Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Pencemburu


__ADS_3

Jam istirahat tiba, Jehan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya memilih untuk beranjak. Gadis itu berjalan ke ruangan Hanna dan melihat temannya itu sedang fokus dengan komputer di depannya. Jehan memilih untuk menghampiri temannya itu.


"Kamu sibuk Hanna ?" tanya Jehan sambil duduk di sofa panjang di ruangan Hanna.


"Sebentar lagi, ini masih sedikit" Jehan memilih untuk duduk menunggu temannya itu.


Beberapa menit kemudian Hanna telah selesai dengan pekerjaannya, gadis itu menghampiri Jehan yang duduk sambil memainkan handphone nya.


"Ayo Je, mau kemana ?"


"Kantin, lapar banget"


"Ya udah ayo, tadi aku juga belum sarapan" akhirnya mereka berdua berjalan bersama menuju kantin, kantin terlihat masih ramai karena waktu istirahat. Mereka memesan makanan dan menunggu makanan itu selesai di buat.


"Rame banget" Jehan melihat sekeliling, biasanya kalau ramai begini pesanan mereka akan lama di buat, takut juga jika waktu istirahat mereka habis.


"Ya, seharusnya cari makanan di luar aja si" ujar Hanna sambil menata makanan yang baru saja tiba.


"Tapi kan kamu jarang mengajakku makan di luar" lanjut Hanna, Jehan hanya tersenyum meringis.


Gadis itu mengambil makanan yang dia pesan, menyantapnya tanpa lama. Hanna hanya menggeleng melihat temannya itu.


Mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk makan siang, selepas makan siang mereka pun kembali berjalan berdua ke lantai di mana ruangan mereka berada. Bersenda gurau bersama. Sampai mereka tiba di tangga. Jehan terdiam, senyum yang tadi menghiasi wajah gadis itu sirna berganti dengan raut wajah kesal. Bagaimana tidak kesal jika harus melihat kekasihnya sedang bercanda dan dekat dengan seorang wanita.


Gadis itu berjalan begitu saja melewati Kenzie dan wanita yang pernah dia lihat kemarin. Jehan Bersikap acuh seolah tak melihat keberadaan laki-laki itu. Sedangkan Kenzie yang baru saja di lewati oleh Jehan terdiam, merasa di acuhkan oleh kekasihnya itu.


Dengan cepat laki-laki itu mengejar langkah Jehan yang tak terlalu jauh, lalu menggenggam tangan kekasihnya itu.


"Marah lagi ?" tanya Kenzie sambil melihat mata Jehan, sedangkan Jehan memalingkan wajah nya dari Kenzie.


"Baru bertemu sudah di sambut dengan sikap datar" ucap Kenzie lagi karena Jehan mengacuhkan nya.


"Jehan, kamu di cari bos di suruh ke ruangannya" tiba-tiba muncul seorang wanita cantik yang memutus atensi mereka berdua.


"Iya aku akan kesana, makasih Er" ucap Jehan kepada teman kerja nya itu. Erina mengangguk dan pergi dari hadapan Jehan, sedangkan Jehan memilih untuk pergi ke ruangan Dion, namun tangannya di cekal oleh Kenzie.


"Apa sih" Jehan bertanya pelan.


Kenzie hanya diam sambil menatap matanya, Jehan merasa kesal, gadis itu melepaskan tangan Kenzie dari pergelangan tangannya, namun Kenzie malah menarik nya kuat hingga Jehan menabrak tubuh laki-laki itu. Kini jarak mereka sangat dekat bahkan Jehan dapat merasakan nafas laki-laki itu menerpa wajahnya.

__ADS_1


Lalu tanpa di duga, laki-laki itu menggendongnya ala bridal dan membawa nya pergi, Jehan berteriak karena merasa malu menjadi perhatian karyawan di lantai bawah.


"Kenzie please ngga gini juga, lepas jangan bikin malu"


"Kamu tak bisa di ajak bicara tadi"


"Iya maaf, tapi ngga gini juga caranya" Jehan memohon untuk di turunkan, namun Kenzie menulikan telinganya. Laki-laki itu membawa Jehan memasuki mobil miliknya.


