Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Tangisan dalam pelukan


__ADS_3

Saat pulang sekolah tiba, Juna duduk di belakang sekolah bersama Franco. Karena tadi anak itu datang ke padanya karena ingin minta tolong untuk membantu nya belajar pelajaran kimia. Mereka satu kelas jadi Franco jelas tau bahwa Juna adalah murid yang cerdas.


"gimana udah paham" tanya Juna yang baru saja menjelaskan


"oh, iya udah tadi penjelasan dari guru cepet banget jadinya aku keteteran, tapi Jun aku itu orang yang sulit paham kalau hanya dengan sekali penjelaskan. Kalau kamu mau, aku boleh minta tolong mengerjakan pelajaran bareng kamu setiap ada tugas ?"


"boleh, santai aja kita kan satu kelas, ngga papa aku bantu" Franco tersenyum senang, dia melingkarkan satu tangan nya di bahu Juna, sejurus kemudian dia memandang Juna dengan intens.


"aku pernah lihat, kamu deket banget sama Jehan anak kelas 10. Waktu aku bilang pesan kak Hugo pas kamu berada di lab."


"oh itu, aku cuma ngajarin dia ngedesain" ucap Juna menjelaskan


"oh trus pas kemarin ? aku lihat kamu pelukan sama dia di Lab" muka Juna sedikit memerah, dia tersenyum manis saat mengingat kemarin Jehan tidak menolak pelukannya. Senyuman itu jelas di sadari oleh Franco.


Juna bingung harus menjelaskan apa, tidak mungkin kan dia mengatakan jika dia dan Jehan menjalin hubungan. Dia tidak ingin jika ada orang yang tau tentang hubungan mereka.


"bilang ngga, kamu ada hubungan apa sama tu cewe" Franco masih mencoba untuk bertanya, dia sedikit penasaran dengan hubungan antara Juna dan adek kelas nya itu.


"bukan apa-apa kita cuma temen" jawab Juna singkat


"apa iya ?" Juna menghela nafas pelan, teman satu kelas nya itu sungguh sangat sulit untuk di bohongi.


"udah lah Jun, kamu itu terbiasa untuk selalu berbicara jujur, jadi sekalinya bohong kelihatan banget." Franco tertawa melihat wajah Juna yang tertekan


"sebenarnya aku.." ucapan Juna terhenti karena mendengar suara dua siswi yang baru saja lewat, dia berdiri dan segera berlari meninggalkan Franco yang terbengong sendirian di sana.

__ADS_1


"eh Juna tunggu" laki-laki itu pun ikut berlari menyusul Juna


🌿🌿🌿


"coba sekarang ceritakan ke saya, gimana bisa kalian berantem" dua gadis yang sekarang sedang berhadapan dengan guru kesiswaan, mereka hanya diam sambil menunduk, ada luka di tangan dan dahi mereka yang tidak terlalu parah namun mampu untuk membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri. Dan rambut mereka yang berantakan tadi bisa dilihat sehebat apa pertengkaran mereka.


"Jehan pak yang mulai duluan" jawab gadis yang duduk di samping Jehan.


"Jehan kenapa kamu pukul Airin ?" Bapak guru di depannya melihat Airin yang terluka lebih parah, bahkan ada bagian baju gadis itu yang sobek.


"saya juga ngga akan pukul dia kalau dia bisa jaga ucapannya" Jehan menatap perempuan di sebelahnya dengan tajam, ucapan gadis itu tadi membuatnya tersulut emosi. Jehan yang memang lemah dalam mengendalikan diri jelas saja langsung menghadang gadis itu.


"memang benar kok itu faktanya, mamah aku beneran lihat papa kamu pelukan sama wanita lain di luar negeri kalau kamu tidak percaya tanya aja sama papa kamu" Jehan mengepalkan tangannya inggin rasanya dia menampar gadis itu, emosi yang sudah padam kembali berkobar layaknya api yang mampu menghanguskan badan gadis di sampingnya.


"terserah gw cuma bilang apa yang nyokap gw lihat kalau lo ngga percaya ya terserah gw ngga peduli" Jehan mengebrak meja, tidak peduli jika dia akan mendapat hukuman atau poin dia pergi meninggalkan ruang kesiswaan tanpa peduli dengan teriakan guru kesiswaan yang terus berteriak memanggil namanya.


"Jehan" Jehan menoleh ke sampingnya, dia meringis tertahan ketika tangannya di pegang oleh Juna yang datang sabil menatapnya khawatir.


