
Jehan saat ini sedang berada di sofa ruang tamu berkumpul dengan seluruh keluarganya, mama nya itu nampak fokus dengan layar besar di depannya yang menampilkan sebuah film yang masih dalam tahap awal, baru memasuki episode 30 ke bawah, sedangkan papa nya juga sama diam di samping sang istri sambil menyesap kopi di meja. Jehan sendiri nampak fokus dengan macbook mengerjakan tugas sekolahnya, di sampingnya kakak nya sedang duduk manis sambil fokus dengan hp miliknya.
Tak ada niatan sama sekali untuk kakak nya itu membantu nya, padahal sudah tau jika Jehan sedang sibuk mengetik di ketikan macbook. Jehan sendiri pun tak berniat untuk meminta tolong, meskipun dia terkadang tidak mengerti Namun dia akan lebih memilih mencari jawaban sendiri.
"Jehan nanti rencana nya mau kuliah di mana" tiba-tiba mama nya bertanya, Jehan terdiam sambil mengerakkan jari-jari nya di papan ketik dengan cepat.
"Biar kuliah di sini aja lah, papa ngga tega kalau ngelepas dia ke luar" belum Jehan menyahut, papa nya itu sudah lebih dulu berbicara.
"Terserah sih, mau kuliah di mana aja Jehan oke aja" toh pada faktanya, Jehan tidak terlalu antusias soal kuliah, jadi di manapun dia kuliah, itu tidak akan menjadi pertimbangan untuk nya. Asal tempat ya bagus dan oke maka Jehan iyakan.
"Kalau mama sih juga maunya kamu kuliah di Negara ini aja, apalagi kan kamu anak perempuan kami satu-satunya jadi sayang kalau kamu pergi" mama nya berbicara sambil makan cemilan.
"Tapi dulu kakak kuliah di luar, masak Jehan ngga boleh" ucap Jehan dengan mata menyipit, jika memang masalahnya karena Jehan anak perempuan satu-satunya, tapi bukankah kakak nya juga anak laki-laki satu satunya.
"Bukannya ngga boleh sayang, tapi mama pengen nya kamu kuliah di sini aja. Bukannya di sini juga banyak universitas yang bagus" mama nya kembali menyahut.
"Terserah aja sih, lagian aku lulus juga masih 1 tahun lebih. Pikir nanti aja lah" Jehan mengambil macbook miliknya dan berpamitan kepada semua keluarga nya untuk naik ke kamarnya.
__ADS_1
***
Pagi harinya Jehan berjalan di sepanjang koridor sekolah, para siswa nampak berlalu lalang ke luar kelas, Jam pulang baru saja di bunyikan beberapa menit yang lalu. Tapi nampaknya Jehan akan pulang akhir, karena gadis itu mempunyai tugas untuk mengajar ektra musik. Ya Jehan mengikuti Ekstra itu karena terpilih ketika sedang menyanyi di kelas, dan saat ini pun dia masuk grup inti menjadi seorang wakil.
Jehan mengambil berkas yang berada di atas meja, nampak melihat beberapa siswa yang tidak masuk tanpa adanya alasan. Gadis itu mulai bertanya kepada beberapa teman grup inti nya yang tidak sedang mengajari anggota.
"Oh ada beberapa yang tidak masuk, alasannya karena sakit, ada kepentingan dan ada juga yang sekolah tapi ngga masuk." jawab temannya itu, Jehan menghela nafas, sudah berulang kali dia menegaskan jika tidak masuk harus mengirim surat izin. Tapi tetap saja ada yang tidak patuh.
Setelah ekstra musik selesai, Jehan mulai merapikan beberapa barang-barangnya, ruangan musik itu kosong, karena memang semua anggota dan teman-teman Jehan sudah pulang lebih dulu.
Jehan mulai berjalan keluar, koridor sekolah tampak sunyi karena sekolah itu memang kosong, hanya ada beberapa guru yang masih berlalu lalang dan penjaga sekolah yang sedang mengunci ruangan. Jehan melewati jalan yang gelap karena ruang musik memang terletak di belakang dekat ruang praktek tata busana.
Entah siapa yang saat ini sedang membekapnya menggunakan sapu tangan itu, yang jelas Jehan merasa pusing dan tak lama kemudian gadis itu tak sadarkan diri.
Saat membuka mata, yang pertama kali Jehan lihat adalah ruangan yang terlihat seperti kamar yang cukup besar dengan ranjang ukuran standar dan kursi sofa tunggal ada juga lemari kaca dan beberapa buku yang begitu banyak tersusun rapi di rak buku.
Jehan tidak tau saat ini dia sedang berada di mana, dia tidak dapat mengingat apapun karena kepala nya masih terasa sakit. Mungkin saja seseorang yang membekapnya tadi menggunakan obat bius dalam sapu tangan itu.
__ADS_1
Namun yang membuat nya bingung, siapa sebenarnya yang menculiknya dan apa tujuan orang itu, Jehan pikir dia sedang tidak mempunyai musuh atau masalah kepada orang lain.
Jehan bersikap waspada saat mendengar suara pintu yang berusaha di buka dari luar, gadis itu mengambil apapun di dekatnya jika saja ada bahaya yang sewaktu-waktu mengancamnya.
"Sudah bangun ?" muncul seorang laki-laki remaja yang amat sangat Jehan kenal, bahkan mungkin hanya dari suaranya saja Jehan dapat tau siapa laki-laki itu.
"Kamu" wajah Jehan memerah, tangan gadis itu terkepal erat melihat sosok yang amat sangat dia benci berada di hadapannya saat ini.
"Iya memang menurutmu siapa ?" tanya Juna sambil tersenyum, sebenarnya dia merasakan rindu kepada gadis itu namun saat ini dia berusaha untuk menahannya.
"Lepaskan aku" teriak Jehan, dia tidak mengerti kenapa kakak kelasnya itu selalu saja mencari masalah padanya, padahal Jehan sudah cukup bahagia karena akhir-akhir ini tidak bertemu dengan Juna.
"Nanti pasti aku lepaskan. Aku hanya ingin bertemu, besok sudah hari perpisahan. Bisa juga menjadi hari terakhir untuk kita bertemu, aku mau kamu temani aku besok" ucap laki-laki itu masih dengan senyumnya yang lebar.
"Memang kamu siapa sampai aku harus menemani mu, daripada menemani kamu lebih baik aku main sama Fauza." ucap Jehan dengan ketus.
"Oh pacar baru kamu itu, ya ngga papa sih kalau kamu ngga mau. Tapi jangan berharap bisa keluar dari sini sayang" Jehan benar-benar tidak mengerti, Juna yang berdiri di depannya ini lebih menyeramkan dari Juna yang biasannya, laki-laki itu memberikan senyum sinis untuk Jehan yang membuat gadis itu terdiam.
__ADS_1
"Pikirkan terlebih dulu keputusan kamu sayang, jangan sampai kamu terkurung dalam rumah ini seterusnya. Apalagi apa yang aku minta cukup mudah bukan ?" lanjut Juna sambil berlalu dari kamar, laki-laki itu beranjak keluar dan duduk di kursi dapur.
"Kenapa lupain kamu begitu sulit Je" Juna menumpukkan kepala nya di atas meja, jika cinta sesakit ini dia tidak akan mau rasanya jatuh cinta, cinta nya kepada Jehan sangat dalam sehingga membuatnya terluka, meskipun Jehan membencinya karena tidak ingat dia siapa. Namun tetap saja dia merasa terluka.