Jehan yang sudah duduk di mobil Kenzie berontak dan membuka pintu untuk keluar, namun tangannya kembali di tarik oleh Kenzie.


"Diam atau aku cium" ucap Kenzie datar, Jehan menurut, perempuan itu duduk manis di tempatnya.


"Bos memanggilku Ken" ucap gadis itu dengan wajah memelas, mencoba mengandalkan bakat drama nya.


"Apa bos mu lebih penting dari kekasihmu ?"


"Tapi aku bisa di pecat kalau tidak patuh"


"Nanti kerja di tempat ku, jangan rumit" Jehan berdecak, percayalah dia merasa teramat kesal dengan sikap laki-laki di sampingnya ini.


Drttt, handphone Jehan berdering, terpampang nama Dion di layar utama. Jehan ingin mengangkat panggilan itu namun Kenzie merebutnya.


"Apa kamu tak melakukan permintaan ku Je ?"


"Aku bahkan belum bertemu dengannya dari pagi tadi, saat aku ingin menemuinya kamu malah bersikap aneh seperti sekarang" Jehan merenggut kesal, Kenzie yang melihatnya akhirnya menyerahkan handphonenya.


"Halo bos ?"


"Jehan kamu di mana, bisa ke ruangan saya sekarang ?"


"Ah iya, 10 menit lagi saya tiba"


"Baik, saya tunggu" Jehan kembali menatap Kenzie.


"Aku boleh pergi kan ?"


"Hem" jawab Kenzie acuh


"Beneran kan, ngga bakal ngamuk ?"

__ADS_1


"Ngga" Jehan menghela nafas lelah, gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Kenzie. Berinisiatif untuk mengecup pipi laki-laki itu.


"Jangan marah"


"Iya, jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain oke" Kenzie mengusap kepala Jehan dan tersenyum lebar kepada kekasihnya itu. Jehan merasa lega karena Kenzie tak lagi marah. Aneh saja tadi dia yang sedang marah, namun kini malah laki-laki itu yang marah.


"Iya, kamu juga jangan dekat dengan wanita lain, aku ngga suka"


"Iya sayang" ucap Kenzie sambil tersenyum.


Jehan turun dari mobil, melambaikan tangannya ke arah Kenzie.


"Sayang coba deh sini deketan, kayanya ada kotoran di rambut kamu"


"Seriusan ?" tanya Jehan, tangannya meraba rambutnya dan mencoba membersihkan.


"Sini biar aku bersihkan" Jehan menurut, lalu gadis itu merasa sesuatu menyentuh dahinya. Kenzie mengambil ciuman darinya.


"Modus banget si" Kenzie tersenyum manis tanpa rasa bersalah.


"Udah masuk sana, nanti bos mu ngamuk lagi"


"Kamu sih yang mulai" ucap Jehan kesal.


Akhirnya gadis itu pergi kembali ke perusahaan, di jalan dia berpapasan dengan wanita yang tadi bersama kekasihnya itu. Wanita itu terlihat sedang mencari seseorang. Sepertinya sedang mencari Kenzie, Jehan memilih acuh dan berjalan meninggalkan wanita itu.


Memasuki ruangan Dion, Jehan berjalan ke arah laki-laki itu dan berdiri di sampingnya.


"Jehan bisa bantu mengecek laporan ini, semuanya tercampur. Laporan itu di gunakan untuk meeting besok"


"Siap bos"


"Bawa saja ke sofa, kamu cek di ruangan ini" Jehan memilih untuk mengangguk saja, gadis itu berjalan ke arah sofa dan mulai membuka semua kertas-kertas yang cukup banyak itu.


Dion menghentikan kegiatannya sejenak, laki-laki itu melirik sekilas ke arah Jehan sebelum kembali fokus dengan layar monitor di depannya.


Maaf jarang update semuanya, Author akhir-akhir ini jarang punya waktu. Makasih untuk dukungan nya semuanya, untuk pembaca setia makasih support nya. Sehat untuk kita semua.


From : Author Anak sakura🙏☺️

__ADS_1


__ADS_2