Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Jehan dan Gibran


__ADS_3

Jehan duduk di kursi depan ruang kepala sekolah, menunggu Gibran yang sudah masuk ke dalam meninggalkannya sendiri di sana. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri seperti orang yang kebingungan, tidak ada siswa-siswi yang berlalu lalang karena semua sedang duduk di kelas nya masing-masing.


"Tau gini mending gw di kelas aja, lama banget lagi ngapain sih di dalam." tak henti-hentinya Jehan menggerutu, bagaimana tidak, ini sudah 15 menit dari waktu Gibran masuk, namun sampai sekarang laki-laki itu belum keluar dari ruang kepala sekolah.


"Dia ini di keluarin dari sekolah apa gimana si" jika saja tidak setia kawan, Jehan sudah pergi sedari tadi meninggalkan Gibran.


"Sorry lama ya, tadi masih di kasih tugas sama bapak kepsek" Jehan menatap Gibran datar, saking kesalnya gadis itu sampai bingung ingin memberi ekspresi seperti apa untuk teman satunya ini. Jehan menghela nafas, gadis itu segera berdiri dari duduknya.


"Udahlah, mending kita ke kelas aja, capek tau nungguin lo." muka Jehan berubah kesal, oh please menunggu itu membosankan.


"Eh bentar" Gibran menarik lengan Jehan membuat gadis itu menghentikan langkah. Tanpa dia sadari tingkah nya itu membuat Jehan kesal.


"Apa lagi, mau ngadain konser disini ?"


"Jangan marah dulu dong, gw cuma mau ajak lo buat keluar nanti." ucap Gibran sambil terkekeh, muka Jehan yang kesal sangat lucu bagi laki-laki itu.


"kemana, ngga mau gw" Jehan menolak, buat apa keluar ngga jelas, mending dia tidur di rumah.


"Elah, ini cari tempat yang bisa di jadikan tempat prakerin buat anak-anak" Jehan mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Bentar lagi kan kelas 10 mau naik kelas, ya mereka pasti akan prakerin juga kan ?"


"Apaan, biarin aja mereka cari sendiri, kenapa juga harus di cariin. Toh dulu kita Praktek Kerja Industri nya juga cari sendiri. Adik kelas ngga usah di manja, harus berjuang dong." Gibran menggelengkan kepala mendengar ocehan teman nya itu.


"Jangan gitu, bagaimana pun juga mereka adik jurusan kita, lagian jurusan lain kelas 11 juga sama kok" Jehan seakan tak puas dengan jawaban itu.


"Ya suruh aja ketua kelas yang berangkat, mereka lebih berhak lagi. Masak kita, kita kan ngga ikut susunan pengurus kelas."


"Udahlah, pokoknya nanti lo ikut gw titik" Gibran menarik lengan Jehan menuju ke kelas mereka, wajah Jehan masih di liputi kekesalan dan rasa tidak terima.


Pulang sekolah, Gibran kembali menarik lengan Jehan menuju kantin. Mereka akan makan terlebih dahulu, sebelum pergi untuk mencari tempat prakerin untuk anak-anak, Gibran melihat Jehan yang sedari tadi masih saja kesal, hanya karena di ajak keliling cari tempat untuk praktek kelas 10.

__ADS_1


"Udah mending lo pesan makan, daripada beli di luar kan, lebih sehat juga makan di sini." Jehan menatap Gibran sinis, sementara yang di tatap acuh seolah tak perduli dengan tatapan tajam yang Jehan berikan padanya.


Memang sedari dulu, Gibran adalah salah satu orang yang tak pernah bisa di intimidasi selain Arga dan Johan. Mereka bertiga seperti satu paket, paling tidak bisa di takuti.


"Lo yang bayarin"


"Iya, beli aja apa yang lo mau, gw bayar semuanya" jawab Gibran.


"Okelah" Jehan mengambil buku menu, gadis itu memilih makanan dan minuman yang dia inginkan.


