
"yang bikin kakak kesel siapa ?"
"Ya aku, tapi aku kan ngga suka di cuekin"
Drtt, handphone yang berada di saku Jehan berdering, gadis itu melihat siapa yang menelfon nya. Ternyata sang mama yang menelfon. Lalu gadis itu mengangkat nya telfon yang masih berdering itu.
"iya ma, ada apa tadi telfon" Jehan bertanya kepada mama nya saat sambungan terhubung.
"kamu dimana Je ?" tanya mama nya di seberang
"Jehan lagi di luar ma, ada perlu apa ?" tanya Jehan balik, jarang mama nya bertanya dia berada di mana. Karena terkadang pun Jehan pulang sekolah paling akhir jam 4 sore. Sedangkan sekarang Jam masih menunjukkan pukul 3.
"pulang jam berapa, tadi kok motor kamu ada di Johan, kamu naik apa nanti pulang nya" tanya mama nya lagi, Jehan mengernyit bingung bagaimana bisa mama nya tau jika motornya di bawa oleh Johan.
"sebentar lagi juga pulang kok ma, iya tadi Je ada perlu jadi motornya Je suruh bawa Johan pulang" jawab Jehan, di seberang sana mama nya terlihat menghela nafas pelan, sebelum kembali menjawab ucapan putrinya.
"nanti pulang nya naik apa, perlu di jemput ngga ?" Jehan berfikir sebentar, setelah di pikir-pikir mungkin dia akan naik taksi saja, kasian juga jika minta jemput.
"ngga usah ma, Je naik taksi aja nanti"
"ya udah hati-hati ya di jalan" Jehan mengangguk walau mama nya tidak melihatnya, lalu gadis itu kembali menaruh handphone nya di saku saat panggilan mati.
__ADS_1
"mau pulang ?" tanya Juna, Jehan mengangguk
"aku pulang ya kak" Jehan berpamitan kepada Juna
"mau kakak temani ?" Ucap Juna, Jehan menggeleng
"ngga usah, aku juga udah pesan taksi" Jehan berdiri saat taksi sudah datang, Jehan melambai ke arah Juna, lalu gadis itu masuk ke dalam mobil taksi itu.
saat tiba di rumah nya, Jehan pun memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi itu, lalu turun dari mobil, dia sempat mengangguk saat pak satpam menyapanya. Lalu gadis itu melangkah ke arah rumah.
"ma, pa" Jehan menghampiri orang tuanya saat melihat mereka duduk di ruang tamu, gadis itu duduk di samping mama nya setelah mengecup kedua tangan orang tuanya. Dia bertanya kepada mama nya kenapa menyuruhnya untuk segera pulang.
"ma" belum selesai Jehan berbicara dia merasakan ada yang menutup matanya, Jehan meraba punggung tangan yang menutup kedua matanya, gadis itu mencoba untuk melepaskan, setelah tangan itu berhasil terlepas dari matanya dia pun menoleh ke belakang.
"kakak" Jehan berdiri, dia menatap kakak nya yang tersenyum manis ke arahnya, Jehan menghampiri kakak nya, menubruk tubuh kakak nya itu dan memeluk erat tubuh kakak nya.
"adik kakak udah gede aja, kakak kangen banget sama kamu Je" Jehan terdiam, dia terus memeluk kakak nya, teramat sangat merindukan laki-laki itu karena sudah lama terpisah.
"Je juga kangen sama kakak, udah puas ninggalin Jehan ?" kakak nya tertawa, sedangkan Jehan menekuk wajahnya, kedua orang tua Jehan ikut tertawa dengan tingkah kedua anak nya itu.
"kakak ngga ninggalin tau, kan kakak harus kerja Je" dapat Jehan rasakan usapan di kepala nya, kakak nya itu mengusap kepalanya dengan sayang, ini lah yang membuat rasa sayang Jehan teramat besar untuk laki-laki itu. Laki-laki itu begitu menyayanginya, walau mungkin sifatnya sedikit dingin namun demi apapun, jika kepada Jehan laki-laki itu jarang marah. Kecuali jika Jehan melakukan sesuatu yang tidak Kakak nya suka baru laki-laki itu akan marah kepadanya.
