
Setelah selesai dengan makanannya, Kenzie beranjak ke kamarnya, laki-laki itu harus bersiap untuk ke kantor. Dengan menggunakan kemeja berwarna putih dengan Jaz berwarna hitam sebagai style nya hari ini, laki-laki itu keluar dari kamarnya.
Kenzie masuk ke dalam mobil miliknya, laki-laki itu ada pertemuan penting dengan klien nya untuk membahas kerja sama. Laki-laki itu merasa bersyukur karena bisa seperti sekarang, bahkan mempunyai perusahaan yang berdiri karena tangannya sendiri. Tetapi lelaki itu tetap merasa bersyukur karena tanpa orang tua Gibran dia tidak akan mempunyai pengalaman dalam berbisnis sebaik ini.
Mobil milik Kenzie memasuki sebuah gedung besar dengan tinggi yang tak jauh dari gedung pencakar langit. Di depan pintu laki-laki itu di sambut oleh sang asisten dan mereka memasuki ruangan yang akan di jadikan tempat meeting kali ini.
Kenzie terdiam di tempat nya, laki-laki itu melihat semua orang yang ikut dalam meeting kali ini, laki-laki itu sedikit menajamkan tatapannya saat melihat dua orang yang duduk di seberangnya. Itu adalah Jehan duduk di samping Dion. Sial!!
Kenzie merasa mood nya berubah menjadi buruk saat melihatnya, namun laki-laki itu berusaha untuk bersikap profesional.
Selesai meeting Kenzie langsung keluar ruangan di ikuti asistennya, laki-laki itu bahkan tak berpamitan kepada Dion yang menjadi partner, karena dia sendiri tidak tau bahwa yang menjadi partner nya dalam projects kali ini adalah Dion.
"Panggil Gibran, suruh dia ke ruangan ku" ucap Kenzie kepada sang asisten, laki-laki itu langsung masuk ke dalam ruangan nya, menghela nafas kasar, laki-laki itu mencoba untuk mengendurkan dasi nya yang terasa mencekik leher.
Kembali teringat di ruang meeting tadi, di mana bahkan Jehan tak menghiraukannya sama sekali, dan itu menyakiti hati nya. Baiklah sekarang laki-laki itu kembali teringat di mana orang tua Jehan berkata akan menjodohkan Jehan dengan Dion dan itu membuat otak Kenzie kembali panas.
Sambil menunggu kedatangan Gibran, Kenzie memilih untuk melihat layar komputernya, mungkin memang otak nya itu harus di gunakan untuk berfikir agar tidak terus mudah emosi. Ketukan di pintu membuat laki-laki itu secara refleks bersuara.
"Masuk" ucap nya.
Pintu terbuka menampakkan tubuh laki-laki tinggi tegap yang berjalan sambil tersenyum ke arahnya, nampaknya bukan hanya satu orang karena di belakang laki-laki itu terlihat seorang wanita dewasa cantik dengan tubuh seksi berjalan ke arahnya, bahkan wanita itu mendahului langkah Gibran.
__ADS_1
"Hai Ken" wanita itu memeluk tubuhnya dengan erat, Kenzie terdiam seolah sudah terbiasa dengan perlakuan itu.
Mata Kenzie tertuju pada Gibran yang masih tersenyum kepadanya, laki-laki itu menatap Gibran dengan tajam, karena bukannya datang sendiri laki-laki itu malah mengajak seseorang.
"Kamu diam aja, ngga kangen sama aku ?" ucap wanita itu dengan nada manja, Kenzie menghela nafas dan menatap wanita itu serius.
"Sedikit" ucap Kenzie, wanita itu mendengus kesal.
"Padahal aku begitu merindukanmu, tapi sepertinya kamu tidak" ucap wanita itu dengan raut wajah sedih.
