Jehan yang terlihat bingung dengan obrolan mereka.
"Ngga, papa cuma mau lihat kamu aja. Akhir-akhir ini kamu sulit sekali di hubungi"
"Kenzie kan juga punya perusahaan pa, ya kalau papa mau papa bisa ke kantor Kenzie untuk sekedar berbincang"
__ADS_1
Jehan melihat handphone nya, jam sudah menunjukkan pukul 19.21 gadis itu merasa gerah sekaligus ingin pulang, namun melihat Kenzie yang masih asik berbicara dengan papa nya membuat Jehan merasa sungkan.
Gadis itu hanya bisa diam mendengar obrolan kedua laki-laki itu, sesekali tangannya mengetik sesuatu di handphone.
"Em kayanya papa pulang sekarang aja deh, udah malam juga kan" papa Gibran itu menatap Kenzie seperti sedang memberi kode.
"Iya hati-hati"
"Iya, nak Jehan om pergi dulu ya"
"Iya om" Jawab Jehan singkat, laki-laki paru baya itu berjalan pergi meninggalkan mereka, Jehan hanya diam sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Maaf ya nunggu lama, kamu pasti bosan" Kenzie duduk di samping Jehan, tangan laki-laki itu terulur dan mengusap pipi Jehan yang berekspresi lelah itu. Laki-laki itu merasa kasihan.
"Oke, aku mau pulang aja"
***
Sementara itu di sebuah rumah makan, terlihat seorang gadis yang duduk sendirian, gadis itu menyuapkan steak ke dalam mulutnya, sambil sesekali matanya berkeliling memandang orang lain yang sedang makan sepertinya.
Gadis itu tersenyum saat melihat semua orang makan bersama keluarganya, bahkan ada yang sedang makan bersama kekasih nya. Bukan seperti dirinya yang saat ini sendirian. Terlihat menyedihkan memang.
Gadis itu memilih untuk cepat menghabiskan makanannya dan segera pulang, bagaimana pun juga dia merasa lelah karena seharian ini bekerja.
Saat makanan di piringnya habis, gadis itu memilih untuk membayar makanan miliknya, lalu mengambil tas nya dan keluar dari restoran itu.
Di depan restoran gadis itu bertemu dengan laki-laki yang amat sangat dia kenal, laki-laki itu berdiri bersama seorang wanita seksi di sampingnya, tangan laki-laki itu berada di pinggang sang wanita.
__ADS_1
Hanna yang melihat itu hanya bisa tersenyum getir, memilih untuk pergi dari tempat itu meninggalkan dua orang yang dia temui.
Laki-laki yang bertemu dengan Hanna adalah Alarick, laki-laki itu ingin makan di tempat itu bersama kekasihnya, matanya menatap ke arah Hanna yang berjalan memasuki mobilnya, tatapan Alarick tak bisa lepas, sampai mobil yang Hanna kendarai menghilang begitu saja.
"Sayang, ayo kita masuk" lamunan Al buyar saat kekasihnya itu menarik lengannya, laki-laki itu tersenyum dan berjalan bersama perempuan itu masuk ke dalam.
Selama mereka makan bersama, Al hanya melamun, laki-laki itu memikirkan Hanna yang tadi diam tanpa menyapa nya, tatapan gadis itu terlihat seperti sedang kecewa. Jujur ekspresi Hanna tadi membuatnya merasa tak tenang.
Mungkin ada yang salah dengannya, karena seharusnya dia senang karena saat ini Hanna tak lagi agresif mendekatinya, namun melihat sikap gadis itu yang terlihat tidak peduli pun menjadi beban pikiran untuk Alarick.
"Apasih Al, ingat kamu udah punya kekasih. Dan ngga mungkin juga kamu suka dengan gadis kecil itu." Alarick membatin sambil menatap tak nafsu ke piringnya yang masih terisi banyak makanan.
"Kamu kenapa si Al, kok kaya yang bete gitu"
"Ngga kok, aku cuma ngga terlalu lapar aja"
"Apa kita balik aja ?"
"Habiskan dulu makananmu, nanti kita segera pulang"
"Ngga nafsu ah, lihat kamu kaya gitu" Alarick tersenyum, tangannya terulur menggenggam tangan kekasihnya itu erat.
"Maaf ya"
"It's oke kamu emang ngga lapar yaudah kita balik" ucap wanita itu, padahal mereka baru saja datang, tapi karena mood Alarick sedang buruk maka dia memilih untuk pulang.
"Sial kenapa aku jadi kaya gini si, cuma gara-gara lihat Hanna bersikap acuh mood aku jadi hancur gini" Alarick membuka pintu mobil untuk Michelle, laki-laki itu benar-benar tak mengerti akan dirinya sendiri.
__ADS_1
Laki-laki itu memutuskan untuk mengantar Michelle pulang ke rumahnya, karena sepertinya ada yang salah dengan pikirannya.