__ADS_1
Jehan sendiri sebenarnya tidak suka di atur, kepada kakak nya itu pun kadang dia suka membantah. Sehingga dia sulit untuk bisa seperti Kakak nya, kakak nya itu teramat pintar, selalu bisa menjadi kebanggan orang tua, sedangkan Jehan ? boro-boro menjadi kebanggan, dia tidak mempunyai otak seencer kakak nya dan mempunyai sikap se rajin kakak nya itu. Mungkin dulu waktu dia masih bayi kepala nya pernah terbentur sesuatu sehingga menjadi bodoh dan sulit diatur.
Namun bagaimana pun seorang Jehan, orang tua nya tidak pernah sekalipun membedakan mereka, semua mendapat perhatian dan kasih sayang yang sama. Bahkan kakak nya terkadang sangat posesif kepadanya, melarang berhubungan dengan siapapun sebelum benar-benar mengenal orang tersebut.
"makan tu uang kerja, untung selama kakak ngga ada Jehan jadi anak manis yang nurut sama orang tua, coba kalau Je masih sama seperti dulu. Sudah pasti papa dan mama tertekan karena kakak ngga ada" kakak nya tersenyum, Jehan kembali duduk di sofa. Kakak nya itu ikut duduk di sampingnya.
"ya baguslah, kamu juga udah gede, harus bisa bedain mana yang baik dan engga buat kamu. Bisa tau mana yang menguntungkan dan merugikan kamu. Lagian ingat Je masa depan kamu itu ada pada diri kamu sendiri. Kejar impian kamu sendiri karena kakak, papa dan mama ngga akan membantu kamu sedikitpun, kalau kamu mau berhasil ya berusaha saja sendiri." Jehan berdecak, dia melirik sinis ke kakaknya, lihat saja Jehan seperti tidak mempunyai keluarga, kedua orang tua sekaligus kakak nya itu tidak pernah memanjakan nya. Jika dia menginginkan sesuatu maka dia harus berusaha untuk mendapatkan itu. Keluarga nya hanya memberikan dukungan saja.
"Je tau, itu juga semua karena rencana kakak kan. Jika pun nanti Je hanya berhasil jadi tukang parkir maka Kakak ngga boleh malu. Kan kakak sendiri yang bilang jika Je harus berusaha sendiri. Jika Je hanya mampu jadi tukang parkir maka Kakak harus bisa terima." Je berbicara dengan nada bercanda, tapi kakak nya terlihat serius menangapi ucapannya, laki-laki itu terlihat mengangguk-anggukan kepala seperti orang yang sedang berfikir.
"iya ngga papa kakak ngga malu biarpun kamu jadi tukang parkir" Je melepaskan sepatu nya, ingin melemparkan sepatu itu ke arah kakaknya namun urung saat kakak nya berlari ke arah dapur.
Jehan menghela nafas, mencoba agar tidak terpancing oleh tingkah menyebalkan kakak nya. Gadis itu menuang minuman ke gelas lalu meneguknya.
"harus sabar Je, kamu kaya ngga tau aja tingkah usil kakak mu itu" Jehan merenggut, dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Je ke kamar aja dulu pa, ma mau ganti baju. Baru dari luar ini banyak virus" orang tua nya mengangguk, Jehan berdiri dan berjalan ke arah kamar, gadis itu berpapasan dengan kakak nya yang tersenyum ke arahnya, dia masih kesal dengan Kakak nya itu.
Saat akan melanjutkan langkah nya, kakak nya itu menarik baju nya bagian belakang sehingga Jehan tertarik ke belakang. SIALAN.
"KAKAKKK!!" Kakak nya itu tampak tertawa dengan kencang Jehan cemberut gadis itu menendang udara di depannya karena kesal.
__ADS_1