
"kakak jahat, kenapa lupain Indah. Indah salah apa kak" gadis kecil itu mulai menitikkan air mata, Jehan merasa tidak tega melihatnya, tangan Jehan terulur untuk menghapus air mata gadis kecil yang masih terlihat menggemaskan itu.
Ibu panti yang melihat itu memilih pergi, menuntun anak-anak yang lain untuk pergi ke meja makan, membiarkan Jehan bersama dengan Indah, salah satu anak asuhnya.
Sejak pertama bertemu, Indah memang sudah sangat menyayangi Jehan, gadis kecil itu sepertinya merasa cocok bersama Jehan, sehingga tidak butuh waktu lama mereka berdua bisa langsung dekat.
Indah adalah tipikal anak yang pendiam, gadis itu tidak banyak bicara, gadis itu bahkan selalu bertanya tentang salah nya, dan tentang mengapa orang tua nya membuangnya sendirian, jujur pertanyaan seperti itu sudah pasti sering menjadi pertanyaan para anak asuh panti tersebut, namun Indah anak asuh satunya itu, selalu terlihat murung, merasa bahwa kehadirannya tidak di inginkan.
Jehan yang lupa akan Indah tentu saja membuat gadis kecil itu sedih, Jehan adalah salah satu orang yang mampu dekat dengan gadis itu, memberikan kenyamanan tersendiri untuk anak seusia Indah. Kehadiran Jehan tentu sangat berarti dalam hidup Indah.
Di ruang tamu, Jehan memeluk Indah yang nampak menangis, mengusap lembut kepala Indah yang bersandar pada dadanya. Saat ini dia berusaha untuk mengerti, jujur jika Jehan tau gadis kecil yang kemarin dia tolak kehadirannya itu serapuh ini, tentu dia tidak akan menolak kehadiran gadis itu.
"apa kakak ngga suka jika Indah deketin, kenapa kak, Indah pengin selalu ada di dekat orang-orang yang Indah sayangi. Tapi kenapa kakak terlihat tidak suka dengan keberadaan Indah" Jehan merasa bersalah mendengar tangisan gadis itu, Jehan terdiam sebentar membiarkan Indah mengeluarkan semua perasaannya. Namun sepertinya gadis itu sudah tidak tertarik untuk berbicara, bahkan gadis itu berusaha turun dari pangkuan Jehan.
__ADS_1
Jehan menggendong tubuh Indah, membawa gadis itu keluar dari rumah panti, Jehan berjalan ke arah taman angin segar langsung menerpa wajah mereka berdua, dimana di sana terdapat halaman luas nan hijau, juga beberapa hewan seperti kelinci dan kupu-kupu. Jehan memilih duduk di bangku yang berhadapan langsung dengan taman bunga yang terawat rapi, memangku tubuh Indah. Suasana cukup menyegarkan, matahari tak terlalu terik di daerah ini, sangat cocok untuk memberikan ketenangan tersendiri. Tidak ada kebisingan, dan tidak ada kepadatan seperti di kota.
Jehan mengusap puncak kepala Indah, sambil menyiapkan kata-kata untuk gadis kecil yang saat ini merasa dirinya tidak di inginkan.
"Indah kamu tau tidak, sejak pertama kakak datang kesini kenapa kakak menghindar, saat itu kakak sedang sakit dek, kakak ngga mau kamu sedih melihat kondisi kakak. Padahal saat itu kakak pengin banget peluk Indah, sejak pertama kali kakak kesini Indah membuat kakak tertarik meskipun saat itu kakak ngga ingat sama Indah. Tapi sekarang kita bisa dekat lagi kan, Indah bisa peluk kakak sepuas yang Indah mau" tangan Jehan terus naik turun mengusap kepala gadis kecil yang saat ini sedang menyandarkan tubuhnya pada tubuh Jehan, sambil menatap ke depan, mendengarkan ucapan Jehan.
"hanya berlaku beberapa jam, setelah itu kakak akan pergi meninggalkan Indah lagi, waktu itu Indah udah seneng banget kakak datang, tapi waktu Indah mau peluk kakak malah menghindar seolah Indah kuman, rasanya sakit kak" Jehan merasa bersalah, ternyata penolakannya dulu membuat gadis ini tersakiti begitu dalam, dan tentu tidak akan mudah melupakan sesuatu yang membuat seorang anak kecil seperti Indah terluka.
