
Hari senin adalah hari yang paling menyebalkan untuk para siswa sekolah, pagi hari sudah harus berangkat pagi karena ada pelaksanaan upacara bendera, bahkan terkadang pelajaran hari senin pun terasa amat berat dan melelahkan.
Jehan dan kelima temannya berjalan menuju kelas, mereka menatap ke depan tampak tidak peduli dengan siswa-siswi yang menyapa. Jehan menghentikan langkahnya ketika melihat Arjuna yang berada tidak begitu jauh darinya, menatap matanya tajam dengan ekspresi datar. Jehan sulit untuk menafsirkan akan tatapan itu namun tatapan itu cukup mengganggunya.
gadis itu memang sengaja tidak memakai masker karena dia berfikir mungkin Juna belum berangkat karena hari masih sangat pagi. Tidak tau saja gadis itu jika Arjuna memang selalu berangkat pagi.
Jehan melanjutkan langkahnya melewati Arjuna tanpa menoleh, saat ini dia hanya ingin menghindar dari laki-laki itu, dia merasa itu harus demi kebaikan mereka berdua.
saat pulang sekolah tiba, ada seseorang yang mendatangi kelas Jehan, itu adalah Arjuna dan teman satu kelas nya, entah mereka ingin apa ke kelasnya. Jehan mengambil hp nya, mukai fokus pada benda itu, mengabaikan keberadaan Juna yang terus menatapnya sedari tadi.
"anak IT di suruh kumpul di lab komputer setelah pulang sekolah, ada penginstalan progam yang harus di selesaikan sekarang. Nanti pulang sekolah langsung ke lab desain, sedangkan lab jaringan tugasnya kelas 11, di tunggu sama pak Egan." Arjuna berbicara kepada seluruh kelas jurusan IT.
bel berbunyi mereka para siswa-siswi pun berjalan keluar menuju lab desain, Jehan dan ke empat temannya belum beranjak masih bersantai di kelas.
"gw lagi ngga enak badan mau langsung pulang aja lah" Hanna memijat dahinya, dari pagi gadis itu memang mengeluh pusing.
"gw juga hari ini ada acara" Gibran menimpali sambil memainkan hp nya
"gw sama Johan ngga ada acara sih, tapi terlalu males kalau harus ke lab" ucap Arga
__ADS_1
"lo gimana Je ?" tanya Gibran kepada Jehan yang terlihat tidak tertarik dengan obrolan mereka
"gw juga males, mau cabut aja. Kalian pulang bareng aja gw mau pergi duluan" gadis itu menyambar tas punggung nya dan berjalan keluar kelas tanpa menunggu tanggapan teman-temannya. Sebenarnya dia malas jika nanti bertemu Arjuna, jadi dia lebih memilih menghindar daripada harus bertemu.
gadis itu berjalan melewati lab Akutansi dan perpustakaan lewat lantai satu, karena lab komputer memang terletak di atas, membuat nya malas untuk lewat lantai itu.
saat sampai di kantin menuju parkiran tangan gadis itu tiba-tiba di tarik oleh seseorang. Jehan bersiap untuk memukul orang yang menariknya namun mengurungkan niat ketika melihat wajah dari sang pelaku. Laki-laki yang berusaha untuk dia hindari, namun sekarang laki-laki itu berada di depannya, menatapnya dengan tatapan tajam. Gila memang laki-laki itu sering di bully namun mempunyai tatapan yang begitu tajam.
Jehan menarik tangannya yang di genggam orang itu namun malah tubuhnya yang menabrak tubuh laki-laki yang menariknya. Arjuna, seseorang yang membuat Jehan serba salah, laki-laki itu bahkan sekarang memeluknya begitu erat, Jehan sudah berontak namun Juna tidak melepaskannya, gadis mana yang tidak marah ketika di sentuh seenaknya dengan orang yang bukan siapa-siapa nya. Walaupun itu hanya pelukan ringan namun tetap saja membuat Jehan marah.
gadis itu mendorong tubuh Juna sehingga terlepas dari tubuhnya, dia menatap Arjuna tajam, dia sedang dilema sekarang binggung ingin berbuat apa.
"kenapa menghindar ?" tanya Arjuna sambil terus menatap dalam mata Jehan
"Jehan" jantung gadis itu berdetak kencang mendengar panggilan dari Arjuna, namun dia hanya diam tidak menyahut sama sekali.
