
Sedangkan di rumah besar keluarga Dawson, semua penghuni di rumah itu saat ini sedang menghawatirkan Jehan karena hari sudah sore dan Jehan belum juga pulang. Berkali-kali papa Jehan itu menghubungi nomor milik putrinya namun tetap saja tak di angkat.
"Bagaimana ini pa, mama tidak tenang. Apakah benar Jehan di Culik yah" papa Jehan pusing melihat istrinya itu mondar mandir ke kanan dan kiri seperti sedang senam. Laki-laki itu sudah menyuruh istrinya untuk duduk tenang. Namun karena sifat istrinya itu yang aktif mana bisa di suruh duduk diam.
"Duduk ma, kenapa si dari tadi mondar-mandir kaya mau nunggu undian."
"Mama ini cemas loh sama Jehan, tidak biasanya dia jam segini belum pulang. Mana hp nya ngga aktif." mama Jehan nampak kesal karena melihat wajah suaminya yang biasa saja. Padahal putri nya saat ini entah berada di mana.
"Mungkin baterai nya habis, tenang dulu kita tunggu 1 jam lagi" ujar papa Jehan memberi usul.
"Satu jam ? Ini udah jam 7 malam, dan papa masih mau nunggu 1 jam. Udah jelas ini ngga beres pah" mama Jehan kesal karena suaminya itu kelewat tenang.
"Biasanya Jehan kan kalau kumpulan organisasi sampai jam 6 mah"
"Tapi sebelumnya selalu memberi kabar, ini tanpa kabar. Jelas mama cemas gimana si papa, anaknya hilang kok santai banget. Udahlah aku mau telfon Alarick aja papa ngga bisa di ajak bicara." Mama Jehan berlalu untuk mengambil handphone.
Sedangkan Alarick saat ini sedang fokus di perusahaannya, dia baru saja selesai meeting tadi dengan rekan kerja nya. Laki-laki itu berhenti melangkah saat mendengar handphone nya berbunyi. Ternyata itu panggilan dari mama nya. Alarick segera mengangkat panggilan itu.
"Halo ma" sapa Alarick
"Nak apa kamu sedang sibuk ? Bisa tidak pulang sekarang" Alarick mengernyit mendengar suara mama nya yang cepat terdengar seperti sedang panik. Laki-laki itu bertanya kenapa mama nya panik.
__ADS_1
"Ada apa ma, kenapa suara mama terdengar panik" tanya Alarick
"Tidak, pulang saja sekarang. Nanti mama jelaskan" Alarick ingin bertanya lagi, namun sambungan telefon itu telah mati terlebih dahulu. Alarick menghela nafas, padahal dia baru saja berjanjian ingin makan dengan teman-temannya.
Akhirnya Alarick memutuskan untuk pulang, dan menghubungi teman nya jika rencana batal, laki-laki berlalu pergi berjalan ke arah rumah. Sebenarnya ada kejadian apa, sehingga mama nya itu menyuruhnya pulang. Nada suara mama nya tadi terdengar panik, jadi pasti ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah.
Tidak butuh waktu lama mobil yang di kemudikan oleh Alarick memasuki pelataran Mansion. Laki-laki itu segera masuk ke dalam setelah mobil terparkir rapi. Alarick melihat papa dan mama nya di ruang tamu terlihat resah dan cemas, laki-laki itu segera menghampiri orang tuanya.
"Ma" mama nya itu menatap nya, Alarick duduk di samping mama nya yang terlihat sangat cemas itu.
"Cari adik mu nak, gadis itu belum pulang, padahal hari sudah malam begini" mama Jehan menarik tangan putra sulungnya untuk berdiri, padahal laki-laki itu baru saja duduk beberapa detik tadi.
"Memangnya Jehan kemana ma, kok bisa belum pulang. Memang dia tidak memberi pesan ke rumah jika pulang telat"
"Iya ma, Al akan cari Jehan"
"Assalamualaikum" Atensi mereka bertiga terputus, mama Jehan menatap pintu di mana saat ini terlihat seorang gadis yang berdiri sambil tersenyum, di samping gadis itu terlihat seorang laki-laki yang juga ikut tersenyum meski tipis sekali.
"Jehan kamu dari mana aja sih, kenapa baru pulang. Di telfon juga ngga bisa, kamu tau ngga kita di rumah cemas karena kamu ngga bisa di hubungi" mama Jehan mengomel panjang lebar, wanita paruh baya itu berjalan terburu-buru ke arah Jehan, memeluk putri satu-satunya itu yang sedari tadi membuat nya cemas.
"maaf ya tante, tadi Jehan masih belajar bareng sama saya. Kebetulan besok kan perpisahan sekolah, dan hari terakhir saya di sekolah juga" Arjuna menyahut ucapan mama Jehan, sebenarnya dia merasa tidak enak karena telah menculik anak orang. Tapi ya mau bagaimana, dia melakukan itu karena Jehan terus saja menghindarinya sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk bertemu sama sekali.
__ADS_1
"Oh belajar bareng Juna, ya ngga papa sih tapi kenapa hp kamu ngga aktif Je, dari tadi di telfon kenapa ngga bisa" Jehan terdiam, hp nya tidak aktif ? perasaan sedari tadi dia tidak melihat handphone nya, gadis itu menoleh dan menatap Juna. Yang di tatap hanya diam, seperti tidak mengetahui apa-apa.
"Sepertinya baterai Jehan kehabisan ma, soalnya hp nya di tas" jawab Jehan.
"Trus kenapa ngga beri kabar mama kalau kamu telat pulangnya karena masih belajar kelompok" Jehan menghela nafas, kenapa ini jadi seperti interogasi saja. Mama nya terus saja memberinya pertanyaan.
"Ma, udah dong yang penting kan Jehan sudah pulang, mama itu berlebihan tau ngga. Papa kan tadi juga udah bilang mungkin Jehan sedang ada kumpulan tambahan, malah berfikir yang ngga ngga sampai katanya Jehan di Culik segala lah." ucap papa Jehan dengan kesal.
"Emang di Culik pa" Jehan membatin, ingin rasanya memberitahu orang tuanya jika dia baru saja di culik oleh Arjuna. Namun pasti orang tuanya itu tidak akan percaya mereka terlalu menganggap Juna baik.
Jehan menatap Arjuna tajam, tatapan yang begitu menghunus. Namun tetap saja laki-laki itu tak bergeming. Hanya menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum sinis.
"Ya mama kan khawatir pa, wajar lah anak perempuan kita satu-satunya ini. Oh ya Je kamu udah makan ?" tanya mama Jehan. Jehan berfikir sebentar kalau tadi siang dia sudah makan masakan Juna tapi kalau malam ini, Jehan jarang makan malam sih.
"Udah si ma, tadi siang" jawab Jehan
"Itu kan siang tadi, yaudah ayo semuanya kita makan malam, Juna juga ayo ikut" mama Jehan berlalu ke arah meja makan, di ikuti sang suami dan kakak Jehan yang sedari tadi diam. Jehan dan Juna masih berdiri di ruangan itu.
"Pulang sana, udah selesai kan" tanya Jehan dengan nada sedikit ketus.
"Mama menyuruhku makan" Juna berlalu meninggalkan Jehan sendirian, entah kenapa dia jadi tidak merasa canggung lagi saat ini. Laki-laki itu di persilahkan untuk duduk oleh mama Jehan.
__ADS_1
Jehan datang dengan muka di tekuk, gadis itu menarik kursi sedikit kasar, sehingga menimbulkan bunyi. Jehan hanya diam tanpa menoleh, membiarkan semua pasang mata menatap aneh padanya.