"kenapa si Kak, Indah ngga bisa merasakan kasih sayang dalam kurun waktu yang lama, sampai-sampai Indah harus mengemis kasih sayang dari kakak karena kekurangan kasih sayang" hati Jehan terasa nyeri mendengar ucapan Indah, bayangkan saja anak sekecil Indah sudah pandai berbicara seperti itu.
"Indah, kakak tidak pernah merasa seperti itu, maaf ya sudah membuat Indah sedih. Tapi sekarang kita bisa dekat lagi kan. Ngga papa dek kamu manja atau minta apa sama kakak, kakak sayang kok sama Indah, begitupun Ibu Siti, teman-teman Indah, dan semua yang ada di panti ini pasti menyayangi Indah." Jehan berusaha memberi pengertian kepada Indah, harus pelan-pelan memang jika berbicara kepada anak kecil, karena hati mereka itu lembut, dan perkembangan otak mereka yang sedang cerdas-cerdasnya.
"kata-kata kakak akan kalah dengan penolakan yang Indah terima, dari keluarga yang tak pernah Indah tau seperti apa rupanya, dari teman-teman Indah yang mungkin diam-diam menolak keberadaan Indah, sudahlah"
__ADS_1
Jehan bingung ingin menjelaskan bagaimana, Jehan juga bukan gadis yang pintar membujuk, bisa di bilang dirinya adalah gadis yang kaku jika berhadapan dengan anak kecil seperti Indah.
"Indah" Jehan menoleh, nampak ibu Siti datang sambil membawa mangkuk yang berisi makanan, Jehan menghela nafas, semoga saja ibu Siti bisa memberikan pengertian untuk Indah nanti. Jehan juga harus segera pulang karena mengatakan pulang pukul 2 siang. Perjalanan pun menyita waktu sehingga sebelum jam itu Jehan sudah harus pulang, namun Jehan tau mungkin Indah akan kecewa jika Jehan meninggalkannya.
"makan dulu nak, sini sama bunda" Indah bergeming, tetap menatap ke arah depan, terlihat tidak tertarik untuk beranjak sedikitpun.
"kenapa tidak Kak Jehan yang menyuapi" tanya gadis kecil itu, Ibu Siti menghela nafas, merasa tidak enak dengan sikap Indah yang begitu lengket kepada Jehan.
"Kak Jehan nya kan mau pulang nak, sini sama bunda saja" Indah nampak menatap belakang, lurus pada netra Jehan yang hanya diam sedari tadi lalu anak itu nampak turun dari pangkuan Jehan.
"oh" hanya itu yang keluar dari mulut gadis kecil itu, lalu Indah nampak melangkah pergi, Jehan yang melihat itu berusaha mencegah.
"Indah makan nya kakak suapi ya, habis itu kakak pulang"
__ADS_1
"ngga usah, Indah bisa makan sendiri sama teman-teman" anak itu berlari meninggalkan Jehan bersama ibu Siti tanpa menoleh, Jehan menghela nafas, astaga kenapa semua menjadi rumit begini.
"satu Minggu yang lalu ada sepasang orang tua yang ingin mengadopsi Indah, mereka berjanji akan merawat Indah dengan baik, memberikan kasih sayang yang cukup, Ibu sedikit ragu karena mereka sepertinya orang berada, Ibu takut jika mereka menelantarkan Indah sendirian, tapi mereka menyakinkan, waktu ibu setuju Indah yang menolak keras, bahkan gadis itu seharian mengurung diri di kamar tanpa berbicara sama ibu, gadis itu merasa jika ibu sudah tidak menyayanginya lagi." Jehan terdiam mendengar itu, mencoba berfikir tentang semua ucapan Ibu pimpinan panti itu. Mungkinkah Indah merasa di buang oleh Ibu panti, walau yang sebenarnya mereka ingin Indah mendapatkan orang tua pengganti yang menyayangi anak kecil itu.