"Habis ini kita langsung pergi atau pulang dulu" Jehan meletakkan buku menu, ketika sudah selesai memesan pesanan nya. Gadis itu beralih menatap Gibran yang sedang fokus dengan hp nya.


"Langsung aja, Lo bawa jaket kan ?" Jehan mengangguk, setelah makanan datang mereka pun fokus dengan makanan nya masing-masing.


Selesai dari kantin mereka pun berjalan menuju parkiran, Jehan menepuk jidatnya ketika ingat hari ini dia naik mobil.


"gw bawa mobil Bran" ucap Jehan sambil tersenyum menunjukkan gigi nya.


"Ngga bisa ngga bisa, lo aja yang naik mobil gw" Jehan membalas ucapan yang terlontar dari bibir Gibran.


"Trus motor gw, gw tinggal gitu ?" tanya Gibran


"Daripada mobil gw yang di tinggal"


"Gw suruh ambil asisten bokap aja lah, tapi nanti lo antar gw pulang gimana ?" tanya Gibran.


"ya ya serah lo aja maunya gimana" Jehan melenggang pergi menuju mobil nya.


3 jam mereka habiskan untuk pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, seperti penjual komputer, penjual Software dan Hardware dan lain sebagainya. Saat ini Jehan dan Gibran sedang duduk di mobil setelah mengunjungi tempat terakhir yang menjadi pilihan mereka berdua.


"Rumah lo dimana" tanya Jehan tanpa menoleh, karena gadis itu sedang memejamkan mata nya sambil bersandar.

__ADS_1


"Biar gw aja yang nyetir gimana ?" jawab Gibran


"Emang lo bisa nyetir ?" tanya Jehan ragu


"Wah, ngeremehin ya lo, gini-gini gw juga punya mobil di rumah" ucap Gibran ketus, bayangkan saja seorang Gibran yang cool nya seperti ini di tuduh tidak bisa menyetir, bukankah itu keterlaluan.


"Ya ngga papa sih, asal mobil gw ngga lo tabrakin aja"


"Gw ganti kalau nanti nabrak" Gibran jadi sewot mendengar ucapan gadis di samping nya.


"Sombong amat"


"Ya lagian lo takut miskin apa gimana, orang mobil lo di rumah juga banyak"


"Itu punya keluarga gw, gw mah aslinya ngga punya apa-apa asal lo tau"


"Ya tapi kan"


"Udah ngga usah banyak omong, setir buruan udah sore ini" Jehan memotong ucapan Gibran dengan cepat, jika menunggu laki-laki itu bicara yang ada semuanya tidak akan selesai.


Mobil mulai berjalan dengan di setir oleh Gibran, Jehan mengambil handphone nya, dapat gadis itu lihat beberapa chat yang masuk dari mamahnya, rupanya ibunya itu menghawatirkan nya karena dia belum juga pulang, Jehan memijat pelipisnya, sungguh dia tidak kepikiran untuk memberitahu orang rumah jika pulang telat.


Jehan pun membalas pesan itu, mengatakan jika dia berada dalam perjalanan pulang.


"Makasih ya Je, udah anterin gw. Lo mau mampir dulu ngga di rumah gw" Jehan menatap rumah mewah di hadapannya, benar ternyata jika Gibran adalah anak orang kaya, dia pikir Gibran hanya punya rumah minimalis sederhana. Ini sih juga tak kalah dengan rumah milik orang tua Jehan. ?


"Ngga usah deh, lain kali aja. Soalnya udah sore dan nyokap nyuruh segera pulang" jawab Jehan, sambil berpindah ke tempat kemudi, karena Gibran sudah turun dari mobil.


"Ya udah hati-hati di jalan, sekali lagi makasih udah mau di repotin" ucap Gibran sambil terkekeh pelan.


"Oke" obrolan mereka pun terputus, Jehan menjalankan mobil nya keluar dari kawasan rumah Gibran, gadis itu menjalankan mobil dengan kecepatan standar menuju rumah nya.

__ADS_1


__ADS_2