Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Masalah hati


__ADS_3

"Malam pak" Jehan membuka kaca mobilnya sambil tersenyum ke arah pak satpam yang sedang menjaga gerbang rumahnya, gadis itu mengambil sebuah kantong kresek yang berisi makanan, memberikan makanan itu kepada satpam.


"Untuk bapak" pak satpam itu nampak tersenyum, terlihat antusias saat menerima makanan itu dari Jehan.


"Makasih ya non, non Jehan memang selalu perhatian kepada kami para pekerja" Jehan hanya tersenyum, gadis itu melajukan mobilnya ke kawasan rumahnya, sedangkan pak satpam itu kembali menutup gerbang.


"Woy bangun" Jehan menggoyangkan bahu gadis di samping nya, pasalnya sejak tadi berkendara dia hanya diam menyetir karena temannya itu tidur.


"Udah sampai ya" Hanna mengucek matanya, nampak lucu sekali saat bola mata gadis itu mengerjap , Jehan tak menjawab dan bersiap untuk turun.


"Tunggu lah Je" Hanna buru-buru turun dari mobil mengejar Jehan, namun karena terburu-buru gadis itu tak sadar ketika menabrak batu di depannya nya sehingga membuat tubuhnya jatuh ke menubruk pot bunga.


"Auh, sakit" Hanna terduduk sambil mengusap lutut nya yang memerah, Jehan menggeleng melihat tingkah ceroboh temannya itu.


"Makanya ngga usah lari, rumah gw juga ngga bakal hilang walau Lo gw tinggal" Hanna hanya diam sambil sesekali mengusap lututnya, Jehan membantu gadis itu berdiri, mereka kembali berjalan bersama ke arah pintu rumah.


"Jehan" di ruang tamu mereka berpapasan dengan kakak Jehan, laki-laki itu duduk di sofa ruang tamu bersama dengan macbook miliknya, laki-laki itu seperti nya sedang mengerjakan pekerjaan.


"hai kak" Jehan menghampiri kakak nya, duduk di sofa bersama Hanna, gadis itu mengambil keripik kentang di meja dan menyuapkan ke mulutnya, gadis itu menawari Hanna untuk ikut makan namun Hanna menolak.


"Baru pulang ?" tanya kakak Jehan, Jehan hanya mengangguk dengan mulut yang penuh dengan makanan, gadis itu berlalu ke arah dapur untuk mengambil air minum sekaligus mengambilkan minuman untuk Hanna.


Kini di ruang tamu itu tinggallah Hanna dan kakak Jehan yang menurut Hanna sangat tampan itu, itu adalah sebuah kebenaran, kakak Jehan memang memiliki wajah yang rupawan, copy an dari kedua orang tua Jehan memang begitu tampan dan cantik.


Hanna hanya diam, gadis itu merasa canggung berdua dengan kakak temannya, meskipun sering menginap di rumah Jehan, namun Hanna tetap saja merasa tidak nyaman.


"Diem aja, kamu capek ya" Hanna menoleh menatap kakak temannya yang nampak fokus pada macbook di depannya, namun sedetik kemudian laki-laki itu menatapnya intens. Mungkin menunggu jawaban darinya.


"Ehm, lumayan si kak" Hanna menggaruk telinganya, kebiasaan yang tak pernah hilang sedari dulu saat dia gugup yaitu menggaruk telinganya.

__ADS_1


Nampak Alarick tersenyum membuat jantung Hanna terserang virus, jantung gadis itu berdebar melihat senyum kakak Jehan.


"Udah sering ketemu masih aja kamu gugup dek" Oh Lord tolong, kenapa kakak temannya itu manis sekali, apa tadi "dek ?" rasanya Hanna ingin jungkir balik mendengar kalimat manis itu. Ah gadis itu rasanya ingin menyembunyikan wajahnya yang saat ini mungkin sudah memerah karena salah tingkah.


"Kakak jangan tersenyum" ucap Hanna tanpa menatap wajah Alarick. Laki-laki itu mengernyit mendengar ucapan teman adiknya itu.