"kenapa menghindar, beri aku alasan. Apa aku salah, jangan menghindar ku mohon" tatapan laki-laki itu berubah lembut, namun mana mungkin Jehan peduli, dia muak dengan perasaannya. Kenapa Juna harus mempunyai rasa padanya. Kenapa harus selalu begitu, kenapa tidak bisa berteman biasa saja tanpa melibatkan perasaan. Sungguh gadis itu sudah muak dengan yang namanya cinta.
"ngga ada yang salah dari kakak, namun pertemuan kita yang salah. Tidak seharusnya aku menerima kakak sebagai teman, bersikap baik ke kakak, tidak seharusnya itu terjadi. Andai aku bisa aku ingin menghapus perkenalan kita dalam cerita ku namun itu sudah terjadi tidak perlu di sesali."
__ADS_1
Juna hanya diam menatap gadisnya yang berbicara, menjawab semua rasa penasarannya.
"namun sekarang aku sudah tau satu hal, kita ngga pantas temenan. Kakak ngga bisa jadi temen aku lagi mulai sekarang. Aku ngga mau kakak temui aku lagi. Anggap kita tidak saling mengenal. Dan soal pertanyaan kakak tentang kemarin aku akan menjawab sekarang.." gadis itu menghentikan sejenak ucapannya. Menghembuskan nafasnya pelan lalu melanjutkan ucapannya.
"aku ngga mau jadi pacar kakak, Ngga sampai kapanpun itu" semua kalimat yang gadis itu lontarkan jelas membuat Juna kecewa, jika memang tidak suka dengan perasaannya, gadis itu bisa berterus terang dan dia akan mencoba untuk melupakan gadis itu, tidak perlu menghindari dan memutus tali pertemanan mereka.
"empat bulan" Jehan mengernyitkan dahi nya ketika mendengar ucapan Juna, apanya yang empat bulan.
"beri kakak waktu empat bulan, terima kakak jadi pacar kamu. Jika dalam waktu empat bulan kakak ngga berhasil kakak sendiri yang akan menjauhi mu." Jehan tersenyum sinis mendengar ucapan itu.
"sepercaya itu kamu kak, apa kamu begitu yakin bisa mendapatkan hati aku dalam waktu empat bulan. Aku kasih tau mending kakak ngga usah berusaha buat itu lagi. Fokus sama pendidikan kakak."
"ngga kakak yakin empat bulan adalah waktu yang cukup" Juna semakin mendekat ke arah Jehan, membuat Jehan semakin waspada.
"tapi kamu jangan pernah tutup hati kamu, kita akan pacaran seperti orang-orang pada umumnya" ingin gila saja Jehan rasanya kenapa dia harus di hadapkan dengan hal seperti ini terus menerus.
"aku ngga mau" Jehan melangkahkan kakinya meninggalkan kakak senior nya itu.
"kalau kamu ngga mau, jangan salahin kakak kalau terus menganggu kamu" Jehan berdecak kesal, dia membalikkan tubuhnya, menatap tajam mata Arjuna. Laki-laki itu terlihat seperti seorang penguasa yang seenaknya meminta dan berbicara. Namun baiklah lebih baik di ganggu empat bulan dari pada di ganggu sampai dia kelas 11 nanti.
__ADS_1
"oke, tapi jangan terlalu percaya diri. Aku pastiin kamu ngga akan bisa ngedapetin cinta aku" Jehan tersenyum sinis sebelum pergi meninggalkan Arjuna yang menundukkan kepala nya.
"kenapa kamu seperti itu Je, kamu ngga mungkin sama seperti orang-orang lain kan. Aku yakin itu tapi kenapa tatapan kamu seperti orang yang begitu membenciku. Menganggap Ku seperti sebuah sampah yang menganggu hidupmu. Aku merasa kamu menghargai ku selama ini. Dimana kamu menganggap ku seperti seorang manusia ketika semua orang di luar sana menganggap aku seorang anak pembawa sial." Arjuna berjongkok di tanah, kalau di tanya jelas dia takut kehilangan Jehan, perempuan itu sudah menduduki posisi yang spesial dalam sudut hatinya. Dia juga takut gagal mendapatkan gadis itu namun dia akan berusaha, walau tau dia salah karena pacaran itu di larang. Namun dia memang harus menjaga gadis itu agar gadis itu tidak dekat dengan laki-laki manapun nanti.