Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Kembali Bertemu


__ADS_3

Saat mobil memasuki kantor, dan berhenti tepat di parkiran, Jehan segera turun, gadis itu bahkan tak melihat Dion, seolah lupa jika dia baru saja makan siang dengan laki-laki yang menjadi bos nya itu.


Sedangkan Dion yang di tinggal begitu saja, merasa tak terima dan mengejar langkah Jehan. Sontak mereka berdua menjadi sorotan semua mata yang berada di koridor lantai bawah. Seorang bos yang mengejar karyawan.


"Jehan tunggu" saat mendapat kesempatan, Dion segera menarik pergelangan tangan Jehan sehingga langkah gadis itu terhenti.


"Ada apa lagi ya bos ?" tanya perempuan itu sambil menatap datar ke arah bos nya.


"Kamu kenapa sih, kenapa mood kamu jadi buruk gini. Sebenarnya apa yang membuat kamu seperti ini" ucap laki-laki itu sambil tak melepas genggaman tangannya.


"Tidak ada, saya hanya ingin segera bekerja" jawab Jehan


"Kamu melihat sesuatu di resto tadi ?, waktu kita berangkat kita masih fine fine aja"


"Saya juga fine aja kok bos, emang pengen cepet balik ke kantor aja"


"Serius cuma karena itu ?"


"Iya" Dion menghela nafas kasar, laki-laki itu melepas kan tautan tangannya dari pergelangan tangan Jehan.


"Saya permisi dulu bos" Jehan segera berlalu pergi, gadis itu berjalan ke arah ruangannya, Dion menatap itu dengan kosong.


"ck, sebenarnya kenapa si dia" Dion berjalan ke arah ruangan nya, laki-laki itu bingung dengan sikap Jehan yang begitu sulit untuk di fahami.


7 jam terasa amat membosankan untuk Jehan, gadis itu mengemasi semua pekerjaan nya dan berjalan ke luar dari ruangan nya untuk pulang.


Gadis itu memasuki mobil nya, menyalakan mobil dan pergi dari pekarangan kantor. Jalanan tampak ramai dan berdebu, karena siang ini cuaca cukup panas, tidak seperti tadi pagi yang terlihat mendung.


Jehan menghentikan mobilnya di sebuah kedai penjual minuman, gadis itu turun dari mobil dan masuk ke dalam kedai itu.

__ADS_1


Jehan dapat melihat, semua orang nampak sibuk membuat beberapa aneka rasa untuk pembeli, Jehan duduk di salah satu kursi dan melihat handphone nya sembari menunggu.


"Jehan" gadis itu menoleh, bibirnya terukir membentuk sebuah senyuman saat terlihat seorang wanita dewasa berjalan ke arahnya.


"Kamu bener Jehan kan ?"


"Iya ini aku, masa kamu lupa sih"


"Bukannya lupa aku hanya memastikan, udah lama banget kamu ngga kesini Je" ucap wanita itu sambil duduk di hadapan Jehan.


"Iya, maaf ya kak baru bisa datang lagi"


"Santai aja lah, oh ya mana Hanna ?"


"Di kantor kak, dia masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya" wanita itu mengangguk-anggukan kepala nya tanda mengerti.


"Oh ya, kamu mau pesan apa ?"


"Kamu dari dulu sukanya cappucino terus" namun wanita itu tetap mencatat pesanan Jehan.


"Dua ya kak"


"Iya" wanita itu berlalu dan berjalan ke tempat di mana semua karyawan mengerjakan pekerjaannya membuat minuman.


Jehan menunggu sambil berkutat dengan handphone, membutuhkan waktu sekitar 10 menit hingga minumannya jadi, wanita yang di panggil kak oleh Jehan kembali dengan membawa bungkusan plastik yang berisi minuman Jehan.


"Ini punya mu" ucapnya sambil menaruh minuman itu di meja.


"Makasih kak, ini uang nya" Jehan menyodorkan uang 100 ribu untuk kak Raisa.

__ADS_1


"No bawa saja, anggap saja gratis untuk pelanggan pertama"


"Tapi aku kan bukan pelanggan pertama kak ?"


"Ngga papa kakak beri, udah sana kakak mau kerja lagi. Kita ngobrol lain waktu aja ya."


Jehan menghela nafas, akhirnya gadis itu mengalah dan membawa minuman miliknya, kak Raisa adalah kakak senior nya Dalu waktu Jehan ikut organisasi, dan wanita itu memang mempunyai sifat cukup keras kepala.


Bruk


Minuman di tangan Jehan jatuh dan tumpah karena gadis itu bertabrakan dengan seseorang, Jehan mendongak untuk melihat siapa yang menabrak nya, ternyata dia mengenal seseorang itu. Jehan menghela nafas karena kesialan nya hari ini.


Seseorang yang menabraknya adalah laki-laki yang tadi siang membuatnya kesal bukan main. Yang membuat mood nya berubah menjadi sangat buruk hanya karena melihat laki-laki itu dekat dan bersenda gurau dengan wanita lain.


"Lo lagi, kenapa sih setiap ada Lo gw selalu aja sial" Jehan jadi sewot sendiri kan, pasalnya dia jadi kembali teringat dengan kejadian tadi siang. Bahkan saat ini dia sudah mengecap bahwa laki-laki di depannya ini seorang player.


"Sial ? kamu ngga lihat sepatu aku kotor karena minuman milikmu ?"


"Yang nabrak siapa ?" Jehan hampir saja berteriak karena kesal, gadis itu menatap lawan ya tajam seolah mempunyai dendam yang tak terselesaikan.


"okay, I'm sorry though, meski bukan sepenuhnya salahku" ucap laki-laki itu dengan mudahnya, Jehan melotot kesal, dia mengantri minuman itu cukup lama apalagi itu minuman spesial sehingga dia tidak perlu membayar namun kini minuman itu harus tumpah dan dia tidak jadi mencicipi rasa minuman kesukaan nya itu.


"Ganti!!" tekan Jehan sambil menatap tajam laki-laki di depannya.


"Ogah, mending pulang" laki-laki itu berlalu dari hadapannya, dengan cepat Jehan menarik pergelangan tangan laki-laki itu dengan kuat namun laki-laki itu sama sekali tak bergerak malah dia yang jatuh ke dalam pelukan laki-laki itu karena terlalu kuat menarik.


Jehan terdiam dalam posisinya, gadis itu merasakan jantungnya berdebar saat tangan laki-laki itu bertengger di pinggangnya, sedangkan wajah Jehan berada tepat di depan dada bidang laki-laki itu. Bahkan Jehan dapat mencium dengan jelas harum tubuh maskulin laki-laki di depannya.


Gadis itu ingin beranjak dari posisinya namun tubuhnya di tekan di peluk erat oleh laki-laki itu, Kenzie. Ya cuma dua orang yang berani berbuat kurang ajar menyentuh Jehan. Kenzie dan orang yang berada di masa lalu Jehan, Juna.

__ADS_1


"Kalau pengen peluk, tinggal peluk aja, ngga usah gengsi gitulah" gadis itu terdiam mematung, sedikit mendongakkan kepala nya menatap Kenzie yang juga sedang menunduk menatap dalam wajahnya, sekilas Jehan merasa pernah melihat dekat wajah itu, ntah di mana. Namun seolah wajah laki-laki itu sudah tak asing untuknya.


"Apa kita pernah dekat sebelumnya" ucap Jehan sambil menatap dalam-dalam mata Kenzie, Jehan merasa tubuh Kenzie sedikit menegang mendengar ucapannya.


__ADS_2