
"Pintar banget cari alasan, ini udah jam berapa ?" Jehan melirik jam yang melingkar di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Pantas saja sedari tadi dia merasa mengantuk.
"Ini udah malam, aku mau tidur kamu pulang aja ya, marah nya di lanjutin besok aja" Kenzie mendengus mendengar hal itu, andai dia tak kasihan dengan Jehan yang mengantuk dia tak akan membiarkan gadis itu lepas begitu saja.
"Ya sudah sana masuk" Jehan mengangguk, gadis itu masuk ke dalam rumah, sedangkan Kenzie, laki-laki itu memilih untuk pulang. Dia memang sengaja menunggu Jehan setelah pulang dari kantor, tak menyangka saja jika Jehan keluar bersama Dion bahkan sampai hari hampir tengah malam.
Kenzie mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, mata nya tampak fokus pada jalanan yang tampak sepi, sampai laki-laki itu menghentikan mobil nya saat melihat seorang wanita muda yang sedang di dikerumuni oleh laki-laki tinggi tegap yang terlihat seperti seorang preman.
"Tolong, jangan tuan, ampuni saya" suara wanita itu terdengar begitu pilu saat para preman itu mengikat tangannya, ada 3 lebih preman yang sedang berada di depannya, Kenzie berdecih, dia tak menyangka bahwa semua laki-laki itu melawan seorang wanita.
Kenzie memilih untuk turun setelah melepaskan Jaz kantornya, dengan tekad yang kuat Kenzie menghampiri wanita itu, menendang salah satu preman yang terlihat ingin berbuat pelecehan terhadap wanita itu.
"Hey jangan ikut campur bedebah" ujar preman itu dengan wajah garang.
"Dasar sampah, apa pantas kalian berlaku seperti itu kepada seorang wanita" ujar Kenzie dengan wajah datar.
"Ini bukan urusanmu"
"Dan aku akan membantu wanita ini untuk lepas dari sekumpulan manusia sampah seperti kalian" Kenzie mencoba untuk membuka ikatan tali di pergelangan tangan wanita itu, tapi tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya, Kenzie mengeraskan rahangnya, laki-laki itu langsung melawan semua preman itu dengan tangan kosong.
Semua berlalu baik, Kenzie tak susah untuk melawan sekumpulan laki-laki itu, saat melihat semua lawannya tumbang, Kenzie pun segera melepas ikatan tangan wanita itu, dan menyuruh wanita itu untuk pergi.
Kenzie membuka pintu mobil, berniat untuk pergi dari tempat sepi itu, tapi ada yang menarik tangannya, Kenzie berbalik namun naas dia tidak sadar jika laki-laki itu membawa senjata tajam.
"Rasakan" laki-laki yang ternyata salah satu preman itu menusuk perut Kenzie berulang kali hingga tiga kali tusukan, Kenzie tak dapat menahan tubuhnya lagi, tubuh nya luruh ke lantai aspal nan dingin itu dengan kemeja yang sudah di penuhi dengan darah.
__ADS_1
Nafas Kenzie terputus-putus, rasanya Sakit sekali, seolah mampu meruntuhkan seluruh organ nya, nafas laki-laki itu terputus-putus.
"Mas mas ngga papa" wanita yang Kenzie tolong itu ternyata berbalik, wanita itu menangis sambil menggoyangkan bahu Kenzie yang lemas dan menutup mata.
"Mass" itulah kata terakhir yang Kenzie dengar sebelum dia tak sadarkan diri.
"Jangannn" Jehan terbangun dengan tubuh bergetar hebat, dia baru saja bermimpi hal yang buruk, tubuhnya basah karena keringat, bahkan kini tangannya bergetar.
"Perasaanku kenapa tidak tenang begini" Jehan mengambil air putih di atas nakas dan meminumnya sedikit, jam menunjukkan pukul 3 pagi.
Gadis itu termenung dengan perasaan kalut luar biasa, gadis itu mengambil handphone bermaksud untuk menghubungi Kenzie, namun setelah menghubungi beberapa kali handphone Kenzie malah tak aktif.
"Apa dia masih tidur" ucap Jehan pelan, pandangannya kosong menatap ke arah Jendela yang terlihat gelap.
Tiba-tiba air mata jatuh dari mata gadis itu, entah kenapa perasaannya begitu Sakit, padahal cuma mimpi tapi terasa nyata sekali.
"Em, iya Je ada apa. Pagi-pagi buta udah telfon" ucap temannya di sebrang sana, dari suaranya seperti nya gadis itu baru bangun dari tidurnya.
"Aku takut Na" Hanna mengerutkan kening saat mendengar suara Jehan yang bergetar seperti menahan tangis, entah kenapa temannya itu.
"Kamu kenapa kok suaranya gitu" Hanna mencoba untuk tenang dan tidak panik, mungkin saja temannya itu sedang takut karena di luar hujan deras, dan petir terus menyambar.
"Aku takut Na" tangis Jehan pecah, hal itu membuat Hanna semakin panik, gadis itu langsung loncat dari tempat tidurnya namun karena tidak hati-hati gadis itu terjungkal hingga kepala nya membentur lantai.
"Bentar aku ke rumah kamu" Hanna langsung melempar handphone nya dan berlari ke arah kamar mandi.
__ADS_1
"Hubungi Al dulu" Hanna kembali lalu menghubungi Alarick, dalam deringan pertama lelaki di seberang menjawab.
***
Brakk
Pintu kamar Jehan terbuka dengan cukup keras, Alarick mengedarkan pandangannya dan melihat bahwa kini adiknya itu tengah duduk sambil menatap kosong ke arah jendela. Alarick dengan cepat menghampiri adiknya itu.
"Kamu kenapa dek" Alarick merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan, dapat ia rasakan tubuh Jehan bergetar hebat dalam pelukannya.
"Aku takut kak" jawab Jehan lirih, Al mengusap rambut gadis itu.
"Kamu mimpi buruk lagi ?" tanya Al lembut, Jehan mengangguk dengan mata memerah berkaca-kaca.
"It's oke ngga perlu takut lagi, semua akan baik-baik saja" Al mempererat pelukannya berusaha menenangkan adiknya itu. Adiknya itu memang sering mengalami mimpi buruk, namun kali ini keadaannya adiknya itu terlihat menyedihkan, entah apa yang ada dalam mimpi adiknya itu.
"Alarick, Jehan" suara mama nya terdengar, terlihat wanita itu berjalan ke arah mereka berdua, dan melihat putri nya yang sedang menangis dalam pelukan putra nya.
"Jehan kamu kenapa sayang" mama nya itu ikut duduk di samping putrinya, Jehan kembali menangis lalu menghambur ke pelukan mama nya itu.
"Adik mu kenapa Al ?" tanya mama Selina, tangannya dengan teratur mengusap rambut Jehan yang sedang terisak di pelukannya.
"Biasa ma, mimpi buruk" jawab Alarick.
"Astaga, ya sudah kamu tidur lagi Je, mama akan temani kamu" Jehan menggeleng, dia tak lagi bisa tidur ketika pikirannya sedang kalut seperti ini.
__ADS_1
"Ya udah sama kakak aja, tadi kakak larang Hanna kesini, kasihan" lelaki itu mendekat dan membaringkan tubuhnya di ranjang Jehan.