"Berhentilah berbicara yang tidak-tidak, sekarang aku tanya kenapa kamu bisa ada di sini bersama Gibran ?" tanya Kenzie serius, padahal tujuan awalnya adalah ingin memarahi Gibran yang menerima kerjasama dari Dion tanpa memberitahunya, namun karena kehadiran wanita itu Kenzie memilih untuk tidak memarahi laki-laki yang sudah dia anggap keluarga nya itu.
"Hem, aku tadi menelfon mu tapi kamu tak mengangkat panggilan dari ku, saat aku menanyakan keberadaan mu pada Gibran, dia bilang kamu sedang sibuk di perusahaan. Makanya jadi Gibran yang menjemput ku" ucap wanita itu, wanita itu duduk di meja sambil menatap Kenzie, paha wanita itu terekspos sempurna karena hanya menggunakan dress pendek selutut.
***
Saat ini Jehan berada di mobil yang sama dengan mobil Dion, mereka berangkat bersama ke kantor klien karena laki-laki itu memaksa nya untuk berangkat bersama.
Semenjak perbincangan tentang perjodohan mereka di ucapkan sang mama laki-laki yang menjadi bos nya itu semakin berani untuk menunjukkan perhatiannya. Padahal Jehan berfikir jika ini adalah perjodohan dan yang pasti Dion juga tak menyukainya sama seperti perasaannya.
Namun ternyata dia salah, karena perhatian laki-laki itu nampak lebih seperti seorang bos kepada bawahannya, meskipun sikapnya masih dingin jika menyangkut pekerjaan, tapi jika di luar pekerjaan laki-laki itu pasti akan menunjukkan kuasa nya.
__ADS_1
Seperti tadi pagi, laki-laki itu menjemputnya ke rumah, padahal Jehan sudah mengatakan ingin naik mobil nya sendiri namun laki-laki itu memaksa nya untuk ikut.
Saat waktu pulang kantor tiba laki-laki itu kembali mendatangi ruangannya, dan mengatakan jika mereka akan pulang bersama.
"Aku rasa aku ingin main bersama Hanna, jadi biarkan aku pulang sendiri" ucap Jehan yang pada faktanya hanya membual, gadis itu tak ingin terus bersama dengan bos nya itu, Jehan masih merasa canggung untuk berdua saja dengan laki-laki itu.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, jadi ku mohon jangan terus mencari alasan" ucap laki-laki itu sambil menatap nya tajam.
"Tapi aku benar-benar ingin bersama Hanna" jawab Jehan dengan wajah lelah, kenapa Dion semakin gencar mendekatinya, tidak taukah jika dia sedang tidak ingin berdekatan dengan siapapun.
"Masih ada hari esok kan ?" tanya laki-laki itu yang mampu membuat Jehan bungkam.
"Aku hanya minta waktu mu, apakah itu juga tidak bisa kamu berikan ?" Jehan memijat pelipisnya, baru satu hari dia sudah di buat tidak nyaman seperti ini.
"Ingat kata mama kalau kita harus semakin dekat" laki-laki itu menarik pergelangan tangan Jehan untuk mendekat, Jehan hanya pasrah, wajah gadis itu nampak lesu karena gagal untuk menghindar dari Dion, laki-laki itu menggenggam tangan nya erat dan menarik nya keluar dari kantor.
Mereka memasuki parkiran, laki-laki itu dengan tulus membuka pintu mobil untuk Jehan, Jehan hanya menurut dan masuk ke dalam mobil itu, Dion masuk dan menatap wajah Jehan yang murung, bahkan gadis itu hanya diam dan menatap ke arah jendela.
Karena Jehan terus diam, Dion mendekat ke arahnya, laki-laki itu menatap wajah Jehan yang menatapnya dengan pandangan seperti orang bingung, laki-laki itu hanya memakaikan sabuk pengaman karena Jehan tak memasangnya tadi.
"Makanya jangan cemberut terus" ucap Dion sambil mengusap rambut halus Jehan.
__ADS_1