Di Antara Perbatasan Senja

Di Antara Perbatasan Senja
Berkunjung Ke Panti


__ADS_3

Jehan berjalan ke arah dapur, gadis itu melihat bibi yang sedang menata makanan.


"non Jehan sudah siap ?" tanya bi Sumi, Jehan mengangguk, dia sudah rapi dengan kemeja lengan panjang dan celana biru tua. Hari ini gadis itu memilih untuk mengendarai mobil sendiri. Entah kenapa keinginan itu tiba-tiba muncul begitu saja. Jangan remehkan seorang Jehan membawa mobil, walau habis kecelakaan gadis itu masih tetap bisa membawa mobil, hanya saja gadis itu trauma akan motor dan tidak ingat bahwa dia jago berkendara menggunakan motor.


"mau ke panti Je ?" mama nya menghampiri, Jehan mengangguk sambil membawa beberapa plastik berisi bungkusan nasi itu ke luar, untuk di taruh di bagasi mobil.


"mama ngga ikut dulu ya, soalnya mau ada acara" Jehan hanya mengangguk, gadis itu paham jika mama nya sibuk, Jehan keluar meletakkan makanan itu di bagasi lalu menghampiri mama nya untuk pamit.


"Je berangkat dulu ma, mama ada yang mau di beli nanti biar sekalian Je bawain" Jehan mencium punggung tangan Mama nya sambil memberi kan tawaran.


"ngga ada si, kamu pulang jam berapa ?" tanya mama Jehan


"ngga tau si mungkin jam 2 juga udah pulang" jawab Jehan


"yaudah Je berangkat dulu ya ma, assalamualaikum" Jehan melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam mobil miliknya.


"HATI-HATI" Teriak mama Jehan, Jehan hanya mengangguk, mobil mulai keluar dari gerbang, mama Jehan hanya menghela nafas, mau dia melarang Jehan untuk pergi sendiri pun tak bisa, putrinya itu terlalu keras kepala.


Jehan mendengarkan musik dengan volume standar, tujuan gadis itu adalah panti yang berada di pinggir kota, itung-itung sambil menenangkan pikiran pikirnya. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung, mama nya mengatakan jika sudah hampir 2 tahun dia tidak berkunjung ke panti itu, untung setelah koma papa Jehan membawa Jehan kesana untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Waktu pertama kali kesana, Jehan benar-benar lupa akan apapun, namun sikap para warga panti yang baik dan terbuka membuat Jehan merasa nyaman, semoga saja kali ini dia tidak akan tersesat.


Jehan berhenti di sebuah mall, membeli buah, Snack, dan beberapa makanan tambahan. Setelah semua makanan memenuhi bagasi mobil, Jehan kembali mengendarai kendaraan nya. Setelah menempuh waktu selama hampir 2 jam, kini mobil Jehan telah masuk ke pagar sebuah panti yang lumayan besar.


Jehan turun, dan menyuruh beberapa bapak-bapak yang bekerja di panti itu untuk membantu membawa makanan yang dia beli dan bawa. Beberapa ibu panti yang bertanggung jawab atas panti itu menyambut Jehan dengan hangat, setelah semua barang di bagasi Jehan pindah ke rumah panti Jehan pun berterimakasih kepada bapak-bapak itu. Tak lupa juga Jehan memberikan makanan kepada bapak-bapak tersebut.


"nak Jehan selalu saja repot-repot, membawa makanan sebanyak ini" Ibu pimpinan panti itu datang bernama ibu siti, nampak melirik makanan yang begitu banyak di bawa Jehan.


"ngga papa Bu, Jehan juga udah lama banget kan ngga pernah nengok" Jehan tersenyum sambil menyalami para wanita yang berhati mulia itu.


"ayo masuk dulu nak, biar di buatkan minuman, anak-anak sedang belajar belum waktunya istirahat saat ini" Jehan mengikuti ibu Siti berjalan ke arah ruang tamu yang begitu luas, duduk di sofa bersama ibu Siti sedangkan ibu pengurus yang lain tampak pergi, mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


"sama-sama nona geulis" lagi Jehan tersenyum, sikap ibu-ibu panti yang baik dan ramah menjadi poin plus Jehan merasa nyaman di lingkungan ini, selain karena itu, di daerah ini cuaca nya nampak sejuk, siapapun akan merasa nyaman untuk tinggal di daerah ini.


"nak Jehan gimana sudah tidak merasa sakit lagi, saya takut karena nak Jehan sudah lama tidak kesini sendiri" ucap Bu Siti, Jehan meletakkan minuman yang baru saja dia minum ke atas meja.


"Alhamdulillah Bu, akhir-akhir ini kepala Jehan tidak merasa sakit, semoga saja tidak akan terasa sakit lagi. Doakan saja semoga Jehan segera pulih biar bisa sering-sering kesini" jawab Jehan sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, nak Jehan adalah orang yang baik, kami semua disini pasti mendoakan yang terbaik untuk nak Jehan agar segera sembuh. Waktu itu kita semua sedih karena nak Jehan terlihat tidak mengenal kami. Bahkan Indah sampai menangis karena nak Jehan tidak mengenalnya" Jehan tersenyum, jujur dia masih belum mengenal anak kecil yang waktu itu menangis keras karena Jehan menjauhi nya. Bukan maksud untuk menjauh tapi saat itu Jehan benar-benar tidak mengenal anak kecil berumur 5 tahun itu.

__ADS_1


"iya Bu, Jehan akan mencoba dengan pelan-pelan, karena jika di paksakan Jehan merasa kan sakit nanti" ucap Jehan


"iya ngga papa nak, kita juga ngga maksa, yang terpenting adalah kesehatan nak Jehan" jawab ibu Siti sambil tersenyum.


Obrolan mereka terhenti, ketika mendengar suara berisik dari luar, disusul oleh beberapa anak yang datang menghampiri mereka dengan tawa khas anak-anak. Jehan tersenyum ketika para anak itu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Namun ada satu anak yang terdiam di depan pintu dengan mata yang terlihat sedih.


"anak bunda sini sayang" ibu Siti tampak melambaikan tangan ke arah anak itu, anak perempuan yang berusia sekitar 6 tahun itu datang dengan wajah lesu, nampak melirik Jehan namun itu hanya sebentar tidak berlangsung lama.


"assalamualaikum bunda" anak itu mengecup telapak tangan bunda nya, tapi tidak juga menghampiri Jehan untuk mengecup tangan Jehan.


"Salim dulu nak sama kakak Je, apa ngga kangen hem" ucap ibu panti lembut. Anak itu diam terlihat engan untuk menghampiri Jehan yang telah melupakannya.


"Indah" Jehan memanggil gadis kecil itu, gadis itu tetap diam sambil terus menunduk. Jehan berdiri menghampiri anak yang memang sejak melihatnya nampak sedih itu.


"Indah ngga kangen sama kakak" Jehan mengusap lembut kepala anak itu yang tertutup oleh hijab, mengangkat kepala gadis itu yang terus menunduk yang ternyata mencoba menyembunyikan mata nya yang sudah berkaca-kaca ingin menangis.


"Indah kangen" anak itu berbicara dengan lirih, dengan mata nya yang berkaca-kaca, Jehan mengangkat anak kecil itu dalam gendongannya, lalu duduk dan memangku tubuh Indah.


"kenapa nangis hey" Jehan mengusap lembut wajah mungil gadis kecil yang bernama Indah itu. Meskipun ingatannya hilang, Jehan tidak ingin ada yang menangisi nya apalagi itu anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2