
Sebuah mobil dengan warna unik melaju dengan kencang membelah jalanan, saat ini kota terasa sedikit tenang, jalanan yang biasanya selalu padat 24 jam kini tak terlalu banyak lalu lalang. Nampak dua gadis yang masih setia menutup mulut tanpa ada yang mau membuka obrolan.
Memang kenyataannya di dalam pertemanan mereka tidak ada yang suka berbasa-basi. Hanna yang terbiasa banyak bicara pun terdiam seolah tak berniat untuk membuka mulut.
Setelah tiba di tempat tujuan, mereka berdua segera turun, berjalan masuk ke kafe itu. Meskipun mereka sudah dewasa, tapi Hanna tak mau membawa Jehan ke club. Bukan tak mau dia hanya tak ingin pandangan Alarick padanya kian buruk.
"Hanna, Jehan" dari kejauhan nampak seorang laki-laki melambai ke arah mereka. Terlihat juga 3 laki-laki yang duduk sambil melihat mereka. Jehan dan Hanna mendekat dan mereka saling berjabat tangan karena sudah lama tak bertemu.
Ada satu laki-laki yang tak Jehan kenal, bahkan laki-laki itu juga tak mau menatap nya lama-lama hanya fokus dengan minuman yang berada di tangannya.
"Lama ngga ketemu, kalian makin cakep aja" Hanna berbicara sambil duduk di samping Johan. Jehan duduk di samping Hanna dekat dengan Arga sedangkan Gibran duduk di dekat laki-laki asing itu.
"Salah satu jadi pacar gw aja gimana" Hanna kembali berbicara sambil tertawa, tingkahnya itu membuat ketiga teman mereka menggelengkan kepala.
"Selera Lo turun ?" tanya Jehan dengan senyum tipis, setahunya Hanna tidak memiliki hubungan dengan siapapun, namun sifat nya akhir-akhir ini berbeda seolah gadis itu memiliki pasangan yang tidak dia ceritakan kepada Jehan.
"Ahaha emang selera Hanna gimana ?" tanya Gibran, laki-laki itu memberikan buku menu ke Jehan, bermaksud agar gadis itu memesan minuman untuknya dan Hanna.
"Selera gw berkelas ya, pokok limited deh" ucap gadis itu sambil tersenyum, ingatannya kembali tertuju ke Alarick yang memang akhir-akhir ini memenuhi kepalanya.
"Limited apaan, paling ganteng an juga gw" Arga menyahut sambil tersenyum sinis, laki-laki itu memang tidak suka jika kedua teman perempuannya menceritakan laki-laki lain saat mereka berkumpul.
"Lo ganteng tapi bukan tipe gw sorry" ucap Hanna sarkas, gadis itu menatap Arga sinis, sambil mengambil minumannya dan Jehan yang baru saja datang.
__ADS_1
"Wih, bukan tipe nya, emang susah kalau udah gitu" Jehan terkekeh, di ikuti Gibran, gadis itu terdiam saat tatapannya bertemu dengan laki-laki asing di samping Gibran, tatapan laki-laki itu yang tajam mampu membuat Jehan terdiam dengan senyum nya yang hilang.
"Kan udah gw bilang dulu, kalau Hanna tu cocok pacaran sama Arga. Pasti bakal pecah banget nanti"
Jehan hanya diam, semenjak mata nya tertuju pada tatapan itu, dia jadi merasa canggung untuk bicara. Ntah lah tatapan itu seolah bisa mengimitasi nya.
"Apaan ngga mau gw sama Arga, kaya ngga ada cowok lain aja" Arga hanya menatap Hanna datar. Laki-laki itu menghela nafas kasar sambil membuang muka.
"Oh ya btw cowok ini siapa ya, kayanya belum pernah ketemu deh" ucap Hanna sambil menatap laki-laki asing itu dengan pandangan menilai.
"Dasar centil" Hanna melotot kepada Arga, laki-laki itu mengacuhkannya tapi terus menyindirnya bukankah itu keterlaluan ?
"Gw ngga nanya sama Lo ya!!"