"eh sakit ya, mana aja yang sakit bilang sama kakak" Jehan hanya diam, dia masih di kuasai emosi sehingga mengibaskan tangan Juna tanpa sadar. Gadis itu berlari pergi tanpa peduli pada Juna yang mengejarnya.


Juna menarik lengan Jehan membawa perempuan itu menuju kantin, dia tidak peduli tatapan para siswa yang menatapnya dan Jehan yang sedang bergandengan. Dia terus membawa gadis itu sampai tiba di kantin.


"kenapa luka nya ngga di balut, itu akan sakit jika terkena air" Jehan terus diam membiarkan laki-laki di depannya memeriksa tangannya.


"aku lagi emosi kak, lebih baik kakak pergi dari hadapan aku sekarang" Juna menatap tajam perempuan di depannya yang selalu saja membuat ulah, tidak tau apa se khawatir apa dia tadi.

__ADS_1


"kamu kenapa lagi sekarang, kenapa bisa ribut" Jehan kembali mengepalkan tangannya ketika teringat dengan ucapan Airin teman smp nya dulu yang selalu berusaha menyainginya, dia tidak ingin percaya namun entah kenapa ucapan gadis itu begitu melekat pada pikirannya membuat nya kembali terluka. Dia tidak siap dengan kemungkinan buruk yang mungkin bisa saja terjadi. Namun dia juga ceroboh atas emosi nya yang tadi meluap sampai dia tidak bisa mengendalikannya.


Jehan terisak dia tidak sanggup jika semua pikirannya dan kekhawatirannya selama ini terjadi, dia tidak bisa menerima hal itu. Bahkan musuh Smp nya itu tadi menunjukkan foto yang berisi ayahnya yang dipeluk wanita lain.


Juna menatap gadis itu yang menangis terisak, dia melihat sekeliling nya yang sepi, gadis itu terus menangis. Juna membawa tubuh gadis itu dalam dekapannya, dia ikut terluka mendengar tangisan gadisnya. Satu kelemahan Juna dia tidak bisa jauh dari Jehan dia juga tidak bisa melihat atau mendengar Jehan menangis ataupun terluka.


"ngga, papa bukan orang yang seperti itu. Mereka hanya iri dan tidak suka melihat kebahagian keluarga gw. Gw yakin mereka pengen keluarga gw hancur hiks." Jehan kembali mengingat novel yang selalu dia baca tentang perselingkuhan laki-laki. Tangisannya kembali pecah. Jehan paling benci penghianatan dia tidak bisa menoleransi apapun yang berbau penghianatan.


Juna hanya diam, dia membiarkan Jehan menumpahkan semua kesedihannya, dia membiarkan Jehan terus berbicara mengeluarkan semua beban dalam hatinya.


"ini di minum dulu minumannya tadi baru aja kakak beli waktu nunggu kamu di ruang kesiswaan. Kenapa tadi keluar dengan emosi seperti itu." Jehan sudah mulai tenang, dia menerima air yang Juna berikan. Hatinya terasa panas membutuhkan air yang bisa menghanyutkan rasa panas itu.


"aku ngga papa, aku mau pulang aja kak, aku harus ketemu sama papa" Jehan berjalan menuju pintu keluar kantin di ikuti Juna di belakang nya.


"kamu cuci muka kamu dulu ya, mata kamu merah karena hebatnya kamu nangis tadi. Kakak ngga nyangka kamu cengeng juga." Juna tertawa, dia melihat Jehan yang cemberut sambil menggenggam tangannya erat.


"biarin cengeng, namanya juga cewe"


"iya ngga papa, kamu cengeng aja. Lumayan kan aku bisa peluk kamu haha" Bluss, muka Jehan memerah dia menarik tangannya dengan kasar namun tidak terlepas dari genggaman Juna yang begitu erat. Laki-laki itu tersenyum tipis dan mengusap puncak kepala Jehan.


"kamu pergi sana, kakak oleng terus kalau ada di deket kamu" Jehan berlari dan menutup pintu kamar mandi dengan keras membuat Juna tersentak kaget, laki-laki itu tersenyum tipis sambil mengambil duduk kursi depan toilet.


sedangkan di dalam toilet Jehan memegang mukanya yang memerah, gadis itu membasuh wajahnya menggunakan air.


"kalau gini terus aku beneran bisa suka sama dia issh" Jehan tersenyum tipis, dia nyaman berada di dekat Juna apalagi laki-laki itu selalu ada ketika dia sedih. Entah ini perasaan karena membutuhkan atau cinta yang pasti Jehan merasa nyaman berada di dekat laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2