"Kenapa ?"


"Ngga kuat, senyum kakak manis banget" Alarick tertawa di buatnya, gadis kecil di depannya ini nampak mengemaskan, rasanya ingin Alarick cubit itu pipi nya.


"Masak ?"


"Hem"


Jehan datang sambil meletakkan dua gelas minuman dingin di meja, gadis itu tampak diam sambil meminum minumannya, memberikan instruksi kepada Hanna untuk mengambil minuman yang telah dia buat untuk gadis itu.


"Makanya cari istri, udah tua ngga nikah-nikah juga. Ngga ada yang mau kapok ntar" ucap Jehan ketus, bayangkan saja kakak nya sekarang sudah 33 tahun tapi laki-laki itu masih melajang. Bahkan punya kekasih saja tidak.


"Biarin aja si, lagian yang mau sama kakak banyak ya. Cuma belum ada yang cocok" ucap kakak Jehan membela diri.


"Alasan"


Hanna hanya diam menjadi pendengar, jujur mungkin ada yang salah dengan gadis itu, namun gadis itu bahagia karena kakak Jehan tidak mempunyai kekasih dan belum menikah sampai sekarang, mungkin saja dia menyukai kak Alarick. Wajar si siapa yang tidak akan terpikat dengan pesona kakak temannya yang kelewat tampan itu.


Heran juga kenapa gadis itu menyukai laki-laki yang jelas-jelas usia nya terpaut jauh dengannya, namun bukankah hati tidak bisa di baca tertuju pada siapa.


"Nanti deh kakak kenalin sama cewek kakak"


"Bohong banget"

__ADS_1


"Ngga serius, kapan-kapan kakak ajak kesini"


"Emang punya ?" Alarick hanya tersenyum kalem, laki-laki itu nampak begitu tenang.


"Udah naik sana, kasihan itu temen kamu kecapekan" Jehan menatap Hanna, gadis itu diam saja sedari tadi. Memang si setiap ada kakak nya gadis itu nampak kalem dan tidak banyak bicara.


"Yaudah aku mau naik ke atas"


"Hem" akhirnya Hanna dan Jehan naik ke atas, Alarick menggelengkan kepala nya melihat adiknya itu yang saat ini tumbuh menjadi gadis cantik.


***


Pagi itu Hanna terbangun karena merasa haus, gadis itu melihat jam di atas nakas yang menunjukkan pukul 1 dini, Hanna merasa sangat haus namun gadis itu tak tega jika harus membangunkan Jehan.


Akhirnya gadis itu memilih untuk turun mengambil minuman sendiri. Jehan memang jarang terbangun tengah malam, sehingga terkadang gadis itu tak menyiapkan air di kamarnya.


Seperti saat ini, Hanna merasa sangat haus, berharap bisa minum air namun ternyata tak ada. Al hasil dia harus turun untuk mengambil air sendiri.


Gadis itu memakai piyama berwarna hitam motif dengan celana panjang, menuruni tangga ke arah dapur untuk mengambil air.


sampai di bawah, gadis itu terdiam saat melihat siluet laki-laki sedang duduk di meja sambil sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya.


Mulanya laki-laki itu tak menyadari kehadirannya, Hanna memilih untuk kembali ke atas, namun langkah nya terhenti saat mendengar suara serak laki-laki yang dia lihat tadi.


"Hanna, kenapa balik ?" gadis itu mencoba menelan ludahnya, demi apa gadis itu tak berani meski hanya untuk membalikkan badan. Merasa dirinya gugup luar biasa.


"Kemari lah" gadis itu menghela nafas pelan, memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri laki-laki itu. Seperti nya laki-laki itu sedang makan, terlihat nasi yang masih banyak di dalam piring.


"Kamu ingin apa heum" jujur setiap mendengar suara kakak temannya itu, jantung Hanna pasti berdetak melebihi batas normal, kata-kata itu begitu lembut membuai perasaan Hanna sampai titik terdalam.

__ADS_1


__ADS_2