"Gw cuma pengen tau aja, soalnya ngga pernah liat dia, trus dari tadi doi juga diam aja, makannya gw tanya dasar sok tau"
"Kenzie" laki-laki itu secara tiba-tiba memotong ucapan Gibran.
"Oh" Hanna hanya menanggapi singkat, aura yang laki-laki itu keluarkan memang sedikit berbeda, sehingga Hanna pun merasa tak ingin bertanya lagi.
Tanpa aba-aba Gibran berdiri, laki-laki itu secara tiba-tiba pamit untuk pergi terlebih dulu dengan alasan yang katanya penting, padahal laki-laki itu yang mengajak bertemu tapi belum malam laki-laki itu sudah pulang duluan.
Beberapa menit kemudian handphone Hanna berdering, gadis itu mengangkat telfon nya dan pamit kepada teman-teman yang lain untuk ke toilet.
__ADS_1
"Kayanya gw juga harus balik deh, soalnya ada acara lain sama temen" ucap Arga, Jehan sampai bingung sendiri karena perlahan teman nya pergi meninggalkannya sendiri.
"Sama Johan ?" tanya Jehan, gadis itu berharap jika Johan tak ikut, jadi dia punya teman namun harapannya patah saat melihat anggukan dari Arga.
"Sorry gw pergi dulu ya by" Jehan menghela nafas, ingin sekali dia ikut pulang bersama kedua temannya itu, apalagi Hanna tak juga kembali dari toilet dia tak nyaman berdua saja dengan orang asing yang memiliki aura menyeramkan itu.
Sesekali Jehan memberanikan diri untuk melirik laki-laki yang saat ini berada di depannya, laki-laki sama sekali tak melihatnya dan terus saja minum minuman yang berada di tangannya, ntah sudah berapa gelas minuman yang laki-laki itu tegak yang pasti sudah ada 3 gelas kosong di depan laki-laki itu.
Hanna melihat handphone nya, gadis itu mencoba mengirim pesan untuk Hanna yang tak kunjung kembali, aroma aneh sedikit tercium oleh hidung Jehan, seperti alkohol, apakah laki-laki itu minum alkohol.
Hal itu membuat Jehan semakin tak nyaman, gadis itu ingin segera pulang, toh acara nya berakhir berantakan karena semua temannya pulang.
Handphone Hanna sama sekali tak bisa di hubungi, bahkan pesan yang Jehan kirim belum terkirim ke nomor Hanna, Jehan mengusap wajahnya frustasi, gadis itu berdiri, mungkin dia akan mencari Hanna di toilet.
Suara notifikasi pesan membuat Jehan dengan cepat membuka hp nya, ternyata dari Hanna.
Hanna : I'm sorry Jehan, ngga bisa antar kamu pulang, tiba-tiba nyokap telfon, bilang kalau nyuruh jemput ke bandara, ngga tau juga kenapa mendadak gini, tapi sopir juga lagi izin libur, sehingga aku terpaksa pergi. Maaf sekali lagi🙏
Jehan menghela nafas, baiklah Hanna juga pergi, maka dia akan pulang sendiri dengan terpaksa naik taksi.
Bruk, gadis itu tersentak, dengan sigap tangan nya terangkat untuk menahan tubuh laki-laki asing bernama Kenzie itu yang jatuh menubruk tubuhnya, aroma alkohol seketika semakin menguat membuat Jehan rasanya ingin muntah.
Jehan mendorong bahu laki-laki asing itu, namun tak bisa karena tangan laki-laki itu merangkul erat pinggangnya, kepala laki-laki itu bersandar di bahu nya.
__ADS_1
"Lepas dulu bisa ngga" ucap Jehan pelan, risih tentu saja, dia paling tidak suka berdekatan dengan orang asing, apalagi orang itu laki-laki. Tubuhnya selalu memberikan sinyal penolakan.
'Di saat rasa rindu tak mampu ku bendung, hanya satu yang mampu aku lakukan, merengkuh tubuhmu seperti ini. Tapi semua nya tetap sama. Hem penolakan selalu saja menyakitkan.' batin nya tersenyum getir.