
"Apa sih bos, lain kali jangan gitu deh" ucap Jehan, mobil baru saja meninggalkan perkara gan kantor, Jehan merasa tak suka saja dengan sikap Dion, sikap laki-laki itu sedikit membuat nya merasa canggung. Karena Jehan menganggap laki-laki itu tak lebih dari bos nya di kantor.
Anggap saja sikap Jehan keterlaluan, namun dia memang belum bisa jika harus bersikap baik ke Dion.
Sebenarnya Dion adalah laki-laki yang tampan, mungkin juga banyak gadis atau wanita yang diam-diam menginginkannya.
Suasana kembali hening, Jehan memilih untuk diam sambil menatap ke luar Jendela.
"Mau pergi kemana dulu gitu ?" tanya Dion, laki-laki itu menatap sekilas Jehan yang mendiamkannya, bahkan gadis itu sama sekali tak berusaha untuk membuka topik pembicaraan.
"Memang mau kemana ?" tanya Jehan bingung, bukankah Dion yang mengajaknya untuk pulang, kenapa sekarang bertanya ingin pergi kemana.
"Ya kemana dulu gitu, cari makan atau mau beli apa gitu" ucap Dion.
"Ngga kaya nya" ucap Jehan, karena dia sendiri bingung mau mampir kemana, dia hanya ingin segera pulang dan tidur sampai puas.
Jehan menatap Dion, gadis itu merasa jika Dion menyambut rencana perjodohan ini dengan baik, karena laki-laki itu sama sekali tak mengajukan rencana penolakan.
"Kamu terlalu cuek" ucap Dion, Jehan terdiam, ya memang begitulah dia, namun dia seperti ini karena belum terlalu mengenal bos nya itu.
"Maksud kamu" Jehan pura-pura tidak mengerti dengan ucapan bos nya itu. Walau pada faktanya dia tahu apa yang dimaksud oleh bos nya.
"Ya kamu cuek aja, kalau kamu memang tidak menginginkan perjodohan ini setidaknya kamu menghargainya sedikit saja, tapi ini kamu bersikap seolah-olah aku mengemis cinta ke kamu." lanjut Dion dengan jujur.
Dion hanya berharap jika Jehan bisa nyaman berada di dekatnya, agar tujuannya bisa tercapai.
"Maaf, aku hanya masih sulit untuk mendekat, aku butuh waktu. Maaf jika sikap itu membuat kamu tak terima." ucap Jehan pelan.
__ADS_1
Sebenarnya Jehan menolak akan adanya perjodohan ini, karena pada faktanya gadis itu masih menunggu seseorang yang dulu pernah dekat dengannya bahkan bisa di bilang sangat dekat. Jehan menyesal karena telat mengetahui perasaannya, sehingga dia harus kehilangan di saat dia baru sadar akan rasa itu. Tapi bagaimana dia harus menjelaskan itu ke Dion.
Laki-laki itu tidak mengerti posisi nya, bahkan keluarga nya pun sama tak ada yang tau apa alasan dia memilih sendiri sampai saat ini.
Jehan menunduk, karena ini dia jadi kembali teringat akan kenangan beberapa tahun lalu, yang mana tidak akan bisa dia ulangi lagi. Ini semua karena kecerobohannya. Andai saja dia tidak sakit saat itu.
"Aku akan mengantarmu pulang, karena sepertinya ada pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan" ucap Dion.
Banyak pemikiran yang saat ini melintas di otak Jehan, gadis itu merasa hatinya kosong, dia kehilangan sesuatu yang begitu berarti dalam hidupnya.
Mobil memasuki pelataran rumah Jehan, gadis itu segera turun setelah berbincang sebentar dengan Dion. Di ruang tamu Jehan tak melihat siapa pun, akhirnya gadis itu memilih untuk masuk ke kamarnya, membaringkan tubuhnya di ranjang karena merasa lelah.
Gadis itu mengambil foto di laci, di mana di foto itu terlihat seorang laki-laki memakai pakaian sekolah sedang membaca buku di taman, foto yang di beri Gibran saat perpisahan sekolah angkatannya.
"Maafkan aku, aku mohon kembalilah" ucap Jehan dengan sendu, mata gadis itu berkaca-kaca seolah akan menumpahkan air mata.
Setelah puas menangis Jehan memilih untuk membersihkan diri, gadis itu menggunakan celana jeans pendek di atas lutut serta kaos yang cukup besar sehingga menutupi celana nya.
Gadis itu keluar dari kamarnya, dan turun ke bawah, berniat untuk ke dapur menemui bi Sumi.
Di dapur terlihat beberapa pelayan yang sedang membersihkan dapur.
"Non Jehan mau sesuatu ?" tanya bi Sumi
"Jehan mau tanya aja, ini yang lain kemana ya bi" Jehan bertanya karena rumah sangat sepi, jadi gadis itu memilih untuk bertanya.
"Nyonya ke kantor tuan non, sedangkan Den Al belum pulang dari kantor nya" ucap bi Sumi, Jehan menghela nafas, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam namun papa nya belum juga pulang, bahkan sang mama pun tidak ada.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu bi" Jehan berjalan ke arah lemari pendingin, gadis itu mengambil beberapa buah.
"Non Jehan mau di buatin susu hangat ?" ucap bibi, wanita paruh baya itu melihat nona nya yang sedang duduk di kursi dapur sambil mengupas buah.
"Boleh deh bi" Jehan tersenyum, gadis itu menaruh buah yang sudah di kupas ke mangkuk, lalu menunggu bibi yang sedang membuat susu untuk nya.
Setelah jadi Jehan membawa minuman yang masih panas itu ke atas, dia akan menikmati itu di kamar.
"Non Jehan ngga makan duluan ?" tanya bi Sumi, memang di rumah ini bi Sumi adalah pembantu yang paling dekat dengan Jehan.
"Ngga nafsu ah bi" ucap Jehan sambil berlalu ke kamarnya. Bi Sumi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah sampai kamar, Jehan mengambil handphone nya. Tujuannya saat ini adalah menghubungi mama nya.
Telefon tersambung, Jehan segera saja mengajukan pertanyaan.
"Mama pulang jam berapa ?"
"Mama ngga pulang Je, mama tadi berangkat ke luar kota sama papa. Ada kendala sama bisnis kita." ucap mama nya itu.
"Emang kakak ngga ada, kenapa mama ikut berangkat" ucap Jehan merasa heran.
"Kakak ngurus di kantor sini"
"Ngga pulang ?" tanya Jehan.
"Ngga tau juga, coba kamu telfon. Udah dulu ya nak mama tutup" Jehan mengangguk, telfon pun terputus, gadis itu menghela nafas, mungkin kakak nya sedang lembur.
__ADS_1
Ingin rasanya Jehan ikut ke kantor membantu kakak nya, namun saat ini tubuh Jehan terasa amat lelah sehingga gadis itu hanya bisa pasrah. Kakak nya cerdas, pasti bisa mengatasi urusan kantor.